Selasa, 07 Februari 2012

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

1) Apa yang yang dimaksud dengan pelanggaran yang tidak bersifat substansial dan pelanggaran yang bersifat substansial beserta contohnya ?

1. Pelanggaran yang tidak bersifat substansial
Terhadap pelanggaran yang tidak bersifat substansial ini masih dapat dilakukan legalisasai. Yaitu Pemerintah harus memerintahkan kepada orang yang bersangkutan untuk mengurus IMB.
Bila orang tersebut, stelah diperintahkan dengan baik, tidask juga mengurus izin, maka Pemerintah dapat menerapkan bestuursdwang yaitu dengan pembongkaran.
 Contoh :
A tanpa izin mendirikan bangunan, badan tata usaha negara dapat mempertimbangkan pelaksanaan bestuursdwang yaitu pembongkaran, dengan cara menelusuri dahulu apakah masih dapat diberi izin mendirikan bangunan atau tidak.
• Misalnya : pendirian bangunan – bangunan liar.

2. Pelanggaran yang bersifat substansial
Dalam hal ini orang yang bersangkutan sudah mengurus IMB nya tetapi orang tersebut membangun bangunannya di tempat yang tidak sesuai dengan tata ruang atau rencana peruntukan (besteming) yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
 Contoh :
 Seseorang membangun rumah di akawasan industri.
 Seorang pengusaha membangun industri di daerah pemukiman penduduk.
2) Dalam hal apa saja diterapkan sanksi yang berkaitan dengan penarikan kembali keputusan yang menguntungkan ?

 Keputusan yang menguntungkan yaitu keputusan itu memberikan hak – hak atau memberikan kemungkinan untuk memperoleh sesuatu melalui keputusan itu memberikan keringanan beban yang ada atau mungkin ada.
 Dalam hala apa saja kaputusan yang menguntungkan dapat diterapkan.
a) Apabila terjadi pelanggaran Undang – undang yang berkaitan dengan izin yang dipegang oleh sipelanggar.
b) Pelanggaran terhadap peraturan atau syarat – syarat yang dilekatkan pada penetapan tertulis yang telah diberikan.

PANEN DAN PASCA PANEN CENGKEH

PANEN
Masing-masing daerah waktunya tanaman berbunga itu tidajlah sama. Hal ini sangat tergantung pada keadaan iklim setempat, tinggi tempat dan factor-faktor lain yang sangat bersar pengaruhnya. Maka mulai berbunga dan waktu pemungutannya pun tidak sama.
• Di Sumatera : tumbuh kuncup bunga antara bulan Oktober – November maka musim panennya sekitar bulan April – Juni
• Di Jawa : Tumbuh kuncup bunga antara bulan November – Januari maka panennya jatuh pada bulan Mei-Juli
• Di Maluku : Tumbuh kuncup bunga antara bulan Mei-Juli dan waktu panennya pada bulan Oktober _ Januari

Waktu Pemetikan
Di atas telah dijelaskan bahwa waktu cengkeh berbunga itu disetiap daerah tidak sama. Maka sebagai gambaran, di bawah ini diketengahkan masa-masa berbunga atau panen yang berbeda.
• Pada umumnya cengkeh berbunga itu di Indonesia itu satu tahun sekali, demikian pula waktu panennya. Walaupun waktu panen itu makan waktu minimal tiga bulan, lebih-lebih bila luas arealnya luas, panennya tidak cukup 3-4 bulan. Tanaman yang normal setelah umur 15-20 tahun bisa menghasilkan sekitar 3 kg per pohon. Ini adalah merupakan suatu perhitungan yang normal. Memang sering dialami ada pohon yang menhasilkan lebih dari 5 kg cengkeh kering tiap pohon, tetapi pada suatu ketika ada pohon yang sama sekali tidak berbuah sesuai dengan siklusnya. Jadi perhitungan secara normal adalah diambil rata-ratanya saja.
• Di Malagasi juga hanya ada satu musim panen yang pendek saja yakni musim kemaraumulai pertenghan Oktober hingga Desember yang berarti satu tahun hanya satu musim berbunga.
• Di Zanzibar, terdapat dua musim berbunga yang berarti dua musim panen yaitu, panen besar mulai Juli-September dan panen kecil musim November-Januari. Produksi pertahun rata-rata 3 kg tiap pohonnya.
Perbedaan tingkat pemasakan bunga, waktu panen, tepatnya waktu pemetikan dan teknik pengolahan hasil akan menyebabkan kualitas hasik yang berbeda pula. Sedang di daehah penghasil cengkeh yang musim kemaraunya bersamaan, tetapi berlainan lokasinya, maka musim panennya juga berbeda. Juga pengaruh pola hujan, temperature dan tinggi tempat pertanaman akan membawa pengaruh yang berbeda pula.
Oleh karena itu, pemetikan harus dilakukan pada tingkat kemasakan yang tepat yakni pada waktu bunga berwarna pucat yang sebelumnya itu berwarna hijau, kemudian menguning akhirnya keunguan muda dan merah tua. Saat yang paling bagus adalah pada saat kepala buah yang terdiri dari mahkota bunga masih tertutup dan bundar bentuknya, berisi dan megkilat. Apabila bunga itu warnanya menjadi merah muda berarti sebentar lagi akan membuka.
Jika pemetikan dilakukan terlalu awal, maka akan menghasilkan cengkeh kering yang keriput, berat rendemennya sangat kurang, kadar minyak kurang sehingga harganya pun rendah. Sedangkan jika pemetikannya terlambat misalnya bunga banyak yang mekar akan meghasilkan cengkeh kering yang tidak berkepala sehingga ruas dan aromanya sangat berkurang. Itulah sebabnya, maka pemetikan cengkeh harus dilakukan pada waktu yang tepat . pemetikan biasanya dilakukan setelah ada beberapa bunga yang membuka dalam pohon itu, misalnya ada 2-3 yang sudah membuka.


CARA PEMETIKAN
Bunga cengkeh yang sudah tua atau masak untuk dipungut jangan dibiarkan sampai mekar. Sebelum dilakukan pemetikan, dibawah tajuk pohon harus dibersihkan terlebih dahulu, maksudnya bila ada bebrapa bunga yang jatuh diwaktu pemetikan mudah dipungut. Adapun cara pemetikannya tergantung keadaan tanaman itu sendiri
• Apabila tanaman itu belum tinggi, pemetikan dapat dilakukan cukup dengan berdiri mengelilingi pohon yang paling bawah. Selanjutnya kalau pohon agak tinggi dapat menggunakan kait supaya lebih mudah.
• Kalau tanaman sudah cukup besar dan tinggi, lebih baik menggunakan tangga yang berkaki tiga, tangga itu mudah dipindah-pindahkan.
• Pada pohon yang sangat besar, yang umumnya lebih dari 25 tahun pemetikannya bisa dilakukan dengan memanjat pohon dengan menggunakan kait sebab rantingnya dapat ditarik dengan kait itu sehingga memudahkan pemetikannya. Tapi pekerjaan ini hanya dapat dilakukan pada ranting-ranting yang dekat dengan btang pokok. Yang lebih sulit batang sudah tinggi dan besar. Maka untuk keperluan ini, pada sekitar pohon itu harus diberi tiang dari bamboo, diberi palang-palang dan diikat kuat-kuat sehingga bisa dipergunakan untuk memnjat dengan demikian pemungutan dapat dilakukan lebih mudah. Sebagaimana diketahui bunga cengkeh itu terdapat pula pucuk-pucuk ranting yang jauh dari batang atau cabang, maka pemungutannya harus pandai jangan sampai merusaknya.
Alat yang diperlukan untuk panen cengkeh antara lain karung berukuran kecil atau keranjang bamboo dan karung besar. Apabila sudah tinggi dan kita tidak dapat menjangkau dengan tangan, maka diperlukan tangga segitiga berkaki empat. Pemetikan yang lazim dilakukan yaitu dengan jalan mematahkan rumpun bunga pada bukunya sehingga sepasang daun akan ikut terpetik. Tetapi cara demikian sebenarnya kurang baik, sebaiknya yang dipetik hanya tandannya saja, sepasang daun pada tandan tidak usah diikut sertakan. Maksudnya untuk memperbanyak jumlah sirung baru yang keluar dari pemetikan kelak. Bunga cengkeh dipetik pertandan tepat di atas buku daun berakhir dengan menggunakan kuku jari atau pisau yang kecil dan tajam. Daun termuda yang berdekatan dengan bunga tidak boleh ikut dipetik agar tidak menggangu pertumbuhan tunas berikutnya. Apabila daun ikut terpetik, dapat mengurangi jumlah tunas hingga 1/3 -1/2 bagian.
Bunga yang sudah dipetik dimasukkan kedalam keranjang atau karung kecil yang sudah disediakan dan dibawa mengikuti geraknya arah pemetikan. Setelah penuh, cengkeh dipindahkan karung besar kemudian dibawa kesuatu tempat pemroses selanjutnya. Rata-rata satu hari kerja seseorang dapat memperoleh 20-30 kg cengkeh segar. Hal ini sangat tergantung pada banyaknya cengkeh yang bisa dipetik dan juga keterampilan mereka (pekerja). Satu pohon cengkeh biasanya dipetik 3-4 kali bahkan ada yang sampai 6 kali dengan jarak 5-7 hari. Hal ini tergantung pada umur dan besarnya pohon. Untuk suatu kebun luas yang terdapat ribuan pohon dengan jenis yang berlainan, pemetikannya bisa makan waktu 3-4 bulan.

PASCA PANEN
Untuk mendapatkan hasil yang bermutu baik, masalah pengolahan juga perlu untuk diperhatikan dengan seksama. Pengolahan cengkeh dilakukan dengan melalui beberapa tahap yaitu sortasi basah, pemeraman, pengeringan, sortasi kering dan penyimpanan.

1. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan segera setelah cengkeh tiba di tempat pengolahan. Sortasi ini dilakukan dendan memisahkan bunga dari tangkainya dan menempatkannya pada tempat yang berbeda. Bunga dan tangkai cengkeh perlu dipisahkan karena mempunyai harga da mutu yang berbeda. Sortasi ini sangatlah penting untuk diperhatikan karena jika tangkai dan bunga tercampu maka akan menurunkan mutu.
2. Pemeraman
Bunga dan tangkai yang telah dipisahkan, masing-masing dimasukkan kedalam karung atau peti untuk selanjutnya diperam (fermentasi) selama 24 jam. Selain untuk mempersingkat waktu pengeringan, pemeraman juga dapat memperbaiki warna cengkeh menjadi cokelat mengkilap.
3. Pengeringan
Setelah pemeraman, proses selanjutnya yaitu pengeringan dengan harapan kadar air cengkeh turun hingga 12 %-14%. Bila kadar air lebih dari 14% cengkeh mudah terserang jamur sehingga tidak tahan disimpan. Sedangkan jika kadar air di bawah 12 % cengkeh akan mudah hancur sehingga mutunya rendah.
Pengeringan dapat dilakukan secara alami atau kombinasi cara buatan dan cara alami. Pengeringan dengan cara alami dapat dilakukan dengan menjemur cengkeh di bawah terik matahari dengan menggunakan lantai beton atau anyaman bamboo. Pengeringan secara alami umumnya tidak mengalami banyak hambatan karena pada umumnya cengkeh dipanen pada musim kemarau. Apabila tidak ada mendung, cengkeh sudah dapat kering dalam waktu 5-6 hari. Tanda bahwa cengkeh sudah kering dengan kadar air sekitar 12 %-14 % adalah mudah patah bila ditekan.
Di perkebunan pesar, kadar air diukur dengan alat pengukur kadar air. Pengeringan dengan cara buatan dilakukan dengan mesin pengering dengan menggunakan bahaan bakar minyak atau kayu. Namun mesin hanya boleh digunakan untuk mengeringkan cengkeh hingga kadar air 22-25 %. Dengan demikian perlu dilakukan pengeringan dengan cara alami dibawah terik matahari hingga kadar air mencapai 12-14 %. Pengeringan dengan mesin tidak boleh mencapai kadar air 140 dan suhu lebih dari 56 derajat Celsius karena dapat menyebabkan rusaknya senyawa-senyawa cengkeh atau hancurnya cengkeh. Kombinasi pengeringan dengan cara alami dan buatan memiliki bebrapa keuntungan yaitu waktu pengeringan lebih pendek (2-3 hari), aroma cengkeh lebih tajam serta warna lebih seragam dan megkilap.

4. Sortasi kering dan Pengemasan
Pada tahap sortasi, cengkeh dipisahkan dari kotoran-kotoran dengan cara ditampi menggunakan tampah. Cengkeh yang sudah bersih dimasukkan ke dalam karung kecil berkapasitas 30-40 kg atau karung berkapasitas 50-60 kg kemudian dijahit zigzag. Cengkeh yang telah dikemas dalam karung siap untuk dipasarkan atau disimpan untuk bebrapa waktu. Penyimpanan dilakukan di gudang yang tidak lembab, mempunyai banyak ventilasi dan berlantai semen. Di atas lantai dibuat para-para dari balok kayu yang kuat setinggi 25-30 cm kemudian karung berikut cengkehnya disusun di atasnya.

BUDIDAYA TANAMAN CENGKEH

BUDIDAYA TANAMAN CENGKEH

PENDAHULUAN

Tanaman cengkeh (syzigium aromaticum) dikenal sebagai tanaman rempah yang digunakan sebagai obat tradisional. Cengkeh termasuk salah satu penghasil minyak atsiri yang biasa digunakan sebagai bahan baku industry farmasi maupun industry makanan, sedangkan penggunaan yang terbanyak sebagai bahan baku rokok. Produksi cengkeh mempunyai peranan yang cukup besar dalam menunjang upaya peningkatan pendapatan Negara karena sampai saat ini cukai rokok merupakan salah satu sumber pendapatan Negara yang terbesar disbanding dengan sumber-sumber pendapatan lainnya untuk tahun anggaran 2001, yaitu sekitar Rp. 17,6 triliyun atau 7.5 % bahkan target untuk tahun anggaran 2002, yaitu sekitar Rp. 23,3 triliyun dari tahun 2003 sebesar 27 triliyun dan penerimaan Negara non penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi.
Cengkeh merupakan salah satu komoditas pertanian yang tinggi nilai ekonominya. Baik sebagai rempah-rempah, bahan campuran rokok kretek atau bahan dalam pembuatan minyak atsiri, namun bila factor penanaman dan pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka produksi dan kualitasnya akan menjadi rendah.
Cengkeh sejak zaman dahulu hingga sekarang masih menjadi salah satu hasil industri perkebunan yang prospeknya sangat bagus. Berapapun hasil produksi kita, maka pasar dipastikan akan mampu menyerapnya. Meski beberapa waktu yang lalu pernah terjadi penurunan harga terhadap hasil budidaya tanaman cengkeh di Indonesia, namun sekarang keadaanya beransur membaik dan normal kembali. Maka tidak mengherankan bila saat ini para petani juga mulai tekun untuk menggarap ladang atau kebun cengkehnya kembali.
Besarnya cukai rokok kretek tergantung dari perkembangan produksi rorkok kretek di Indonesia. Sedangkan prosuksi rokok baik kualitas maupun kuantitasnya akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan cengkeh yang merupakan bahan baku utama produksi rokok kretek.
ISI
PERSIAPAN BAHAN TANAM.
Untuk menghasilkan bibit cengkeh yang bermutu, bahan tanaman perlu dipersiapkan dengan baik sejak dini, mulai dari pemilihan pohon induk, benih, persemaian sampai pembibitan.
1. Tipe dan persyaratan pohon induk.
2. A. tipe pohon induk
Tipe cengkeh yang banyak dibudidayakn di Indonesia antara lain Zanzibar, sikotok, dan siputih. Namun, yang banyak disukai oleh masyarakat adalah jenis Zanzibar karena produktivitanya lebih tinggi. Cirri-ciri ketiga tipe cengkeh tersebut sebagai berikut :
-zanzibar :
1. produksi tinggi
2. bunga berwarna agak merah dengan jumlah pertandanlebih dari 15 bunga
3. daun pucuk berwarna merah muda, tangkai daun dan cabang berwarna hijau tua dengan permukaan yang mengkilat.
4. tajuk rimbun, percabangan tidak membentuk sudut sehingga daun-daun banyak yang terletak dekat permukaan tanah.
-sikotok
1. produksi cukup tinggi.
2. Bunga berwarna kuning dengan jumlah pertandan lebih dari 15 bunga
3. daun pucuk berwarna merah muda, tangkai daun dan cabang berwarna merah.
4. daun tua berwarna hijau dengan permukaan mengkilat
5. kebanyakan berbentuk pyramid setelah dewasa.
- siputih
1. bunga berwarna kuning berukuran besar dengan jumlah pertandan lebih dari 15 bunga.
2. daun pucuk atau daun muda berwarna kuning sampai hijau muda, tangkai dan tulang daun muda berwarna kuning kehijauan, daun tua berwarna hijau.
3. helaian daun besar tidak mengkilat
4. tajuk tidak rindang

b. Persyaratan pohon induk.
Pada umumnya cengkeh dikembangkan secara generative melaui biji yang diperoleh dari pohon induk yang memnuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Sehat
2. Berumur lebih dari 15 tahun
3. Bentuk mahkota bagus(penutupan tajuk lebih dari 80 %)
4. Hasil rata-rata terus naik
5. Jauh dari tipe cengkeh lainnya.
6. Tidak terlindungi
7. Percbangan cukup banyak
8. Batang utama tunggal
9. Bebas hama penyakit



SYARAT TUMBUH
A. Tanah yang sesuai untuk tanaman cengkeh adalah gembur, solum tanah tebal minimal 1,5 meter serta kedalaman air tanah lebih dari 3 meter dari permukaan tanah, jenis tanah yang sesuai adalah latosol, podsolik merah, mediteran dan andosol
B. Kemasaman tanah (pH) optimu berkisar antara 5,5 – 6,5
C. Besarnya curah hujan optimal untuk perkembangan tanaman cengkeh berkisar 1500-2500 mm/ tahun serta bulan kering kurang dari 2 bulan, suhu antara 25-340 C kelembapan (RH) 80-90%)
D. Ketinggian tempat yang optimal bagi pertumbuhan tanaman cengkeh berkisar antara 200-600 meter diatas permukaan laut (dpl)

PERSIAPAN BENIH
a. Asal benih cengkeh
Benih/ biji cengkeh/ polong diambil dari pohon induk jenis Zanzibar dengan kondisi pohon sebagai berikut :
1. Pohon induk berumur minimal 15 tahun
2. Tajuk (percabangan dan daun) cukup baik
3. Pohon dalam kondisi sehat
4. Produksi biji cengkeh/ polong yaitu 5000 polong per pohon, pada saat musim panen.
Standar biji cengkeh siap tanam.
Salah satu factor yang berpengaruh terhadap keberhasilan penanaman cengkeh yaitu pengunaan bibit cengkeh yang berkualitas baik. Adapun standar bibit cengkeh yang berkualitas baik, sebagai berikut :
1. Benih berasal dari cengkeh yang baik yaitu jenis Zanzibar
2. Benih berasal dari pohon induk yang sehat, berumur diatas 15 tahun dan produksi tinggi
3. Umur bibit sekitar 2 tahun
4. Tajuk (percabangan dan daun) cukup baik
5. Warna daun bibit, hijau tua dan mengkilap bibit tidak terserang hama dan penyakit
Benih yang digunakan memiliki criteria :
1. Benih masak fisiologis ( warna kuning muda sampai ungu kehitaman) atau telah berumur 9 bulan
2. Berat 0.85-1.1 g
3. Tidak cacat
4. Tidak berlendir
5. Harus tumbuh dalam waktu 3 minggu setelah semai
6. Tidak benjol-benjol (yang menandakan benih terinfeksi penyakit cacar daun cengkeh)
Sebelum disemai kulit buah dikupas untuk menghindari terjadinya fermentasi yang dapat merusak viabilitas (daya kecambah) benih. Pengupasan kulit buah dilakukan dengan hati-hati agar kulit benih tidak terluka.
Pengupasan dilakukan dengan tangan atau pisau yang tidak terlalu tajam. Setelah pengupasan, benih direndam berisi air selama kurang lebih 24 jam, dan dilanjutkan dengan pencucian. Selama pencucian benih diaduk dan digosok dalam air, dengan mengganti air cucian 2-3 kali untuk menghilangkan lender yang menepel pada kulit benih.
Untuk memperoleh bibit cengkeh yang berkualitas, bebrapa tahap yang harus dilakukan sebagai berikut :


1. Pemilihan tempat untuk pembibitan
Pemilihan tempat sangat menentukan keberhasilan pembibitan cengkeh, sehingga harus dicari tempat yang memenuhi syrat dari segi teknis. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sebagai tempat pembibitan cengkeh sebagai berikut :
1. Terdapat sumber air untuk penyiraman
2. Areal terbuka (tidak ada naungan dari pohon besar)
3. Tanah cukup subur (masih terdapat topsoil, tidak keras berbatu)
4. Dekat dengan jalan, untuk memudahkan transportasi

1. Persemaian
Persemaian dibuat untuk menyemaikan biji cengkeh/ benih sampai dengan menjadi bibit cengkeh kecil yang mempunyai 2-3 pasang daun. Adapun tahap-tahap pekerjaan dalam persemaian, sebagai berikut :
A. Pembuatan bedengan
1. Tanah dibersihkan dari berbagai jenis gulma
2. Dibuat bak dengan bedengan bamboo, tinggi = 20 cm, lebar = 120 cm, panjang menyesuaikan banyaknya biji yang akan disemai
3. Isi bak bambu dengan pasir wallet (pasir sungai) sampai tinggi 20 cm
4. Pasang peneduh pada bedengan , dengan tinggi 1,5 m dan persentase naungan sekitar 95 %. Bahan yang dipakai daun kelapa atau anyaman bamboo
5. Sterilisasi media menggunakan insektisida marshal konsentrasi 3 ml/liter air dengan dosis 5 lt/ m2 dengan cara dikocok
6. Pengajiran dilakukan pada blok tanaman untuk memudahkan penanaman dengan jarak 8x8 m dengan pola bujur sangkar atau empat persegi panjang.
B. Penyemaian biji cengkeh
1. pengadaan biji cengkeh
a. berasal dari pohon induk yang terpilih. Adapun syarat pohon induk, sbb :
b. umur diatas 15 tahun
c. tajuk pohon (percabangan dan daun) lebat, berbentuk simetris
d. kondisi pohon sehat
e. pohon berbunga hamoir tiap tahun
f. produksi cengkeh / bunga relative banyak minimal 50 kg cengkeh basah per pohon pada umur 15 tahun
g. biji diambil dari 1/3 bagian tajuk pohon, bagian tengah
h. pilih biji cengkeh yang sudah tua (warna kulit ungu)

1. Perlakuan biji cengkeh
a. Biji cengkeh yang sudah dipetik, dikupas kulitnya mengguanakan pisau yang tajam dan bagian biji tidak boleh terluka
b. Pilih biji dengan ukuran relative besar atau 1 kg biji berisi 800 butir dan sehat (tidak terdapat bintik-bintik hitam) serta warna biji setelah dikupas, hijau kemerahan
c. Rendam biji cengkeh dalam air, selama sehari


3. Penanaman biji cengkeh
a.Pembuatan bedengan persemaian
-buatan bedengan dengan lebar 100 cm dan panjang sesuai kebutuhan dan tinggi sekitar 20 cm.
- gemburkan tanah bedengan setinggi 20 cm. dan akan lebih baik bila bedengan dicampurkanpasir sungai
- buat naungan pada bedengan dengan persentase naungan 100 % dan tinggi 100-150 cm. bahan yang dipakai atap bamboo atau daun kelapa.

a. Penanaman biji
-biji cengkeh ditanam pada bedengan yang sudah disiapkan dengan ketentuan :
-jarak tanam biji 5x5 cm2
- biji ditanam secara tegak (bagian ujung biji yang runcing, berada diatas) samapi kedalaman sekitar ¾ bagian panjang biji. Sehingga ¼ bagian biji Nampak diatas permukaan tanah.

PEMELIHARAAN PESEMAIAN
Agar benih yang sudah disemaikan dapat tumbuh dengan baik, maka harus dilakukan pemeliharaan, sebagai berikut :
a. Dilakukan penyiraman setiap hari
b. Dilakukan penyiangan atau pembersihan gulma.

PEMBIBITAN
Setelah kira-kira 30-45 hari, benih dipesemaian akan tumbuh menjadi bibit kecil 2-3 pasang daun, selanjutnya dipindahkan ke polybag dipembibitan. Kegiatan pembibitan yaitu memelihara bibit kecil sampai dengan bibit siap tanam (berumur 2 tahun). Adapun tahap-tahap perkerjaan dalam pembibitan sebagai berikut :
1. Pembuatan media tanam(polybag)
a. Buat bedengan
- arah bedengan utara-selatan
- tinggi bedengan sekitar 20 cm, lebar 150 cm dan panjang sesuai kebutuhan
b. Pasang peteduh
pasang peteduh pada pada bedengan, dengan tinggi bagian timur 2 m, sedangkan bagian barat 1,5 m. persentase naungan 50 %. Bahan yang dipakai yaitu anyaman bamboo. Alternative lain memakai daun kelapa atau paranet.
b. Isi tanah polybag
- Siapkan polybag ukuran 40x35 cm2
- Siapkan media polybag berupa campuran tanah : berambut : pupuk kandang=2:1:1
- Massukan media kedalam polybag sampai penih (1 cm dibawah bibir polybag)
- atur polybag pada bedengan dengan jarak berkisar 25x25 cm2
- sterilisai media
- sterilisai media menggunakan insektisida marshal konsentrasi 3 ml/ liter air dengan dosis 200 ml/polybag, dengan cara dikocok.

2. PENANAMAN BIBIT
Setelah benih disemaikan dipesemaian, kemudian akan tumbuh menjadi bibit kecil dan selanjutnya bibit dipindahkan ke polybag dipembibitan. Penanaman bibit dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Pilih bibit yang sudah mempunyai 2-3 pasang daun
b. Cabut/ congkel bibit yang sudah siap tanam secara berhati-hati agar akar tidak rusak
c. Tanam bibit pada polybag dengan cara dibuat lubang pakai kayu, kira-kira sedalam akar bibit yang akan ditanam
d. Tanam bibit pada lubang tersebut, kemudian lubang ditutup dengan tanah agak dipadatkan.

3. PEMELIHARAAN BIBIT
- Penyiraman
Penyiraman setiap hari pada musim kemarau
- Penyiangan
Penyiangan atau pengendalian gulma dilakukan setiap 15 hari sekali. Gulma yang tumbuh dipolybag dibersihkan dengan cara dicabut. Tanah digemburkan menggunakan solek atau kecruk
- Pemupukan
Untuk memicu pertumbuhan vegetative bibit, maka harus dilakukan pemupukan anorganik. Pupuk anorganik yang dipakai yaitu NPK 15:15:15. Adapun dosis pupuk sebagai berikut :

Umur (bulan) Dosis pupuk NPK (gram/bibit)
3 1
7 2
11 3
15 3

- Pengendalian hama dan penyakit (PHP)
Serangan hama dan penyakit Sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cengkeh, bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan kematian. Hama yang umum menyerang tanaman cengkeh adalah penggerek, perusak pucuk, perusak daun dan perusak akar. Sedangkan penyakit yang sering menyerang antara lain : Bakteri Pembuluh kayu Cengkeh(BPKC), Cacar Daun Cengkeh (CDC), Die Back (mati ranting), embun jelaga, untuk pengendaliannya dapat digunakan insektisida / fungisida sesuai anjuran.
Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan secara preventif (pengendalian sebelum terdapat gejala serangan hama/ penyakit) dan kuratif (pengendalian setelah terdapat gejala serangan hama/ penyakit.
Pengendalian secara preventif dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan atau fungisida pada rotasi waktu tertentu. Insektisida yang dipakai Marshal, Dimasid, dll. Sedangkan fungisida yang dipakai Dithane, benlathe, dll.
Umur bibit (bln) Rotasi semprot
0-6 15 hari
Lebiih dari 6 30 hari

Pengendalian secara kuantitatif dilakuan bila terdapat gejala serangan hama atau penyakit. Hama yang sering menyerang di pembibitan cengkeh yaitu rayap, kutu putih, penghisap daun dll. Pengendalian menggunakan insektisida Decis atau Marsal, konsentrasi1-2 cc/ lt air. Sedangkan penyakit yang sering menyerang dipembibitan cengkeh yaitu embun jelaga, cacar daun, bercak daun merah. Pengendalian menggunakan fungisida benlate, Duthane, konsentrasi 2 gr/ltr air.

Pengaturan naungan
Pengaturan naungan dilakukan dengan cara memlihara naungan yang sudah ada dan mengatur intensitasnya. Pengurangan intensitas naungan disesuaikan dengan umur bibit. Adapun pengaturan intensitas naungan bibit adalah sebagai berikut :

Umur bibit (bln) Intensitas Naungan (%)
0-12 50
12-24 0

PENYIAPAN BIBIT UNTUK PENANAMAN
Untuk penanaman dilapangan harus dipilih bibit yang baik, agar dapat menghasilkan tanaman yang baik pula. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi bibit sebagai berikut
a. Umur tanaman sekitar 21-24 bulan
b. Pertumbuhan bibit normal, tinggi minimal 70 cm, tajuk (percabangan dan daun) lebat dan simetris
c. Bibit tidak terserang hama dan penyakit
d. Bibit mempunyai batang tunggal
SELEKSI BIBIT
Untuk mendapatkan tanaman yang sehat bibit perlu diseleksi. Bebrapa criteria yang digunakan untuk seleksi bibit cengkeh adalah :
1. Tinggi bibit minimal 60 cm (umur 1 tahun) dan 90 cm, ( umur 2 tahun)
2. Sehat (tidak terserang hama dan penyakit dan kekurangan hara)
3. Mempunyai akar tunggang yang lurus dan sehat dengan panjang kurang lebih 45 cm serta akar cabang 30-50 buah
4. Mempunyai batang tunggal
5. Jumlah rata-rata percabang 7 pasang, jumlah daun 63 pasang dan warna daun dewasa hijau
PANEN
Produk utama tanaman cengkeh adalah bunga yang pada waktu dipanen kadar airnya berkisar antara 60-70 %. Waktu yang paling baik untuk memetik cengkeh adalah sekitar 6 bulan setelah bakal bunga timbul, yaitu setelalah salah satu atau dua bunga pada tandannya mekar dan warna bunga menjadi kuning kemerah-merahan dengan kepala bunga masih tertutup, berisi dan mengkilat.
Pemungutan bunnga cengkeh dilakukan dengan dengan cara memetik tangkai bunga dengan tangan, kemudian dimasukkan kedalam kantong kain atau keranjang yang telah disiapkan, menggunakan tangga segitiga atau galah dari bamboo, serta tidak merusak daun sekitarnya pada waktu pemetikan. Waktu panen sangat berpengaruh terhadap rendemen dan mutu bunga cengkeh serta minyak atsirnya.
Saat pemetikan bunga cengkeh yang tepat yaitu apabila bunga sudah penih benar tetapi belum mekar, pemetikan yang dilakukan saat bunga cengkeh masih muda (sebelum bunga masak) akan menghasilkan bunga cengkeh yang kering dan keriput, kandungan minyak atsirnya rendah dan berbau langu (tidak enak). Sedangkan apabila pemetikan terlambat (bunga sudah mekar)setelah dikeringkan akan diperoleh mutu yang rendah, tanpa kepala serta rendemen rendah.

PASCA PANEN
1. Sortasi buah. Laukan pemisahan bunga dari tangkainya dan tempatkan pada tempat yang berbeda.
2. Pemeraman. Pemeraman dilakukan selama 1 hari ini dilakukan untuk memperbaiki warna cengkeh menjadi cokelat menghkilat
3. Pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan mesin pengering yang menggunakan kayu bakar atau bahan bakar minyak, dapat juga dikeringkan dengan cara alami yaitu pengeringan dengan sinar matahari pada lantai beton agar kadar air menjadi 12-14 % dan dapat disimpan dan aman dari jamur.
4. Sortasi. Pada tahap ini cengkeh dipisahkan dari kotoran dengan cara ditampi. Kemudian cengkeh yang sudah bersih dimasukkan pada karung dan dijahit.
Penanganan buah cengkeh
Sebelum dikeringkan bunga cenkeg dipisahkan dari tangkainya dan dikeringkan secara terpisa. Pada tahap ini dilakukan pemisahan antara bunga cengkeh yang baik, bunga yang terlalu tua dan yang terjatuh. Setelah itu bunga cengkeh dikeringkan.
Pengeringan dapat dilakukan dengan menjemurnya dipanas matahri langsung atau menggunakan pemgering buatan.
1. Bunga cengkeh yang dijemur dihamparkan pad alas tikar, anyaman bamboo (girbig) atau plastic, atau pada lantai jamur yang diberi alas plastic
2. Selama proses pengeringan cengkeh dibolak balik agar keringnya merata.
3. Proses pengeringan dianggap selesai apabila warna bunga cengkeh telah berubah menjadi cokelat kemerahan, mengkilat, mudah dipatahkan dengan jari tangan dan kadar air telah mencapai sekitar 10-12 %
4. Lamanya waktu penjemuran dibawah sinar matahari sekitar 3-4 hari.






DAFTAR PUSTAKA
Anonima 2007. Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Cengkeh. Dinas Perkebunan. Diakses pada tanggal 12 Januari 2011.
Anonim b. http://www. Cengkeh.htm. Diakses pada tanggal 12 Januari 2011
Anonim c. http://www. Budidaya Cengkeh. Htm. Diakses pada tanggal 12 Januari 2011.

Sabtu, 04 Februari 2012

PENGARUH MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) DARI BERBAGAI SUMBER BENIH

PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) DARI BERBAGAI SUMBER BENIH

OLEH
ANDI ARIE WIJA KUSUMA
G111 08 004


DOSEN PEMBIMBING
Prof.Dr.Ir.H. AMBO ALA, MS
IR. SUARDY MANDUNG




JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman kakao berasal dari Amerika Selatan, kemudian menyebar ke Amerika Utara, Afrika dan Asia. Di Indonesia, kakao di kenal sejak tahun 1560, namun menjadi komuditi penting dalam perekonomian nasional dan merupakan komuditas andalan Kawasan Timur Indonesia (KTI) khususnya daerah Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan (Deptan, 2004).
Kakao merupakan komoditi unggulan dari sulawasi selatan yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Komoditi ini tidak hanya digunakan di dalam negeri, melainkan juga menjadi komoditas unggulan untuk diekspor ke berbagai negara, sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah. Menurut asosiasi kakao indonesia (Aksindo) produksi kakao diperkirakan meningkat dibandingkan produksi tahun sebelumnya. Produksi kakao tahun 2010 mencapai 500 ribu ton, naik dari tahun 2009 yang hanya mencapai 480 ribu ton. Kenaikan produksi kakao tersebut didorong oleh meningkatnya produktifitas disebabkan adanya program rehabilitasi dan peremajaan tanaman kakao di wilayah timur Indonesia, terutama di Sulawesi Selatan (Rizal Idrus, 2011)
Sulawesi Selatan merupakan penghasil 85% Kakao di Indonesia, dengan volume ekspor 193,357,63 t. Luas perkebunan kakao di Sulawesi Selatan tercatat 221.430,81 ha yang terdiri dari perkebunan rakyat 219.252,34 ha, perkebunan besar swasta 1.933,47 ha dan PTPN 245 ha. Lahan ini dikelola oleh 246.200 Kepala Keluarga tani. Produktivitas kakao di daerah ini cenderung menurun dari tahun ke tahun, saat ini hanya mencapai 928,47 kg/ha atau 30,95% dari potensi produksinya yaitu 3.000 kg/ha (Statistik Perkebunan, 2005). Rendahnya produktivitas ini disebabkan antara lain adalah banyaknya tanaman tua tidak produktif, bahan tanam yang tidak berkualitas, sistem pemeliharaan belum optimal, dan adanya gangguan hama dan penyakit.
Sulawesi Selatan sebagai daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia terus mengalami perkembangan areal, tetapi jumlah produksi dalam 4 tahun terakhir terus mengalami penurunan. Pada tahun 2004, luas areal tanaman kakao hanya 215.252,80 Ha dengan produksi 184.470 ton, tahun 2007 luas areal telah mencapai 250.706,64 Ha, tetapi produksi turun menjadi 117.119 ton. Areal pertanaman mengalami pertumbuhan dari tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 11,55%, sedang pertumbuhan produksi dan produktivitas mengalami penurunan pada tahun yang sama sebesar massing-masing -25,84% dan -24,19% (Nasaruddin, 2009).
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian “Pengaruh Sumber Benih Dan Mikorisa Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kakao (Theobrama Cacao L) ”, yang nantinya diharapkan dapat digunakan dalam mempercepat proses pertumbuhan tanaman, perbaikan produktivitas dan mutu kakao dengan input pupuk rendah serta mengetahui klon unggul yang memiliki kualitas yang baik.



1.2 Hipotesis
1. Mikorisa dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman
2. Terdapat salah satu klon yang memberikan respon yang lebih baik terhadap pemberian mikorisa.
1.3 Tujuan dan Kegunaan

Adapun tujuan dari penelitian ini ialah Untuk mengetahui pengaruh pemberian mikorisa terhadap pertumbuhan berbagai jenis klon tanaman kakao
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi bagi mahasiswa dan petani tentang pengaruh berbagai jenis mikroorganisme Mikoriza Vesikula Arbusklua (MVA) terhadap pertumbuhan bibit kakao dari berbagai sumber benih.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Kakao (Theobroma Cacao L.)
Kakao atau oleh para ahli diberi nama Theobroma cacao, ini memang mengandung arti tersendiri. Dalam bahasa Yunani, Theos berarti dewa atau Thian dalam bahasa China, sedangkan Broma ini berarti santapan. Dengan demikian nama Theobroma ini diartikan sebagai santapan para dewa. Nama kakao bukanlah berasal dari bahasa Yunani, akan tetapi berasal dari bahasa Aztek, yakni daerah Mexico Amerika Tengah (Muljana, 2001).
Tanaman kakao merupakan tanaman yang menumbuhkan bunga dari bunga atau batang.Karena itu tanaman ini di golongkan kedalam kelompok tanaman caulifloris. Dengan klasifikasi sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Malvales
Family : Sterculiaceae
Genus : Theobrema
Spesies : Cacao
(Siregar et al, 2006).
Tanaman kakao merupakan tanaman hutan yang tumbuh di bawah naungan dan membutuhkan kondisi kelembaban tinggi dan panas.Tanaman kakao menyebar pada 20o LU dan 20o LS dari garis khatulistiwa, tetapi untuk usaha yang berskala ekonomi terbatas pada daerah 10o LS dan 10o LU.Oleh karena itu, pusat pertanaman atau negara-negara penghasil kakao terbesar dunia berada dalam batas-batas tertentu.Tanaman kakao masih dapat tumbuh dan berproduksi pada ketinggian di atas 500m dari permukaan laut (Nasaruddin, 2009).
Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan).Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi.Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki.Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya, dan berbentuk bulat hingga memanjang.Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji.Warna buah berubah-ubah.Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu.Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning.
Tanaman kakao termasuk jenis tanaman interminate, artinya bahwa fase pertumbuhan vegetative maupun generative tanaman dapat terjadi secara bersamaan.Namun demikian, sebelum tanaman memasuki fase pertumbuhan generative terlebih dahulu mengalami fase pertumbuhan juvenil. Rentang waktu yang dibutuhkan tanaman melalui fase pertumbuhan juvenile tersebut merupakan salah satu factor yang berpegaruh terhadap pertumbuhan tanaman kakao (Suhendi dan Susilo, 2001)
Teknik budidaya kakao intensif menggunakan pendekatan yang fokus ke jumlah pohon yang produktif daripada luas lahan. Mengoptimalkan kebun kakao dengan menggunakan klon-klon yang berbuah banyak dan tahan terhadap penyakit utama seperti busuk buah, penyakit pembuluh kayu (Vascular Streak Dieback) serta hama PBK (Cocoa Pod Borer) akan membantu petani dalam peningkatan produksi dan perbaikan mutu biji kakao. Secara umum petani kakao memiliki lebih dari satu hektar lahan kakao, namun pohon kakao yang ditanam petani umumnya kurang buah dan tidak tahan terhadap penyakit.Selain itu jarak antara pohon kakao yang ditanam berjauhan.Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh pelatih ASKA, ratarata hanya sekitar 800 pohon yang ditanam per hektar di kebun kakao petani. Data dari Dinas Perkebunan Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan menunjukan penurunan produksi biji kakao kering antara tahun 2006 dan 2007, penurunan produksi sebesar 17% dari 106.361 ton untuk Sulawesi Barat, dan 25% penurunan produksi dari 160.074 ton terjadi di Sulawesi Selatan.
Menggunakan klon unggul kakao yang memiliki produksi tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit sebagai sumber entres atau bibit, merupakan salah satu cara mengatasi tantangan diatas. Kriteria klon unggul seperti: pembuahan lebat, ukuran biji besar, serta tahan terhadap hama dan penyakit, serta berat biji lebih dari 1 gram per biji kakao. Sudah ada beberapa klon unggul yang telah teridentifikasi dan masih dalam taraf kajian dan dapat diperoleh dari beberapa sumber:
1. Klon resmi telah dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat melalui Dinas Perkebunan
2. Klon-klon yang diperkenalkan dari beberapa negara seperti Malaysia (PBC 123 dan BR 25) walaupun ini illegal
3. Klon-klon lokal dari wilayah lain yang telah terbukti baik dan mempunyai beberapa keunggulan seperti MO1 dan M05 (Luwu Utara), Panter (Luwu Utara), Sulbar 1, RCC (Klon dari Medan), Sulbar 2 (Sulawesi Barat), Sugeng 1 (Sulawesi Tenggara), serta klon Kelapa Dua (Polewali Mandar) yang masih dalam pengujian dan pengamatan secara berkala.
4. Klon-klon hasil penelitian Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) seperti ICCRI 03, ICCRI 04, KW 162, KW 163, KW 516, KW 570 dan DRC 15.
5. Klon-klon lokal petani yang memperlihatkan produksi yang tinggi dari beberapa tahun sebelumnya dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit tertentu.
Kebutuhan akan benih unggul bermutu semakin meningkat dari tahun ke tahun tidak hanya terbatas untuk pemenuhan program pengembangan perkebunan melalui dana APBN/APBD tetapi juga swadaya petani. Untuk program revitalisasi kebutuhan akan benih kakao sebanyak 165 juta bibit selama 5 tahun (2006-2010). Disamping itu pada tahun 2009 - 2011 akan dilaksanakan Gerakan Percepatan Peningkatan Mutu Kakao Nasional dengan target luasan 450.000 ha yang terdiri dari peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi, sehingga jumlah benih unggul bermutu yang dibutuhkan semakin meningkat. Agar sasaran pemerintah tersebut dapat berhasil, maka perlu didukung dengan ketersediaan benih unggul kakao bermutu secara 6 (enam) tepat yaitu ( mutu, jumlah, jenis, waktu, lokasi dan harga).

2. 2 Mikoriza Vesikula Arbuskula (MVA)
2. 2. 1 Gambaran Umum MVA
Mikoriza Vesikula Arbusklua (MVA) adalah suatu simbiosis yang ditemukan antara cendawan (Zygomycetes) dan akar, dan merupakan salah satu tipe beberapa tipe mikoriza yang dikenal (Type mikoriza: (1) ectomycoorhizae (ECM) (2) vesikular-arbuskular mycoorhizae (VAM/endomikoriza) (3) ectendomycoorhizae, (4) Ericoid mycoorhizae (5) orchid mycoorhizae.) dan (6) Arbutoid mycoorhizae (didasarkan pada struktur mikoriza)
Lebih dari 200.000 spesies Angiospermae, terdiri dari cabang-cabang hifa yang berada pada bagian dalam sel akar tanaman inang (Wegel et al., 1998), atau lebih dari 90% dari 300.000 spesies yang berasosiasi dengan MVA pada tanah-tanah alami.
MVA merupakan jamur yang bersimbiosis dengan akar tanaman.Jamur ini membentuk vesikel dan arbuskula di dalam korteks tanaman.Karena 80% cendawan ini membentuk struktur vesikula dan arbuskula, maka cendawan ini disebut dengan cendawan mikoriza vesikula–arbuskula. (Smith & Read, 1997) Vesikel merupakan ujung hifa berbentuk bulat, berfungsi sebagai organ penyimpanan, sedangkan arbuskula merupakan hifa yang struktur dan fungsinya sama dengan houstoria dan terletak di dalam sel tanaman (Shenk, 1981).
MVA termasuk ke dalam kelas Zygomycetes, ordo Glomales dan genus Gigaspora, Scultellospora, Acaulospora, Entrophospora, Glomus, dan Sclerocystis.Terdapat sekitar 150 jenis (spesies) spora cendawan MVA yang telah dideskripsi (Morton dan Benny, 1990).
MVA tergolong dalam kelompok khusus dari populasi mikoriza yang sangat banyak mengkolonisasi rizosfer, yaitu di dalam akar, permukaan akar, dan di daerah sekitar akar. Hifa eksternal yang berhubungan dengan tanah dan struktur infeksi seperti arbuskula di dalam akar menjamin adanya perluasan penyerapan unsur-unsur hara dari tanah dan peningkatan transfer hara (khususnya P) ke tumbuhan, sedangkan cendawan memperoleh C organik dari tumbuhan inangnya (Marschner, 1995).
Penyebab rendanya produktivitas kakao khususnya di Sul-Sel disebabkan oleh beberapa factor. Ada tiga masalah yang dihadapi dalam produktivitas kakao yaitu pada umumnya tanaman sudah tua berumur di atas 17 tahun, populasi tanaman perhektar mengalami penurunan yang sangat signifikan akibat kematian tanaman, dan adanya tingkat serangan hama dan penyakit yang tinggi khususnya PBK (Pengerak Buah Kakao), penyakit busuk buah dan penyakit VSD (Vascular Streak Dieback) (Nasaruddin, 2007).
Pemanfaatan pupuk mikroba dalam membantu pertumbuhan dan perlindungan tanaman dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Peran langsung dilakukan dengan menambat N2 dan memacu pertumbuhan tanaman dengan menghasilkan fitohormon (asam indol asetat, sitokinin, giberelin), dan melarutkan P yang terikat menjadi tersedia melalui asam-asam organik dan enzim yang dihasilkannya. Sedangkan peran tidak langsung dilakukan dengan menghasilkan senyawa antimikroba yang mampu menekan pertumbuhan mikroba patogen. Aplikasi pupuk mikroba pada rizosfir dan tanaman merupakan sesuatu hal yang kompleks, sehingga dalam pemanfaatannya perlu metode aplikasi yang efisien dan pupuk mikroba yang bermutu.
2. 2. 2 Manfaat Umum MVA
Manfaat dari MVA dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu manfaat dalam ekosistem, manfaat bagi tanaman, dan manfaatnya bagi manusia. Manfaat mikoriza MVA dalam ekosistem sangat penting, yaitu berperan dalam siklus hara, memperbaiki struktur tanah dan menyalurkan karbohidrat dari akar tanaman ke organisme tanah yang lain. (Brundrett etal., 1996).Sedangkan manfaat bagi tanaman yaitu dapat meningkatkan penyerapan unsur hara, terutama P (Bolan, 1991), dimana MVA dapat mengeluarkan enzim fosfatase dan asam-asam organik, khususnya oksalat yang dapat membantu membebaskan P.
MVA dapat membantu mengatasi masalah ketersediaan fosfat melalui dua cara, pengaruh langsung melalui jalinan hifa eksternal yang diproduksinya secara intensif sehingga tanaman bermikoriza akan mampu meningkatkan kapasitasnya dalam menyerap unsur hara dan air (Sieverding, 1991) dan pengaruh tidak langsung, dimana mikoriza dapat memodifikasi fisiologis akar sehingga dapat mengeksresikan asam-asam organik dan fosfatase asam ke dalam tanah ( Abbott et al., 1992), dimana menurut Marschner and Dell,(1994); dan Smith and Read, (1997) fosfatase asam merupakan suatu enzim yang dapat mamacu proises mineralisasi P Organik dengan mengkatalisis pelepasan P dari kompleks organik menjadi kompleks anorganik.

2. 2. 3 Peranan Mikoriza dalam Mengatasi Cekaman Kekeringan
Penyerapan air oleh tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor tanaman.Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah kandungan air tanah, kelembaban udara, dan suhu tanah. Faktor tanaman yaitu efesiensi perakaran, gradien tekanan difusi air tanah ke akar, dan keadaan protoplasma tanaman (Kramer, 1969)
Pada tanaman yang bermikoriza, respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan cenderung lebih dapat bertahan dari kerusakan korteks dibanding tanaman tanpa mikoriza. Menurut Setiadi (1989), gangguan terhadap perakaran akibat cekaman kekeringan ini pengaruhnya tidak akan permanen pada akar-akar yang bemikoriza. Akar yang bermikoriza akan cepat kembali pulih setelah periode kekeringan berlalu. Peranan langsung mikoriza adalah membantu akar dalam meningkatkan penyerapan air. Ini dikarenakan hifa cendawan masih mampu menyerap air dari pori-pori tanah pada saat akar tanaman sudah mengalami kesulitan mengabsorbsi air (Setiadi, 1989). Kemampuan menyerap air dari pori-pori tanah ini dikarenakan hifa utama cendawan mikoriza di luar akar membentuk percabangan hifa yang lebih kecil dan lebih halus dari rambut akar dengan diameter kira-kira 2 μ m.
Tahannya tanaman yang bermikoriza terhadap kondisi kekurangan air disebabkan karena hifa eksternalnya yang dapat meningkatkan total daerah perakaran dari sistem perakaran tanaman dan meningkatkan volume tanah yang diekesploitasi oleh air, ini menyebabkan lebih banyak air yang tersedia bagi tanaman inang, yang akan lebih memacu pertumbuhan tanaman melalui pembelahan, pembesaran, pemanjangan dan pengisian sel oleh hasil metabolisme.
Sebaliknya pada tanaman yang tidak diinokulasi dengan mikoriza, Cekaman air yang sedikit saja (-1 sampai –3 bars) cukup menyebabkan lambat atau berhentinya pembelahan dan pembesaran sel, dan menurut Harjadi dan yahya, (1988) bila tanaman mengalami cekaman air yang sangat berat, deferensiasi organ-organ baru dan perluasan organ yang sudah ada yang akan terkena pengaruh pertama kali. Penutupan stomata merupakan mekanisme utama yang mengurangi fotosintesis karena cekaman kekeringan. Mekanisme penurunan laju fotosintesis yang diakibatkan oleh terjadinya penurunan potensial air dalam daun mencakup beberapa proses (Harjadi dan Yahya, 1988; Salisbury dan Ross, 1995). Proses-proses tersebut diantaranya yaitu penutupan stomata secara hidroaktif dapat mengurangi CO2; terjadinya dehidrasi kutikula, dinding epidermis dan membran sel mengaurangi aviditas dan permeabilitasnya terhadap CO2; bertambahnya tahanan sel mesofil daun terhadap pertukaran gas; serta menurunnya efisiensi sistem fotosintesis.



BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tanaman dan Screen House, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Penelitian ini berlangsung pada bulan juni sampai dengan november 2011.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang akan di gunakan dalam penelitian ini adalah Bibit Tamanan kakao berbeda klon yaitu klon Sulawesi 1, sulawesi 2 dan klon panter. Mikoriza yang diaplikasikan adalah jenis Mikoriza Vesikula Arbuskula (MVA), kertas, tissu, pasir steril, tanah alfisol
Alat yang digunakan dalam penelitian adalah gelas plastic, polybag 40x30, talang plastik, spoit, timbangan, gunting, plaster, label, ember, mistar, dan alat tulis menulis. skop, cangkul, solarimeter, garpu, oven listrik.
3.3Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan petak terpisah dalam rancangan acak kelompok (RAK). Faktor pertama yaitu klon dari sumber benih tanaman kakao yang terdiri dari 3 label yaitu: klon Sulawesi 1 (S1), klon Sulawesi 2 (S2), dan klon Panter (S3). Faktor kedua adalah aplikasi mikoriza MVA yang terdiri dari 4 taraf yaitu tanaman tanpa aplikasi mikoriza (M0), 2,5 gr (M1), 5 gr (M2), dan aplikasi 10 gr (M3) perpohon. Dengan demikian Terdapat 12 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak tiga, sehingga terdapat 36 unit percobaan . Setiap unit perlakuan terdapat 3 tanaman sehingga jumlah bibit tanaman kakao yang digunakan seluruhnya adalah 108 tanaman.
Dari faktor diatas maka diperoleh 12 kombinasi perlakuan sebagai berikut:
• S2M0 • S1M2
• S2M1 • S1M3
• S2M2 • S3M0
• S2M3 • S3M1
• S1M0 • S3M2
• S1M1 • S3M3
3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Persiapan Media
3.4.1.1 Media Perkecambahan
Persiapan media pertama dilakukan dengan memberikan tissue kedalam gelas aqua yang berdiameter 18,92 mm dan menjenuhkannya dengan air.
Persiapan media kedua dilakukan dengan cara mencuci pasir dengan air sampai bersih kemudian mengisi gelas aqua yang berdiameter 18,92 mm dengan pasir yang telah bersih dan menjenuhkannya.
3.4.1.2 Media Pembibitan
Persiapan media dilakukan dengan cara membersihkan tanah dari gulma dan akar tanaman selanjutnya mencampur tanah dan pasir dengan perbandingan 2:1 kemudian mengisi polybag yang berukuran 20 x 30 cm dengan tanah yang telah tercampur pasir dan menjenuhkannya.
3.4.2 Perkecambahan
Perkecambahan dilakukan dengan cara membersihkan biji kakao dari pulph dengan cara merendam biji dengan kapur selama 2 jam selanjutnya membuka pulph dengan abu gosok sampai bersih kemudian dibilas dengan air kemudian memasukkan biji kakao yang telah bersih ke dalam gelas aqua berdiameter 18,92 mm yang telah terisi tissue.
Setelah kecambah umur 1 bulan dipindahkan ke media perkecambahan yang kedua yaitu memasukkan ke dalam gelas aqua yang telah terisi pasiryang telah dijenuhkan sebelumnya.
3.4.3 Penanaman
Penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang berumur 2 bulan dari media perkecambahan ke dalam polybag yang telah diisi tanah bercampur pasir.
3.4.4 Aplikasi Mikoriza
Pengaplikasian Mikoriza Vesikula Arbuskula pada tanaman kakao disesuaikan tarafnya dengan perlakuan yang telah ditentukan yaitu aplikasi mikoriza MVA pada tanaman yang terdiri dari 4 taraf yaitu tanaman kakao tanpa aplikasi mikoriza (M0), 2,5 gr (M1), 5 gr (M2), dan aplikasi 10 gr (M3).

3.4.5 Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan, dan pembumbunan.Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari.Penyiangan dilakukan jika terdapat gulma yang tumbuh disekitar tanaman kakao dengan mencabut gulma disekitar tanaman.
3.5 Parameter Pengamatan :
1. Jumlah akar lateral, dihitung jumlah akar lateral yang terbentuk pada perakaran tanaman pada akhir penelitian.
2. Panjang akar lateral (cm), dihitung panjang akar lateral yang terbentuk pada perakaran tanaman pada akhir penelitian.
3. Bobot kering akar (g), ditimbang bobot kering akar yang terbentuk pada perakaran tanaman pada akhir penelitian.
4. Rata-rata tinggi tanaman (cm), diukur pertambahan tinggitanaman setiap 2 minggu sekali.
5. Jumlah daun (helai), dihitung jumlah daun yang telah terbentuk pada tanaman setiap 2 minggu sekali.
6. Bobot kering daun (g), ditimbang bobot kering daun yang terbentuk pada tanaman setiap 2 minggu sekali.
7. Bobot kering batang (g), ditimbang bobot kering batang yang terbentuk pada tanaman pada akhir penelitian.


8. Luas daun (cm2), diamati setiap dua minggu sekali dengan cara mengukur panjang dan lebar setiap daun. Cara menghitungnya yaitu :
Luas Daun = Panjang x Lebar x Konstanta (0,68) (Nasaruddin, 2010)
9. Rata-rata Indeks luas Daun (ILD ), dihitung setiap 2 minggu sekali dan diamati dengan menggunakan rumus

10. Pengamatan warna daun, diamati pada satu helai daun pertanaman yang berada di bawah flush dengan menggunakan kamera digital.
11. Analisis kadar hara daun, dilakukan pada akhir penelitian.












DAFTAR PUSTAKA
Abbott, L. K., A.D. Robson., D. A. Jasper and C. Gazey. 1992. What is the role VA mycorrhizal hyphae in soil .p: 37 – 41. Dalam D. J. Read. D. H. Lewis., A. H. Fitter & I. J. Alexander (penyunting). Mycorrhiza inEcosytem.CAB. International UK.
Bolan, N. S. 1991.A critical review on the role of mycorrhizal in the uptake of phosphorus by plants. Plant and Soil 134:189-209.
Brundett, M., N, Beeger., B. Dell., T. Groove. and N. Malajzuk, 1996. Working with Mycorrhizas in Forestry and Agriculture.ACIAR Monograph 32.374+xp.ISBN 186320 181 5.
Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Depatemen
Pertanian. 2004. Pedoman Teknologi Pengolahan Kakao, Jakarta.
Harjadi, S. S., dan S. Yahya, 1988. Fisiologi Stres Lingkungan. PAU Bioteknologi .IPB.236 p.
Kramer, P.J. 1969. Plant and Soil Water Relationships. Mc. Graw Hill Book Company. Inc. New York. 347 p.
Marschner, H.1995.Mineral nutrition of higher plant.Academic Press.London
Marschner, H. & B. Dell. 1994. Nutrien uptake in mycorrhizal symbiosis. Plant and. Sci. 159: 89-102.
Morton, J. B. and G. L. Benny. 1990. Revised classification of arbuscular mycorrhizal fungi (Zygomycetes). Mycotaxon.37 : 471 - 491..
Muljana, W., 2001.BercocoktanamCokelat. Aneka Ilmu, Semarang.
Nasaruddin, 2007.Keadaan Umum Pertanaman Sulawesi Selatan. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Nasaruddin, 2009. Kakao. Budidaya dan Beberapa Aspek Fisiologisnya. Jurusan Budidaya, Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Rizal, idrus. 2011.Produksi kakao di indonesia http://www.datacon.co.id/Outlook-2010agribisnis.htm. diakses pada tanggal 12 oktober 2011
Salisbury, F. B. & C.W. Ross.1995.Fisiologi Tumbuhan Jilid II Penerbit ITB.173p
Schenck, N. C. 1981. Can mycorrhizal control root diseases.Phytophat. 65 (3) : 231 - 234.
Setiadi, Y. 1989. Pemanafaatan Mikoriza dalam Kehutanan. PAU. Bogor 103 p.
Siregar, T.H.S, Slamet Riyadi, Laeli Nuraeni, 2007. Coklat. Penebar Swadaya, Jakarta
Sieverding .E., 1991.Vesicular-arbuskular mycorrhiza management intropical indegenous glomales.Deutsche .Jerman.342 p.
Smith, S. E. dan D. J. Read, 1997. Mycorrhizal Symbiosis. Akademic Press. California USA 35 p.
Wegel, E., Leif. S., Niels, S., Jens, S., and Martin, P. 1998. Mycorrhiza mutant of Lotus japonicus define genetically independent steps during symbiotic infection. Moleculer Plant-Microbe

Senin, 06 Juni 2011

teknik dan teknologi budidaya ubi kayu

TEKNOLOGI PRODUKSI UBI KAYU
Ubikayu umumnya ditanam di lahan kering yang sebagian besar kurang subur. Produktivitas di tingkat petani saat ini masih sekitar 12 t/ha umbi segar, padahal dengan teknologi budidaya yang tepat, varietas unggul baru ubikayu dapat menghasilkan lebih dari 35 t/ha umbi segar. Ubikayu biasa ditanam secara monokultur maupun tumpangsari dengan kacang-kacangan. Sebagian besar budidaya ditujukan untuk bahan baku industri tepung dan pakan, sehingga varietas yang ditanam dipilih yang mempunyai kadar pati tinggi. Untuk keperluan konsumsi langsung bisa dipilih varietas yang memiliki tekstur danrasa enak.
BUDIDAYA MONOKULTUR
1. Penggunaan bibit unggul.
• Stek untuk bibit sebaiknya diambil dari tanaman yang berumur lebih dari 8 bulan
• Kebutuhan bibit 10.000–15.000 stek per hektar.
2. Pengolahan tanah
• Tanah diolah sedalam sekitar 25 cm
• dibuat guludan/bedengan dengan jarak 80–130 cm
3. Penanaman.
Stek ditanam di guludan (jarak antarbaris 80–130 cm) dan jarak di dalam barisan 60–100 cm.
4. Pemupukan
• Umur 7–10 hari dipupuk 50 kg Urea, 100 kg SP36, dan50 kg KCl per hektar.
• Umur 2–3 bulan dipupuk 75 kg Urea dan 50 kg/ha KCl.
• Umur 5 bulan ditambahkan 75 kg/ha Urea.
5. Penyiangan, dilakukan seperlunya sehingga tanaman bebas gulma hingga umur 3 bulan.
6. Pembumbunan pada umur 2–3 bulan setelah tanam.
7. Pembatasan tunas dilakukan pada umur 1 bulan, dengan menyisakan 2 tunas yang paling baik.
8. Panen dapat dilakukan mulai umur 8–10 bulan, namun dapat ditunda hingga umur 12 bulan.

BUDIDAYA TUMPANGSARI
1. Penggunaan bibit unggul
• Stek untuk bibit sebaiknya diambil dari tanaman yang berumur lebih dari 8 bulan
2. Pengolahan tanah
• Tanah diolah sedalam sekitar 25 cm
• Guludan dibuat setelah panen tanaman sela (pembubunan)
3. Jarak tanam
• Jarak tanam ubikayu (50; 200) cm x 100 cm. 50 cm dan 200 cm adalah jarak antarbaris tanaman dan 100 cm adalah jarak antartanaman.
• Di antara baris tanaman yang berjarak 200 cm ditanami kedelai, kacang tanah atau kacang hijau.
4. Pemupukan untuk ubikayu
• Untuk daerah beriklim kering, pada saat ubikayu berumur 7–10 hari dipupuk dengan 100 kg ZA + 100 kg SP36 + 50 kg KCl/ha. Sedangkan untuk daerah beriklim basah dan masam, pupuk yang diberikan adalah 300 kg kapur, 50 kg Urea + 100 kg SP36, dan 50 kg KCl/ha.
• Umur 60 hari, dipupuk 75 kg Urea/ha.
• Umur120 hari dipupuk 75 kg Urea dan 50 kg KCl/ha.
5. Pemupukan untuk tanaman sela
Untuk daerah beriklim kering, tanaman kacang-kacangan dipupuk: 50 kg ZA, 100 kg SP36 dan 100 kg KCl/ha. Untuk daerah beriklim basah dan masam, pupuk yang diberikan adalah 300 kg kapur, 50 kg Urea, 100 kg SP36 dan 100 kg KCl/ha. Pupuk diberikan pada saat tanam.
6. Penyiangan menyesuaikan dengan kebutuhan, baik untuk tanaman ubikayu maupun untuk tanaman kacang-kacangan.
7. Pembatasan tunas ubikayu dilakukan pada umur 1 bulan, dengan menyisakan 2 tunas yang paling baik.
8. Setelah tanaman kacang-kacangan dipanen, sebaiknya ditanami tanaman penutup tanah (kanavalia atau komak).
9. Pengendalian hama atau penyakit hanya ditujukan untuk tanaman kacang-kacangan.
10. Ubikayu dapat dipanen pada umur 8–10 bulan, namun dapat ditunda hingga umur 12 bulan.

UBI KAYU
Pertanian merupakan salah satu sektor sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan luas lahan dan keragaman agroekosistem, peluang pengembangannya sangat besar dan beragam. Namun, sampai saat ini sector pertanian belum handal dalam mensejahterakan petani, memenuhi kebutuhan sendiri, menghasilkan devisa, dan menarik investasi (Karama, 2004). Menurut Hilman, dkk. (2004), khusus untuk ubikayu, perannya dalam perekonomian nasional terus menurun karena dianggap bukan komoditas prioritas sehingga kurang mendapat dukungan investasi baik dari sisi penelitian dan pengembangan, penyuluhan, pengadaan sarana dan prasarana, serta dalam pengaturan dan pelayanan. Akibatnya luas areal panen terus berkurang dan produktivitas tidak meningkat secara nyata.
Salah satunya penyebabnya adalah belum tepatnya teknologi untuk meningkatkan pendapatan petani ubikayu. Hal ini dikarenakan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia belum dimanfaatkan secara maksimal dalam pengelolaan usahatani ubi kayu baik di lahan kering maupun lahan sawah, sehingga produktivitas hasil pertanian masih sangat beragam. Selain itu juga disebabkan oleh kemampuan masyarakat yang masih beragam dalam menyesuaikan pola yang sudah dimiliki dengan sumberdaya lahan yang tersedia (Dahlan, 1995).
Kondisi di atas juga ditemui di Propinsi Sumatera Barat. Data BPS Sumatera Barat (2007) menunjukkan bahwa meskipun setiap tahun rata-rata produksi tanaman ubikayu cenderung meningkat (12,50-17,06 t/ha. namun lebih rendah dari potensinya yang mencapai 35-40 t/ha (Balitkabi, 2004). Sementara itu, permintaan terhadap komoditas ini cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, pesatnya perkembangan industri pangan dan pakan, serta meningkatnya volume ekspor ubikayu.
Permintaan akan ubikayu juga akan terus meningkat seiring dengan terus naiknya dan melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar dunia. Bagi Indonesia, kenaikan harga BBM akan menguras lebih banyak devisa karena sebagian besar kebutuhan BBM nasional dipenuhi oleh impor sehingga pemerintah telah mencanangkan program pemanfaatan sumber energi alternatif yang tertuang dalam Peraturan Presiden (PERPRES) No. 5 tahun 2006 tentang konsumsi energi biofuel lebih dari 5% pada tahun 2025, dan INPRES No. 1 tahun 2006 kepada Menteri Pertanian tentang percepatan penyediaan bahan baku biofuel. Salah satu alternative yaitu:
(1) biodiesel untuk mensubstitusi solar yang berasal dari minyak kelapa sawit dan minyak jarak pagar;
(2) bioethanol untuk mensubsitusi premium yang berasal dari ubikayu, sorgum, dan tebu. Berbagai penelitian menunjukkan bioethanol dapat digunakan untuk bahan campuran premium hingga kandungan 20% dengan kadar oktan 10% lebih tinggi dibandingkan dengan premium murni dan tidak mempengaruhi kinerja mesin kenderaan (Puslitbangtan, 2007).
Tugas DEPTAN adalah mendorong penyediaan bahan baku termasuk memfasilitasi penyediaan bibit dan mengintegrasikan kegiatan pengembangan dan pascapanen tanaman bahan baku biofuel.

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI
Menurut Wargiono (2007), untuk meningkatkan produksi ubikayu diperlukan strategi dengan paling tidak dua pendekatan, yaitu: (1) Penambahan Areal Panen; dan (2) Perbaikan Mutu Intensifikasi. Untuk mencapai tingkat produktivitas yang menguntungkan, mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut akan lebih efektif.
1. Penambahan Areal Panen (PAP) Peningkatan produksi dengan pendekatan PAP dapat dilakukan melalui:
• pembukaan lahan baru;
• tumpang sari; dan
• peningkatan indeks panen.
a. Pembukaan Lahan Baru. Untuk lahan baru, dapat memanfaatkan lahan tidur yang luasnya cukup besar di Propinsi Sumatera Barat.
b. Tumpang Sari. Tumpang sari bertujuan untuk meningkatkan areal tanam dengan cara tumpang sari dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, jagung, dan aneka kacang-kacangan serta dengan tanaman hutan industri dan perkebunan yang diremajakan. Kelebihan tumpang sari adalah: (1) efektif mengendalikan erosi; (2) meningkatkan efisiensi penggunaan lahan; (3) meningkatkan pendapatan bersih/tahun dan terdistribusi secara merata; (4) meningkatkan efisiensi penggunaan hara; dan (5) memperbaiki fisik dan kimia tanah. Sedangkan kekurangannya adalah: (1) terjadinya kompetisi pengambilan hara dan cahaya matahari antar tanaman; dan (2) curahan tenaga kerja yang lebih banyak. Pada lahan peka erosi dianjurkan menggunakan pola tumpang sari ubikayu dengan padi gogo dan aneka kacang-kacangan.
c. Peningkatan Indeks Panen. Peningkatan indeks panen dapat dilakukan yaitu penanaman ubikayu setelah padi, jagung, dan aneka kacang-kacangan monokultur di lahan kering dan setelah padi sawah pada lahan sawah tadah hujan.
2. Perbaikan Mutu Intensifikasi (PMI)
Upaya peningkatan produksi dengan pendekatan PMI diarahkan pada peningkatan produktivitas berdasarkan indikator tingkat hasil ubikayu belum menembus batas potensi genetiknya. Komponen teknologi yang perlu penanganan serius sejak awalnya adalah varietas yang sesuai dan bibit yang tersedia secara tujuh tepat (waktu, kuantitas, kualitas, harga, tempat, dan kontiniutas). Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan penangkaran bibit dari varietas terpilih, misalnya: Bibit Penjenis (BS) diperbanyak di Balai Benih atau kebun Percobaan yang diawasi oleh pemulia dan staf BPSB, Bibit Dasar (FS) dari penangkar BS akan diperbanyak penangkar lokal yang akan menghasilkan Bibit Pokok (SS) yang siap dikembangkan petani. Agar hasil ubikayu dapat ditingkatkan, perlu perakitan teknologi budidaya sesuai dengan spesifik daerah, meliputi antara lain: varietas, kualitas bibit, cara tanam, populasi tanaman, pemupukan, umur panen, dll).
Sementara itu, menurut Hilman, dkk (2004), agar ubikayu menjadi sumber pendapatan petani diperlukan dua pendekatan, yaitu: (1) Mempertahankan status quo produksi yang dimplementasikan ke dalam sistem tumpang sari dengan penerapan teknik budidaya intensif, menghemat penggunaan lahan dan sisa lahan untuk budidaya tanaman yang bernilai ekonomi tinggi; dan (2) Mengganti ubikayu dengan komoditas lain yang bernilai ekonomi, yang dimplementasikan ke dalam alih usahatani ubikayu ke lahan marjinal.
Mengacu kepada PERPRES No. 5 tahun 2006, peningkatan produksi ubikayu sebagai bahan baku bioethanol dapat diupayakan melalui beberapa pendekatan, yaitu:
a. pengembangan sistem produksi ramah lingkungan;
b. Peningkatan kemitraan antara swasta dan pemerintah
c. Pemberdayaan masyarakat; dan
d. Pengembangan teknologi hasil penelitian (Puslitbangtan, 2007). Dalam operasionalnya, upaya peningkatan produksi ubikayu dapat ditempuh melalui program intensifikasi oleh petani dan program ekstensifikasi dalam bentuk ”kebun energi” oleh pihak swasta atau industry bioethanol. Gubernur dan Bupati sangat berkepentingan dalam mengimplementasika INPRES No. 1 tahun 2006 dengan memfasilitasi penyediaan lahan bagi pengembangan ubikayu.

SYARAT TUMBUH
Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan curah hujan 150-200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100-150 mm pada fase menjelang dan saat panen (Wargiono, dkk., 2006). Berdasarkan karakteristik iklim di Indonesia dan kebutuhan air tersebut, ubikayu dapat dikembangkan di hampir semua kawasan, baik di daerah beriklim basah maupun beriklim kering sepanjang air tersedia sesuai dengan kebutuhan tanaman tiap fase pertumbuhan. Pada umumnya daerah sentra produksi ubikayu memiliki tipe iklim C, D, dan E (Wargiono, dkk., 1996), serta jenis lahan yang didominasi oleh tanah alkalin dan tanah masam, kurang subur, dan peka terhadap erosi.

VARIETAS UNGGUL
Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, disukai konsumen, dan sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya varietas unggul yang dibudidayakan memiliki sifat toleran kekeringan, toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran keracunan Al, dan efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al dan Ca, seperti: varietas Adira-4, Malang-6, UJ3, dan UJ5.
Jika produksi ubikayu ubikayu ditujukan untuk bahan baku industri tapioka atau tepung/serbuk ubikayu atau dikonsumsi langsung dalam bentuk ubikayu goreng atau rebus, disarankan menggunakan varietas unggul yang dilepas tahun 1978 yang memiliki rasa enak dan kualitas rebus yang baik, seperti: Adira-1, Malang-1, dan Darul Hidayah. Sisanya, termasuk Adira-4 yang dilepas tahun 1987 dan sampai sekarang masih cukup luas ditanam petani namun memiliki rasa pahit. Selain itu, yang dilepas terakhir yaitu: Malang-4 dan Malang-6. Juga varietas UJ-3 dan UJ-5 yang dilepas kemudian. Jika produksi ubikayu ditujukan untuk bahan baku bioethanol, harus memenuhi kriteria, yaitu:
a. berkadar pati tinggi;
b. Potensi hasil tinggi;
c. Tahan cekaman biotic dan abiotik; dan
d. Fleksibel dalam usahatani dan umur panen.
Dari 16 varietas unggul ubikayu yang telah dilepas Departemen Pertanian hingga saat ini, Adira-4, Malang-6, UJ-3, dan UJ-5 memiliki karakter yang sesuai dengan kriteria tersebut. Sifat penting dari keempat varietas ini adalah:
a. Daun tidak cepat gugur;
b. Adaptif pada tanah ber-pH tinggi dan rendah
c. Adaptif pada kondisi populasi tinggi sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma; dan
d. Dapat dikembangkan pada pola tumpang sari (Wargiono, dkk., 2006).
Karakteristik beberapa varietas unggul ubikayu.
• Adira-1
Dilepas tahun 1978; umur 7-10 bulan; bentuk daun menjari agak lonjong; warna pucuk daun coklat; warna tangkai daun merah bagian atas dan merah muda bagian bawah; warna batang muda hijau muda; warna batang tua coklat; warna kulit umbi coklat bagian luar dan kuning bagian dalam; warna daging umbi kuning; kualitas rebus baik; rasa enak; kadar tepung/pati 45%; kadar protein 0,5% (basah); kadar HCN 27,5 mg; hasil rata-rata 22 t/ha umbi basah; agak tahan tungau merah (Tetranichus bimaculatus); tahan bakteri hawar daun (Cassava Bacterial Blight, CBB), layu Pseudomonas solanacearum, Xanthomonas manihotis
• Adira-2
Dilepas tahun 1978; umur 8-12 bulan; bentuk daun menjari agak lonjong dan gemuk; warna pucuk daun ungu; warna tangkai daun merah muda bagian atas dan hijau muda bagian bawah; warna batang muda hijau muda; warna batang tua putih coklat; warna kulit umbi putih coklat bagian luar dan ungu muda bagian dalam; warna daging umbi putih; kualitas rebus baik; rasa agak pahit; kadar tepung/pati 41%; kadar protein 0,7% (basah); kadar HCN 124 mg/kg; hasil rata-rata 22 t/ha umbi basah; cukup tahan tungau merah (Tetranichus bimaculatus); tahan penyakit layu (Pseudomonas solanacearum)
• Darul Hidayah
Dilepas tahun 1998; Umur 8-12 bulan; Bentuk daun Menjari agak ramping; Warna daun pucuk Hijau agak kekuningan; Warna tungkai daun tua Merah; Warna batang muda Hijau; Warna batang tua Putih; Kulit ari batang Tipis mudah mengelupas (tidak tahan disimpan lama); Warna kulit umbi Bagian luar putih kecoklatan, bagian dalam merah jambu; Warna daging umbi Putih; Tekstur daging umbi Padat; Bentuk umbi Memanjang; Kualitas rebus Baik; Rasa Kenyal seperti ketan; Kadar pati 25,00– 31,52%; Kadar HCN Rendah (<40); Potensi hasil 102,10 t /ha umbi segar; Hama penyakit Agak peka terhadap serangan hama tungau merah (tetranichus sp) dan penyakit busuk jamur. • Adira-4 Dilepas tahun 1987; umur 8 bulan; bentuk daun biasa agak lonjong; warna pucuk daun hijau; warna tangkai daun merah kehijauan (muda hijau kemerahan) bagian atas dan hijau kemerahan (hijau muda) bagian bawah; warna batang muda hijau muda; warna batang tua abu-abu; warna kulit umbi coklat bagian luar dan ros bagian dalam; warna daging umbi putih; kualitas rebus bagus tetapi agak pahit; rasa agak pahit; kadar tepung/pati 25-30%; kadar protein 0,8% (basah); kadar HCN 68 mg/100 g; hasil 25-40 t/ha umbi basah; cukup tahan tungau merah (Tetranichus bimaculatus); tahan bakteri hawar daun CBB, layu Pseudomonas solanacearum, Xanthomonas manihotis. • Malang-1 Dilepas tahun 1992; umur 9-10 bulan; bentuk daun menjari agak gemuk; warna pucuk daun hijau keunguan; warna tangkai daun tua bagian atas dan bagian bawah hijau kekuning-kuningan dengan bercak merah ungu dibagian pangkal; warna batang muda hijau muda; warna batang tua hijau keabuabuan; warna kulit umbi putih kecoklatan bagian luar dan bagian dalam; warna daging umbi putih kekuningan; kualitas rebus baik; rasa agak pahit; kadar tepung/pati 32-36%; kadar protein 0,5% (basah); kadar HCN <40 mg/kg (metode asam pikrat); hasil rata-rata 36,5 t/ha umbi basah (24,3-48,7 t/ha); toleran tungau merah (Tetranichus bimaculatus); toleran bercak daun (Cercospora sp.). • Malang-2 Dilepas tahun 1992; umur 8-10 bulan; bentuk daun menjari dengan cuping sempit; warna pucuk daun hijau muda kekuningan; warna tangkai daun tua bagian atas dan bagian bawah hijau muda kekuningkuningan; warna batang muda hijau muda; warna batang tua coklat kemerahan; warna kulit umbi coklat kemerahan bagian luar dan putih kecoklatan bagian dalam; warna daging umbi kuning muda; kualitas rebus baik; rasa enak (manis); kadar tepung/pati 32-36%; kadar protein 0,5% (basah); kadar HCN <40 mg/kg (metode asam pikrat); hasil rata-rata 31,5 t/ha umbi basah (20-42 t/ha); agak peka tungau merah (Tetranichus bimaculatus); toleran bercak daun (Cercospora sp.) dan hawar daun CBB. • Malang-4 Tidak bercabang; agak tahan terhadap hama tungau merah; umur 9 bulan; hasil 39,7 t/ha; warna kulit luar umbi coklat; warna kulit dalam umbi putih; daging umbi putih, rasa pahit (kadar HCN>100 ppm); kadar tepung/pati 25-32%.
• Malang-6
Bercabang tinggi, agak tahan terhadap hama tungau merah (Tetranichus bimaculatus); umur 9 bulan; hasil 36,5 t/ha; warna kulit umbi putih; warna kulit dalam umbi kekuning-kuningan; daging umbi putih; rasa pahit (kadar HCN >100 ppm); kadar pati 25-32%.
• UJ-3
Tegak; tidak bercabang; tahan terhadap CBB; umur 8-10 bulan; hasil 35-40 t/ha; warna kulit umbi krem keputihan; warna kulit dalam umbi putih kemerahan; rasa pahit (kadar HCN >100 ppm); kadar tepung/pati 25-30%.
• UJ-5
Tidak bercabang; tahan terhadap CBB; umur 9 bulan; hasil 38 t/ha; warna kulit umbi putih; warna kulit dalam umbi keunguan; rasa pahit (kadar HCN >100 ppm); kadar pati 19-30%.


TEKNOLOGI BUDIDAYA
A. Penyiapan Bibit
Hasil yang tinggi dapat diperoleh bila tanaman tumbuh optimal dan seragam dengan populasi yang penuh. Kondisi tersebut dapat dicapai bila bibit yang digunakan memenuhi kriteria tujuh tepat, yaitu: waktu, kuantitas, kualitas, harga, tempat, dan kontiniutas. Faktor penghambat penyediaan bibit dengan kriteria tersebut adalah:
a. Varietas unggul ubikayu sulit berkembang karena mahalnya biaya transportasi bibit;
b. Tingkat penggandaan bibit rendah sehingga insentif bagi penangkar juga rendah;
c. Daya tumbuh bibit cepat turun bila penyimpanan lama; dan
d. Sebagian besar petani belum memerlukan bibit berlabel dari penangkar benih.
Untuk mengatasai masalah tersebut diperlukan sistem penangkaran benih secara insitu baik yang dikelola kelompok tani maupun petani secara individu.
Sumber bibit ubikayu berasal dari pembibitan tradisional berupa stek yang diambil dari tanaman yang berumur lebih dari 8 bulan dengan kebutuhan bibit untuk sistem budidaya ubikayu monokultur adalah 10.000-15.000 stek/ha (Tim Prima Tani, 2006). Untuk satu batang ubikayu hanya diperoleh 10-20 stek sehingga luas areal pembibitan minimal 20% dari luas areal yang akan ditanami ubikayu. Asal stek, diameter bibit, ukuran stek, dan lama penyimpanan bibit berpengaruh terhadap daya tumbuh dan hasil ubikayu Bibit yang dianjurkan untuk ditanam adalah stek dari batang bagian tengah dengan diameter batang 2-3 cm, panjang 15-20 cm, dan
tanpa penyimpanan.
B. Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan berupa pengolahan tanah bertujuan untuk:
• Memperbaiki struktur tanah;
• Menekan pertumbuhan gulma; dan
• Menerapkan system konservasi tanah untuk memperkecil peluang terjadinya erosi.
Tanah yang baik untuk budidaya ubikayu adalah memiliki struktur gembur atau remah yang dapat dipertahankan sejak fase awal pertumbuhan sampai panen. Kondisi tersebut dapat menjamin sirkulasi O2 dan CO2 di dalam tanah terutama pada lapisan olah sehingga aktivitas jasad renik dan fungsi akar optimal dalam penyerapan hara.

Kondisi Bibit Daya Tumbuh (%) Hasil (%)
Bagian Batang
Tengah
Pangkal
Pucuk 100
95
33 100
88
62
Diameter Stek
< 2 cm 2-3 cm > 3 cm 94
100
95 93
100
90
Panjang Stek
2 mata
3 mata
12 mata (20 cm) 95
96
100 88
98
100
Lama Penyimpanan
0 minggu
4 minggu
8 minggu 100
87
60 -
-
-

Menurut Tim Prima Tani (2006), tanah sebaiknya diolah dengan kedalaman sekitar 25 cm, kemudian dibuat bedengan dengan lebar bedengan dan jarak antar bedengan disesuaikan dengan jarak tanam ubikayu, yaitu 80-130 cm x 60-100 cm. Pada lahan miring atau peka erosi, tanah perlu dikelola dengan sistem konservasi, yaitu: (1) tanpa olah tanah; (2) olah tanah minimal; dan (3) olah tanah sempurna system guludan kontur. Pengolahan minimal (secara larik atau individual) efektif mengendalikan erosi tetapi hasil ubikayu seringkali rendah dan biaya pengendalian gulma relatif tinggi. Dalam hal ini tanah dibajak (dengan traktor 3-7 singkal piring atau hewan tradisional) dua kali atau satu kali yang diikuti dengan pembuatan guludan (ridging). Untuk lahan peka erosi, guludan juga berperan sebagai pengendali erosi sehingga guludan dibuat searah kontur

Tabel Pengaruh sistem pengolahan tanah terhadap hasil umbi segar dan tanahtererosi.
Perlakuan Hasil Umbi Segar t/ha) TanahTererosi(t/ha/thn)
Olah tanah minimal 15,0 7,6
Cangkul 1 kali 14,3 10,3
Bajak traktor 7 disc 2 kali 19,0 66,8
Bajak traktor 7 disc 1 kali + guludan kontur 25,4 30,8

C. Penanaman
Stek ditanam di guludan dengan jarak antar barisan tanaman 80-130 cm dan dalam barisan tanaman 60-100 cm untuk sistem monokultur (Tim Prima Tani, 2006). Sedangkan jarak tanam ubikayu untuk sistem tumpangsari dengan kacang tanah, kedelai, atau kacang hijau adalah 200x100 cm (Hilman, dkk., 2004), dan jarak tanam tanaman sela yang efektif mengendalikan erosi dan produktivitasnya tinggi adalah 40 cm antara barisan dan 10-15 cm dalam barisan. Penanaman stek ubikayu disarankan pada saat tanah dalam kondisi gembur dan lembab atau ketersediaan air pada lapisan olah sekitar 80% dari kapasitas lapang. Tanah dengan kondisi tersebut akan dapat menjamin kelancaran sirkulasi O2 dan CO2 serta meningkatkan aktivitas mikroba tanah sehingga dapat memacu pertumbuhan daun untuk menghasilkan fotosintat secara maksimal dan ditranslokasikan ke dalam umbi secara maksimal pula.
Posisi stek di tanah dan kedalaman tanam dapat mempengaruhi hasil ubikayu. Stek yang ditanam dengan posisi vertikal (tegak) dengan kedalaman sekitar 15 cm memberikan hasil tertinggi baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Penanam stek dengan posisi vertikal juga dapat memacu pertumbuhan akar dan menyebar merata di lapisan olah. Stek yang ditanam dengan posisi miring atau horizontal (mendatar), akarnya tidak terdistribusi secara merata seperti stek yang ditanam vertikal pada kedalaman 15 cm dan kepadatannya rendah.

D. Pemupukan
Pemupukan sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan produksi ubikayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hara yang hilang terbawa panen untuk setiap ton umbi segar adalah 6,54 kg N; 2,24 kg P2O5; dan 9,32 K2O/ha/musim, dimana 25% N, 30% P2O5, dan 26% K2O terdapat di dalam umbi (Wichmann, 1992). Berdasarkan perhitungan tersebut, hara yang terbawa panen ubikayu pada tingkat hasil 30 t/ha adalah 147,6 kg N; 47,4 kg P2O5; dan 179,4 kg K2O/ha. Untuk mendapatkan hasil tinggi tanpa menurunkan tingkat kesuburan tanah, hara yang terbawa panen tersebut harus diganti mel alui pemupukan setiap musim. Tanpa pemupukan akan terjadi pengurasan hara sehingga tingkat kesuburan tanah menurun. Pemupukan yang tidak rasional dan tidak berimbang juga dapat merusak kesuburan tanah.
Pemupukan harus dilakukan secara efisien sehingga didapatkan produksi tanaman dan pendapatan yang diharapkan. Umbi ubikayu adalah tempat menyimpan sementara hasil fotosintesis yang tidak digunakan untuk pertumbuhan vegetative tanaman. Dengan demikian, pertumbuhan vegetatif yang berlebihan akibat dosis pemupukan yang tinggi dapat menurunkan hasil panen. Efisiensi pemupukan dipengaruhi oleh jenis pupuk, varietas, jenis tanah, pola tanam, dan keberadaan unsure lainnya di dalam tanah.
Untuk pertanaman ubikayu sistem monokultur, disarankan pemberian pupuk anorganik sebanyak 200 kg Urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per hektar yang diberikan sebanyak tiga tahap. Tahap I umur 7-10 hari diberikan 50 kg Urea, 100 kg SP36, dan 50 kg KCl/ha, dan tahap II umur 2-3 bulan diberikan 75 kg Urea dan 50 kg 12 KCl/ha, serta tahap III umur 5 bulan diberikan lagi 75 kg Urea/ha. Pupuk organic (kotoran ternak) dapat digunakan sebanyak 1-2 t/ha pada saat tanam. Sedangkan untuk pertanaman ubikayu sistem tumpangsari, pada tanaman ubikayu diberikan pupuk anorganik sebanyak 100 kg ZA, 150 kg Urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per hektar yang diberikan sebanyak tiga tahap. Tahap I umur 7 hari diberikan 100 kg ZA, 100 kg
SP36, dan 50 kg KCl/ha, dan tahap II umur 2 bulan diberikan 75 kg Urea, serta tahap III umur 4 bulan diberikan lagi 75 kg Urea dan 50 kg KCl/ha. Untuk tanaman kacangankacangan, diberikan pupuk pada saat tanam sebanyak 100 kg ZA, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl/ha (pada daerah beriklim kering) atau 300 kg kapur tohor, 50 kg Urea, 100 kg SP36, 100 kg KCl/ha (pada daerah beriklim basah dan masam).

E. Pemeliharaan Tanaman
Kelemahan ubikayu pada fase pertumbuhan awal adalah tidak mampu berkompetisi dengan gulma. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah antara 5-10 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Untuk itu, penyiangan diperlukan hingga tanaman bebas dari gulma sampai berumur sekitar 3 bulan (Tim Prima Tani, 2006). Menurut Wargiono, dkk. (2006), pada bulan ke-4 kanopi ubikayu mulai menutup permukaan tanah sehingga pertumbuhan gulma mulai tertekan karena kecilnya penetrasi sinar matahari di antara ubikayu. Oleh karena itu, kondisi bebas gulma atau penyiangan pada bulan ke-4 tidak diperlukan karena tidak lagi mempengaruhi hasil (Tabel 6). Pada saat penyiangan, juga dilakukan pembumbunan, yaitu umur 2-3 bulan.

Tabel Pengaruh waktu bebas gulma terhadap hasil ubikayu.
Jumlah bulan bebas gulma
Hasil (t/ha)
Awal MH Akhir MH
0 bulan (kontrol) 5,83 9,56
2 bulan 24,34 20,98
3 bulan 24,28 22,61
4 bulan 22,59 21,25
Petani 20,23 19,89


Pemeliharaan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pembatasan tunas. Pada saat tanaman berumur 1 bulan dilakukan pemilihan tunas terbaik, tunas yang jelek dibuang sehingga tersisa dua tunas yang paling baik. Sementara itu, pengendalian hama dan penyakit tidak perlu dilakukan karena sampai saat ini tanaman ubikayu tidak memerlukan pengendalian hama dan penyakit. Bila di lapangan diperlukan pengendalian hama penyakit, maka tindakan yang dilakukan sbb.:
• Tungau/kutu merah (Tetranychus bimaculatus) dikendalikan secara mekanik dengan memetik daun sakit pada pagi hari dan kemudian dibakar. Pengendalian secara kimiawi menggunakan akarisida.
• Kutu sisik hitam (Parasaissetia nigra) dan kutu sisik putih (Anoidomytilus albus) dikendalikan secara mekanis dengan mencabut dan membatasi tanaman sakit menggunakan bibit sehat. Pengendalian secara kimiawi menggunakan perlakuan stek insektisida sepeeti tiodicarb dan oxydemeton methil.
• Penyakit bakteri B. manihotis dan X. manihotis menyerang daun muda dan P. solanacearum menyerang bagian akar tanaman sehingga tanaman layu dan mati. Pengendalian dapat dilakukan menggunakan varietas tahan/agak tahan.
• Penyakit lain adalah cendawan karat daun (Cercospora sp.), perusak batang (Glomerell sp.), dan perusak umbi (Fusarium sp.). Pengendalian dianjurkan menggunakan larutan belerang 5%.
• Penyakit virus mosaik (daun mengerting) belum ada rekomendasi pengendaliannya.
F. Panen
Waktu panen yang paling baik adalah pada saat kadar karbohidrat mencapai tingkat maksimal. Bobot umbi meningkat dengan bertambahnya umur panen, sedangkan kadar pati cenderung stabil pada umur 7-9 bulan. Hal ini menunjukan bahwa umur panen ubikayu fleksibel. Tim Prima Tani (2006) menganjurkan panen pada saat tanaman berumur 8-10 bulan dan dapat ditunda hingga berumur 12 bulan. Fleksibelitas umur panen tersebut memberi peluang petani melakukan pemanenan pada saat harga jual tinggi. Dalam kurun waktu 5 bulan tersebut (panen 8-12 bulan) dapat dilakukan pemanenan bila harga jual ubikayu naik karena tidak mungkin melakukan penyimpanan ubikayu di gudang penyimpanan seperti halnya tanaman pangan lainnya. Selain itu, pembeli biasanya akan membeli ubikayu dalam bentuk segar yang umurnya tidak lebih dari 2x24 jam dari saat panen.
















TUGAS INDIVIDU
BTKU


UBI KAYU








ANDI ARIE WIJA KUSUMA
G111 08 004



JURUSAN ILMU BUDIDAYA TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

pembangunan berkelanjutan teradap penrtanian berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengorbankan kesanggupan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka”.
Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam. Pertanian berwawasan lingkungan selalu memperhatikan nasabah tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan kesehatan. Sedang tujuan pertanian yang berwawasan lingkungan adalah mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah; meningkatkan dan mempertahankan basil pada aras yang optimal; mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman hayati dan ekosistem; dan yang lebih penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan makhluk hidup lainnya. Sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria, antara lain:
• Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam dan vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan/mulai dari kehidupan manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik, kesehatan tanah dan tanaman ditingkatkan, demikian juga kehidupan manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, dan menghindarkan terjadinya polusi. Menitikberatkan pada pemanfaatan sumberdaya terbarukan.
• Menguntungkan secara ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri/ pendapatan, dan cukup memperoleh pendapatan untuk membayar buruh dan biaya produksi lainnya. Keuntungan menurut ukuran ekonomi tidak hanya diukur langsung berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga berdasarkan fungsi kelestarian sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi terhadap lingkungan.
• Adil menurut pertimbangan sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan teknik dan memasarkan hasil. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama berpartisipasi dalam menentukan kebijkan, baik di lapangan maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
• Manusiawi terhadap semua bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan dan manusia) prinsip dasar semua bentuk kehidupan adalah saling mengenal dan hubungan kerja sama antar makhluk hidup adalah kebenaran, kejujuran, percaya diri, kerja sama dan saling membantu. Integritas budaya dan agama dari suatu masyarakat perlu dipertahankan dan dilestarikan.
• Dapat dengan mudah diadaptasi, berarti masyarakat pedesaan/petani mampu dalam menyesuaikan dengan perubahan kondisi usahatani: pertambahan penduduk, kebijakan dan permintaan pasar. Hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi yang sepadan, tetapi termasuk juga inovasi sosial dan budaya.
Suatu konsensus telah dikembangkan untuk mengantisipasi pertanian berkelanjutan. Sistem produksi yang dikembangkan berasaskan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yang kalau diterjemahkan sebagai (Pertanian Berkelanjutan/Lestari, Masukan Dari Luar Usahatani Rendah). Konsep ini dapat dijabarkan menjadi beberapa rakitan operasional, antara lain: meningkatkan produktivitas, melaksanakan konservasi energi dan sumberdaya alam, mencegah terjadinya erosi dan membatasi kehilangan unsur hara, meningkatkan keuntungan usahatani, memantapkan dan ketenlanjutan konservasi serta sistem produksi pertanian.
Konservasi merupakan faktor yang penting dalam pertanian berwawasan lingkungan. Konservasi sumberdaya terbarukan berarti sumberdaya tersebut harus dapat difungsikan secara berkelanjutan (continous). Sekarang kita sudah mulai sadar tentang potensi teknologi, kerapuhan lingkungan, dan kemampuan budi daya manusia untuk merusak lingkungan tersebut. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa ketersediaan sumberdaya adalah terbatas.
Pada dasarnya konservasi lahan diarahkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hidrologis, menjaga kelestarian sumber air, meningkatkan sumber daya alam serta memperbaiki kualitas lingkungan hidup yang pada gilirannya meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui usaha tani yang berkelanjutan. Pola usaha tani konservasi merupakan suatu bentuk pengusahaan lahan yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik/sipil teknik, vegetatif maupun kimiawi.
Pada dasarnya usahatani konservasi merupakan suatu paket teknologi usahatani yang bertujuan meningkatkan produksi dan pendapatan petani, serta melestarikan sumberdaya tanah dan air pada DAS-DAS kritis (Saragih, 1996), akan tetapi penyerapan teknologi tersebut masih relatif lambat disebabkan antara lain :
1. Besarnya modal yang diperlukan untuk penerapannya (khususnya untuk investasi bangunan konservasi.
2. Kurangnya tenaga penyuluh untuk mengkomunikasikan teknologi tersebut kepada petani.
3. Masih lemahnya kemampuan pemahaman petani untuk menerapkan teknologi usahatani kon-servasi sesuai yang diintroduksikan.
4. Keragaman komoditas yang diusahakan di DAS-DAS kritis.
5. Terbatasnya sarana/prasarana pendukung penerapan teknologi usaha tani konservasi.
Hal-hal tersebut diatas menunjukkan bahwa teknologi usahatani konservasi yang ada sekarang ini masih belum memadai sehingga perlu dicari teknologi yang lebih sesuai melalui kegiatan :
1. Penelitian komponen-komponen teknologi yang dapat mendukung paket teknologi usahatani konservasi.
2. Penelitian pengembangan teknologi yang sudah ada guna memodifikasi teknologi tersebut sesuai dengan kondisi agrofisik dan sosial ekonomi wilayah setempat
Tehnik konservasi tanah seperti pembuatan kontur, teras, penanaman dalam strip, penanaman penutup tanah, pemilihan pergiliran tanah yang cocok, penggunaan pupuk yang tepat, dan drainase dalam literatur sering dijabarkan sebagai tehnik yang melindungi atau memperbaiki tanah pertanian secara keseluruhan, akan tetapi perlu ditekankan bahwa tehnik-tehnik tersebut dapat efektif apabila penggunaan lahannya sudah cocok. Tidak ada agroteknologi yang memungkinkan tanaman dapat tumbuh dengan baik dan tidak ada tehnik konservasi yang dapat mencegah erosi kalau kondisi tanahnya tidak cocok untuk pertanian (Sinukaban, 1989).. Dalam tulisan ini dibahas beberapa agroteknologi dapat diterapkan petani di lahan pertaniannya. Beberapa diantaranya merupakan traditional wisdom, atau kearifan lokal yang menjadi sumber pertanian berkelanjutan sekarang ini.
Metode mekanik/sipil teknik, suatu bentuk metode konservasi tanah dengan menggunakan sarana fisik (tanah, batu dan lain-lain ) sebagai sarana bangunan konservasi tanah. Metode ini berfungsi untuk: a). memperlambat aliran permukaan, b). menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak. Beberapa cara yang diajurkan: (1) pengolahan tanah minimum, (2) pengolahan tanah menurut kontur, (3) pembuatan guludan dan teras, (4) pembuatan terjunan air, (5) pembuatan rorak / saluran buntu.
Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsjad, 2000), dikatakan selanjutnya bahwa konservasi tanah tidaklah berarti penundaan atau pelarangan pengunaan tanah, tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan, agar tanah dapat berfungsi secara lestari. Konservasi tanah berhubungan erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air, dan usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air. Salah satu tujuan konservasi tanah adalah meminimumkan erosi pada suatu lahan. Laju erosi yang masih lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan merupakan masalah yang bila tidak ditanggulangi akan menjebak petani kembali ke dalam siklus yang saling memiskinkan. Tindakan konservasi tanah merupakan cara untuk melestarikan sumberdaya alam.
Metode Vegetatif: suatu metode konservasi tanah dengan menggunakan tanaman atau tumbuhan dan seresah untuk mengurangi daya rusak hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan daya rusak aliran permukaan erosi. Metode ini berfungsi :
a) Melindungi tanah terhadap daya rusak butir-butir hujan yang jatuh,
b) Melindungi tanah terhadap daya perusahan aliran air,
c) Memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahan air yang mempengaruhi besarnya aliran permukaan,
d) Memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
Beberapa cara yang digunakan: sistem pertanaman lorong, strip rumput, tanaman penutup tanah, teras gulud, teras bangku, rorak, embung, mulsa, dan dam parit. Sedangkan metode kimia dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah melalui pemberian bahan kimia tanah (soil Conditioner).
Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam.
Pertanian Berkelanjutan Suatu Konsep Pemikiran Masa Depan. Pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang berlanjut untuk saat ini, saat yang akan datang dan selamanya. Artinya pertanian tetap ada dan bermanfaat bagi semuanya dan tidak menimbulkan bencana bagi semuanya. Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources), untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan. Menurut Gips, suatu sistem pertanian itu bisa disebut berkelanjutan jika memiliki sifat-sifat sbb:
• Mampertahankan fungsi ekologis, artinya tidak merusak ekologi pertanian itu sendiri
• Berlanjut secara ekonomis artinya mampu memberikan nilai yang layak bagi pelaksana pertanian itu dan tidak ada pihak yang diekploitasi. Masing-masing pihak mendapatkan hak sesuai dengan partisipasinya
• Adil berarti setiap pelaku pelaksanan pertanian mendapatkan hak-haknya tanpa dibatasi dan dibelunggu dan tidak melanggar hal yang lain
• Manusiawi artinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dimana harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi termasuk budaya yang telah ada
• Luwes yang berarri mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, dengan demikian pertanian berkelanjutan tidak statis tetapi dinamis bisa mengakomodir keinginan konsumen maupun produsen.
Salah satu alasan mengapa harus dilakukan pertanian berlanjut adalah pengalaman selama ini dimana input tinggi telah menyebabkan degradasi lahan secara nyata. Sebagai contoh penggunaan pestisida yang berlebihan menyebabkan resurgensi, resistensi dan munculnya hama penyakit sekunder. Adapun beberapa indikator yang memprihatinkan hasil evaluasi perkembangan kegiatan pertanian hingga saat ini, yaitu : (1) tingkat produktivitas lahan menurun, (2) tingkat kesuburan lahan merosot, (3) konversi lahan pertanian semakin meningkat, (4) luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas, (5) tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan pertanian meningkat, (6) daya dukung likungan merosot, (7) tingkat pengangguran di pedesaan meningkat, (8) daya tukar petani berkurang, (9) penghasilan dan kesejahteraan keluarga petani menurun, (10) kesenjangan antar kelompok masyarakat meningkat.
Produktivitas tanah dapat ditingkatkan hanya melalui pengolahan tanah dan tanaman secara terpadu. Dengan demikian pemahaman serbacakup (Comprehensive) faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tanah sangat diperlukan petani untuk meningkatkan produktivitas tanah. Usaha untuk memperbaiki produktivitas tanah dengan memperhatikan semua faktor yang berpengaruh dikenal sebagai membangun tanah secara terpadu.
Ketika perubahan dari kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan, perubahan sosial dan struktur ekonomi juga akan terjadi. Pada saat input menurun, terdapat hubungan yang menurun pula pada hubungan kerja terhadap petani yang selama ini terlibat dan mendapatkan manfaat dari pertanian konvensional. Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup, dan peningkatan kegiatan pertanian mereka. Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab intensif-intensif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat ini.
Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsjad, 2000). Dikatakan selanjutnya bahwa konservasi tanah tidaklah berarti penundaan atau pelarangan pengunaan tanah, tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan pelakuan sesuai dengan syarat syarat yang diperlukan , agar tanah dapat berfungsi secara lestari. Konservasi tanah berhubungan erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air, dan usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air. Salah satu tujuan konservasi tanah adalah meminimumkan erosi pada suatu lahan. Laju erosi yang masih lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan merupakan masalah yang bila tidak ditanggulangi akan menjebak petani kembali ke dalam siklus yang saling memiskinkan. Tindakan konservasi tanah merupakan cara untuk melestarikan sumberdaya alam.
Pada dasarnya usahatani konservasi merupakan suatu paket teknologi usahatani yang bertujuan meningkatkan produksi dan pendapatan petani, serta melestarikan sumberdaya tanah dan air pada DAS DAS kritis (Saragih, 1996). Akan tetapi penyerapan teknologi tersebut masih relatif lambat disebabkan antara. lain : 1. Besarnya modal yang diperlukan untuk penerapannya (khususnya untuk investasi bangunan konservasi) 2. Kurangnya tenaga penyuluh untuk mengkomunikasikan teknologi tersebut kepada petani 3. Masih lemahnya kemampuan pernahaman petani untuk menerapkan teknologi usahatani konservasi sesuai yang diintroduksikan. 4. Keragaman komoditas yang diusahakan di DAS DAS kritis 5. Terbatasnya sarana/prasarana pendukung penerapan teknologi usaha tani konservasi. Hal hal tersebut diatas menunjukkan bahwa teknologi usahatani konservasi yang ada sekarang ini masih belum memadai sehingga perlu dicari teknologi yang lebih sesuai melalui kegiatan : 1. Penelitian komponen komponen teknologi yang dapat mendukung paket teknologi usa¬ha tatani konservasi 2. Penelitian pengembangan teknologi yang sudah ada guna memodifikasi teknologi tersebut sesuai dengan kondisi agrofisik dan sosial ekonomi wilayah setempat. Tehnik konservasi tanah seperti pembuatan kontur, teras, penanaman dalam strip, tanaman penutup tanah, pemilihan pergiliran tanah yang cocok, penggunaan pupuk yang teratur dan drainase dalam literatur sering dijabarkan sebagai tehnik yang melindungi atau memperbaiki tanah pertanian secara keseluruhan, akan tetapi perlu ditekankan bahwa tehnik tehnik dapat efektif apabila penggunaan lahannya sudah cocok. Tidak ada agroteknologi yang memungkinkan tanaman dapat tumbuh dengan baik dan tidak ada tehnik konservasi yang mencegah erosi kalau kondisi tanahnya tidak cocok untuk pertanian (Sinukaban, 1989. Dalam tulisan ini dibabas beberapa agroteknologi dapat diterapkan petani di lahan pertaniannya. Beberapa diantaranya merupakan traditional wisdom, atau kearifan lokal.
Pengolahan tanah merupakan kebudayaan yang tertua dalam pertanian dan tetap diperlukan dalam pertanian modern. Pengolahan tanah bagaimana yang tepat untuk kelestarian sumberdaya tanah? Arsjad (2000), mendefinisikan pengolahan tanah sebagai setiap manipulasi mekanik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan pengolahan tanah adalah untuk menyiapkan tempat pesemaian, tempat bertanam, menciptakan daerah perakaran yang baik, membenarnkan sisa tanaman, dan membrantas gulma. Soepardi (1979), mengatakan mengolah tanah adalah untuk menciptak sifat olah yang baik, dan sifat ini mencerminkan keadaan fisik tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Cara pengolahan tanah sangat mempengaruhi struktur tanah alami yang baiki yang terbentuk karena penetrasi akar atau fauna tauna, apabila pengolahan tanah terIalu intensif maka struktur tanah akan rusak. Kebiasaan petani yang mengolah tanah secara berle¬bihan dimana tanah diolah sampai bersih pennukaannya merupakan salah satu contoh pengolahan yang keliru karena kondisi seperti ini mengakibatkan surface sealing yaitu butir tanah terdispersi oleh butir hujan , menyumbat pori pori tanah sehingga terbentuk surface crusting. Untuk mengatasi pengaruh buruk peng olahan tanah, maka dianjurkan beberapa cara pengolahan tanah konservasi yang dapat memperkecil terjadinya erosi. Cara yang dimaksud adalah: 1. Tanpa olah tanah (TOT), tanah yang akan ditanami tidak diolah dan sisa sisa tanaman sebelumnva dibiarkan tersebar di permukaan, yang akan melindungi tanah dari ancaman erosi selama masa yang sangat rawan yaitu pada saat pertumbuhan awal tanaman. Penanaman dilakukan dengan tugal. Gulma diberantas dengan menggunakan herbisida, 2. Pengolahan tanah minimal, tidak semua permukaan tanah diolah, hanya barisan tanaman saja yang diolah dan sebagian sisa sisa tanaman dibiarkan pada permukaan tanah 3. Pengolahan tanah menurut kontur, pengolahan tanah dilakukan memotong lereng sehingga terbentuk jalur jalur tumpukan tanah dan alur yang menurut kontur atau melintang lereng. Pengolahan tanah menurut kontur akan lebih efektif jika diikuti dengan penanarnan menurut kontur juga yang memungkinkan penyerapan air dan menghindarkan pengangkutan tanah. Sebagian dari praktek pengolahan tanah seperti ini sebenarnya sudah ada sejak dulu dan telah dilakukan oleh petani di beberapa daerah di Indonesia. Petani mungkin menganggapnya sebagai tradisi nenek moyangnya yang perlu dipertahankan. Walaupun saat itu belum ada penyuluh pertanian ataupun literatur tentang konservasi tanah, tetapi para petani telah menerapkan cara bertani yang berasaskan konservasi tanah. Mengolah tanah secara konservasi telah dilakukan oleh orang jaman dulu dengan tujuan untuk mendapatkan hasil dari usahataninya guna memenuhi kebutuhan hidup jangka pendek, dan mungkin belum terpikirkan oleh mereka untuk melestarikan sumber daya tanah.
Tanah Vegetasi sampai sekarang masih dianggap sebagai cara konservasi tanah yang paling jitu dalam mengontrol erosi tanah seperti yang diyakini sejumlah ahli konservasi bahwa “a bag offertilizer is more effective than a bag of cement” (Hudson, 1989). Erosi yang terjadi akan berbeda pada setiap penggunaan tanah, variasi ini tergantung pada pengelolaan tanaman. Contoh sederhana seperti yang dikemukakan Hudson (1957) cit. Hudson (1980), kehilangan tanah dari 2 plot percobaan yang ditanami jagung, plot yang pengelolaannya tanamannya buruk kehilangan tanahnya 15 kali lebih besar dari plot yang pengelolaan tanahnya baik. Secara alamiah, tanaman rumput cenderung melindungi tanah, dan tanaman dalam barisan memberikan perlindungan lebih kecil, tetapi pendapat umum ini berobah oleh pengelolaan. Pengelolaan tanaman akan sangat menentukan besar kecilnya erosi. Penelitian menunjukkan bahwa pertanaman jagung yang dikelola dengan baik akan bertumbuh baik dan dapat menekan laju erosi dibanding padang rumput yang pengelolaannya buruk. Secara singkat dikatakan oleh Hudson bahwa erosi tidak tergantung pada tanaman apa yang tumbuh, tetapi bagaimana tanaman itu tumbuh. Pengaruh tanaman dan pengelolaannya terhadap erosi tidak dapat dievaluasi secara terpisah karena pengaruhnya lebih ditentukan apabila keduanya dikombinasikan. Tanaman yang sama dapat ditanam secara terus menerus atau dapat juga digilir atau tumpang sari dengan tanam an lain. Pergiliran tanaman dengan menggilirkan antara tanaman pangan dan tanaman penutup tanah/pupuk hijau adalah salah satu cara penting dalarn konservasi tanah. Pergiliran tanaman mempengaruhi lamanya pergantian penutupan tanah oleh tajuk tanaman. Selain berfungsi sebagai pencegahan erosi, pergiliran tanaman memberikan keuntungan keuntungan lain seperti 1. Pemberantasan hama penyakit, menekan populasi hama dan penyakit karena memutuskan si klus hidup hama dan penyakit atau mengurangi sumber makanan dan tempat hidupnya 2. Pemberantasan gulma, penanaman satujenis tanaman tertentu terus menerus akan meningkatkan pertumbuhan jenis jenis gulma tertentu 3. Mempertahankan dan memperbaiki sifat sifiatfisik dan kesuburan tanah, jika sisa tanaman pergiliran dijadikan mulsa atau dibenamkan dalam tanah akan mempertinggi kemampuan tanah menahan dan menyerap air, mempertinggi stabilitas agregat dan kapasitas infiltrasi tanah dan tanaman tersebut adalah tanaman leguminosa akan menambah kandungan nitrogen tanah, dan akan memelihara keseimbangan unsur hara karena absorpsi unsur dari kedalaman yang berbeda. Ciri alam penting di daerah tropis seperti Indonesia adalah adanya intensitas penyinaran dan curah hujan yang tinggi dan hampir merata sepanjang tahun. Faktor geologi dan dibentuk oleh kondisi tersebut dan menghasilkan suatu proses yang cepat dari pembentukan tanah baik dari pelapukan serasah maupun baban induk. Sebagai hasil dari proses tersebut, sebagian besar hara tanah tersimpan dalam biomassa vegetasi, dan hanya sedikit yang tersimpan dalam lapisan olah tanah. Hal yang berbeda dengan kondisi di daerah iklim sedang dimana proses pertumbuhan vegetasi lambat dan sebagian besar hara tersimpan dalam lapisan olah tanah. Oleh karena itu pengangkutan vegetasi ataupun sisa panen tanaman keluar lahan pertanian akan membuat tanah mengalami proses pemiskinan. Sisa sisa panen tanaman dapat ditebar ke permukaan tanah, dicampurkan dekat permukaan tanah, atau dibajak dan dibenamkan dan dapat berfungi sebagai mulsa atau sebagai pupuk or ganik. Efektivitas pengelolaan sisa sisa tanaman ini dalam mengontrol erosi akan tergantung pada banyaknya sisa tanaman yang tersedia. Pemanfaatan sisa sisa panen sebagai sebagai pupuk juga telah dilakukan sebagian petani di beberapa daerah sejak jaman dulu. Sisa sisa panen yang dibiarkan atau ditinggalkan di lahan pertanian mempunyai banyak fungsi dalam menunjang usaha tani, diantaranya adalah sebagai mulsa yang dapat menghindarkan pengrusakan permukaan tanah oleh energi hujan, mempertahankan kelembaban tanah mengurangi penguapan, sisa panen lambat laun akan terdekomposisi terjadi mineralisasi yaitu perubahan bentuk organik menjadi anorganik sehingga unsur hara yang dilepaskan akan menjadi tersedia untuk tanaman. Disamping itu asam asam organik yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai bahan pembenah tanah atau soil conditioner. Praktek pertanian dengan berbagai jenis pupuk buatan pabrik semakin intensif digunakan sehingga mulai muncul kekuatiran kehabisan bahan baku pembuat pupuk, mulai mahal dan langkanya ketersediaan pupuk buatan, serta kekuatiran pencemaran tanah dan perairan oleh residu pupuk buatan, membuat sebagian orang kembali tertarik untuk melakukan praktek organic farming yang meminimalkan penggunaan bahan kimia dalam usahatani, dengan menggunakan bahan alami seperti pupuk hijau. Praktek yang dulu telah dilakukan petani walaupun tanpa disadarinya berfungsi untuk konservasi tanah, saat ini dilakukan lagi dengan kesadaran sebagai pelestarian sumber daya alam. Saat ini pemanfaatan sisa sisa panen, pupuk hijau, maupun limbah pengolahan produk pertanian (seperti limbah pabrik gula ) mulai diminati sebagai teknologi dalam usahatani yang ramah lingkungan dan merupakan appropriate inputfor sustainable agriculture (AISA) yaitu suatu sistern pertanian berkelanjutan dengan input yang sesuai agar meningkatkan pendapatan petani dari usahataninya dan menjamin kelestariaii ,sumberdaya alam. Dalam konsep ini lebih ditekankan pada memaksimalkan daur ulang dan meminimalkan kerusakan lingkungan. Dengan mengaplikasikan sisa sisa. panen ataupun bahan organik lainnya ke lahan pertanian maka akan memecahkan 2 masalah yaitu pengadaan pupuk organik dan masalah tempat pembuangan (berhubungan dengan pencemaran lingkungan). Dari bahasan diatas dapat dikatakan bahwa usaha untuk melestarikan sumberdaya alam sebenamya telah ada sejak dulu walaupun yang melakukannya tidak menyadarinya. Yang perlu dilakukan sekarang oleh adalah memberikan pemahaman bagi masyarakat petani akan manfaat usahatani konservasi.
Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam.

Sumber :
Browse > Home / Daulat Pangan / Refleksi Pengembangan Kapasitas Petani Melalui Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan
http//www.pertanianberkelanjutan.com
Supardi, G. 1979. Sifat dan Ciri Tanah. IPB. Bogor Suseno, F.M. 1995. Kuasa dan Moral. Penerbit PT Gramedia. Jakarta
Tarumingkeng, R.C. 1995. Dinamika Perkotaan: Acuan Penelitian Ukrida. Makalah pada Seminar Lokakarya Penyegaran dan Peningkatan Dalam Penelitian. FE UKRIDA
Anonim, 1996. Naskah Akademis Rancangan Undang Undang Konservasi Tanah dan Air. en. Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Dep. Kehutanan Arsjad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB Press. Bogor. Hudson, N. 1989. Soil Conservation. BT Batsf6rd Ltd. London.
Browse > Home / Daulat Pangan / Refleksi Pengembangan Kapasitas Petani Melalui Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan
Saragih, B. 1993. Pemantapan Perangkat Kelembagaan Sosial Ekonomi : Suatu Upaya Penanggulangan Kemiskinan di DAS Kritis. Dalam. : Sinukaban dkk (Ed). Konservasi Tanah dan Air Kunci Pemberdayaan Petani dan Pelestarian Sumberdaya Alam. Prosiding Kongres 11 dan Seminar Nasional MKTI, Yogyakarta.
SOLO POS (Degradasi lahan & ancaman bagi pertanian oleh Prof.Dr.Ir.H. Suntoro Wongso Atmojo. MS), Edukasi.net, Ilmu Tanah Fak. Pertanian UGM, dsbnya.
Supardi, G. 1979. Sifat dan Ciri Tanah. IPB. Bogor Suseno, F.M. 1995. Kuasa dan Moral. Penerbit PT Gramedia. Jakarta
Tarumingkeng, R.C. 1995. Dinamika Perkotaan: Acuan Penelitian Ukrida. Makalah pada Seminar Lokakarya Penyegaran dan Peningkatan Dalam Penelitian. FE UKRIDA