Jumat, 29 April 2011

PEMBUKAAN LAHAN KELAPA SAWIT UNTUK PERBAIKAN TARAF HIDUP RAKYAT DAN ISU PEMANASAN GLOBAL : PENDEKATAN UTILITARIAN PADA AGRIBISNIS

PEMBUKAAN LAHAN KELAPA SAWIT UNTUK PERBAIKAN TARAF
HIDUP RAKYAT DAN ISU PEMANASAN GLOBAL :
PENDEKATAN UTILITARIAN PADA AGRIBISNIS
Evi Thelia Sari
Dosen Jurusan IBM Fak.Ekonomi Univ.Ciputra dan Mahasiswa Program Master of Arts in
Agribusiness Management, PSU, Hatyai, Thailand
Chandra Wijaya
Mahasiswa Jurusan IBM Fak. Ekonomi Univ. Ciputra, Surabaya
ABSTRAKSI
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi perkebunan yang sangat bermanfaat bagi peningkatan devisa Indonesia dan taraf hidup masyarakat. Sebagai produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia pada tahun 2006 dan memiliki lahan kelapa sawit terluas di dunia, Indonesia menjadi sorotan pemerhati lingkungan, khususnya dalam hal isu pemanasan global. Sementara di Indonesia sendiri, kelapa sawit memiliki peranan sangat penting bagi pengembangan daerah tertinggal dan penciptaan lapangan kerja (Chandran, 2008). Salah satu isu etika dalam agribisnis menurut Schroder dan Muschamp (2000), adalah mengenai lingkungan, yaitu berkenaan dengan kemakmuran atau keberlangsungan generasi sekarang dan yang akan datang, dan berkenaan dengan keberlangsungan spesies non-manusia. Paper ini akan membahas secara konseptual mengenai analisis pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan isu pemanasan global berdasarkan pendekatan utilitarian. Diharapkan melalui pembahasan dalam paper ini, industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia mampu merespon dengan tepat isu pemanasan global yang gencar diarahkan terhadap program pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit sebagai langkah awal dalam memulai bisnis kelapa sawit demi memajukan perekonomian masyarakat daerah tertinggal.
Kata kunci: etika dalam agribisnis, pendekatan utilitarian, pemanasan global, lahan perkebunan kelapa sawit
PENDAHULUAN
Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang menjadi primadona Indonesia saat ini karena menjadi sumber penghasil devisa non migas. Cerahnya prospek komoditi minyak sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Selama 14 tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 2,35 juta ha, yaitu dari 606.780 ha pada tahun 1986 menjadi hampir 3 juta ha pada tahun 1999. Dan pada tahun 2004 luas area lahan sawit di Indonesia berkembang menjadi 3.320.000 ha. (ISTA Mielke, 2004). Hal ini disebabkan prospek yang sangat cerah untuk bisnis kelapa sawit, karena kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam mulai dari produk makanan, produk kimia sampai dengan bahan dasar penghasil energi. Seiring dengan kenaikan harga minyak konvensional dunia yang mencapai US$ 143 per barel pada Juli 2008 dan akan cenderung meningkat pada waktu-waktu mendatang, membuat negara-negara di dunia mencari material dasar lain untuk sumber energi. Salah satu pilihannya adalah bio diesel, yang diproduksi utamanya dari kelapa sawit. Meski pada beberapa kurun waktu belakangan ini, bio fuel juga dapat diproduksi dari tanaman jarak dan beberapa komoditas pertanian lainnya. Akan tetapi agaknya, yang lebih populer di mata konsumen bio energi adalah kelapa sawit. Hal ini yang akhirnya mendorong Indonesia untuk terus membuka lahan baru bagi kelapa sawit. Efek dari pembukaan lahan ini dinilai bagus untuk masyarakat sekitar perkebunan, terlepas dari efek lingkungan yang mengikuti pembukaan lahan. Dampak positif dari pembukaan lahan sawit adalah penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar perkebunan, dan terpenuhinya kebutuhan masyarakat dalam hal produk-produk dari kelapa sawit, seperti produk makanan, oleokimia seperti sabun, deterjen, dan juga komestik, juga kebutuhan akan energi Meski demikian beberapa aliansi pecinta lingkungan seperti Walhi, WWF, dan Green Force, agaknya cukup gerah dengan rencana pemerintah Indonesia membuka lahan baru kelapa sawit. Dengan alasan, pembukaan lahan kelapa sawit baru berarti memberikan kontribusi terhadap kerusakan lingkungan utamanya dalam hal pemanasan global. Dimulai daripengembangan areal perkebunan kelapa sawit yang utamanya dibangun pada areal hutan konversi padahal lahan kritis di Indonesia sudah mencapai 30 juta hektar akibat eksploitasi hutan untuk berbagai keperluan (Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan, 2000), sampai dengan dampak yang lebih jauh terhadap pemanasan global akibat kenaikan temperatur dunia karena tidak adanya penahan CO2 yang biasanya terserap oleh zat hijau daun atau tumbuh-tumbuhan, padahal semakin banyak jumlah penduduk dunia, semakin banyak energi yang dikeluarkan oleh manusia dan menghasilkan CO2 (Reinhardt, 2007). Apalagi, justru pembukaan lahan sawit ada pada hutan konversi atau hutan lindung yang memiliki jumlah pepohonan paling banyak dan memiliki banyak manfaat terhadap ekosistem sekitarnya.
Pemerintah Indonesia agaknya memiliki dilema terlepas dari benar atau tidaknya ’tuduhan’ bahwa Indonesia memiliki kontribusi terhadap pemanasan global. Di satu sisi, pemerintah berkewajiban memakmurkan rakyatnya, dan salah satunya dengan pembukaan lahan sawit, untuk memakmurkan masyarakat sekitar lokasi perkebunan, tetapi di sisi lain, isu pemanasan global akibat pembukaan lahan sawit tidak bisa di diamkan begitu saja. Apapun jenis bisnis yang dikembangkan pemerintah, bahkan agribisnis sekalipun, diharapkan tetap memperhatikan nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial.
Salah satu paham etika yang digunakan pada paper ini adalah utilitarian ethics atau etika konsekuensi atau teleology, yang menitik beratkan pada sisi outcomes dari perilaku etis daripada motivasi melakukan sesuatu (Schroder & Muschamp, 2000). Paper ini akan membahas secara konseptual mengenai analisis pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan isu pemanasan global berdasarkan pendekatan utilitarian. Jadi dalam paper ini nantinya akan dibahas mengenai nilai etika utilitarian pada aktivitas pembukaan lahan kelapa sawit, apakah konsekuensi dari pembukaan lahan kelapa sawit itu bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat setempat atau kah justru merugikan. Diharapkan melalui pembahasan dalam paper ini, industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia mampu merespon dengan tepat isu pemanasan global yang gencar diarahkan terhadap program pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia, sementara pembukaan lahan sawit adalah langkah awal dalam memulai bisnis kelapa sawit demi memajukan perekonomian masyarakat daerah tertinggal. Pada akhir paper ini akan disertakan pula usulanThe usulan teoritis yang mungkin dapat dilakukan oleh para pengambil kebijakan utamanya pemerintah Indonesia dalam hal kelapa sawit.

PEMBAHASAN
Perkebunan kelapa sawit
Di Indonesia, kelapa sawit sangat penting bagi pengembangan daerah tertinggal dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah terus menerus menyesuaikan kebijakan untuk meningkatkan daya tarik investasi. Tetapi kendala yang muncul dan memakan waktu yang lama adalah pengembangan infrastruktur, keterbatasan tenaga ahli dan konflik-konflik tanah, social dan lingkungan (Chandran, 2008). Indonesia memiliki 30-60 juta jiwa bergantung pada hutan selain itu 10% hutan yang masih tersisa di dunia ada di Indonesia dihuni oleh 10% spesies tanaman, 12% mamalia, 16% reptil, dan 17% unggas yang ada di dunia. Selain itu, dari 11 juta ha lahan sawit di dunia, 6 juta ha berada di Indonesia. Bisa dimaklumi jika pecinta lingkungan menuding Indonesia sebagai biang pemanasan global akibat dampak negatif dari pembukaan lahan kelapa sawit. Padahal pemerintah Indonesia masih memiliki target lahan dua kali lipat dari jumlah sekarang pada tahun 2020 (Yuwono, et al., 2007).
Pengembangan sawit menyebabkan kerusakan hutan tropis dan pelepasan emisi karbon yang sangat besar karena pengelolaan lahan gambut dan kebakaran hutan. Pengelolaan lahan gambut dan deforestasi untuk kelapa sawit harus diperhatikan dengan seksama. Mengingat di Asia lahan gambut ditumbuhi hutan di Asia Tenggara 20 juta ha. Dampak pengelolaan lahan gambut antara lain drainase untuk pertanian dan kehutanan yang dikaitkan dengan kebakaran hutan, penyusutan gambut, infrastruktur dan polusi (Chandran, 2008). Hal ini terjadi karena dalam kegiatan pembukaan lahan (land clearing) untuk membangun perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan cara membakar agar cepat dan biayanya murah.
Salah satu bukti nyata adalah pada saat terjadi bencana nasional kebakaran hutan tahun 1997 media masa nasional melaporkan bahwa dari 176 perusahaan yang dituduh melakukan pembakaran hutan dalam pembukaan lahan, terdapat 133 perusahaan perkebunan (Down to Earth, 1997). Oleh karena itu, pembangunan perkebunan kelapa sawit turut bertanggung jawab sebagai salah satu penyebab utama bencana kebakaran hutan dan lahan seluas 10 juta hektar pada tahun 1998/97. Total kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997/98 diperkirakan mencapai US$ 9,3 milyar (Bappenas, 2000). Selain itu ditengarai para investor lebih suka untuk membangun perkebunan kelapa sawit pada kawasan hutan konversi karena mereka mendapatkan keuntungan besar berupa kayu IPK (Ijin Pemanfaatan Kayu) dari areal hutan alam yang dikonversi menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Kayu IPK sangat dibutuhkan oleh industri perkayuan di Indonesia, terutama industri pulp dan kertas, khususnya setelah produksi kayu bulat yang berasal dari hutan alam produksi. Melihat kenyataan yang demikian agaknya kegiatan konversi hutan untuk pembangunan areal perkebunan kelapa sawit telah menjadi salah satu sumber pengrusakan (deforestasi) hutan alam Indonesia, dan sekaligus menjadi ancaman terhadap hilangnya kekayaan keanekaragaman hayati yang terdapat dalam ekosistem hutan hujan tropis Indonesia, serta menyebabkan berkurang/hilangnya habitat satwa liar. Belum lagi akibat terhadap kenaikan temperatur suhu dunia yang memanas (global warming). Sebagai informasi, laju deforestasi hutan Indonesia pada periode tahun 1985-1998 tidak kurang dari 1,6 juta hektar per tahun (Dephutbun, 2000).
Pemanasan Global
Dalam jangka waktu panjang penebangan hutan untuk lahan sawit khususnya, atau untuk aktivitas lainnya, akan menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan karena praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit ternyata seringkali menjadi penyebab utama bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Hal ini menyebabkan pelepasan CO2 yang lebih besar ke udara, tanpa mampu terserap dengan baik, karena tumbuhan hijau yang menyerapnya telah musnah diperparah dengan semakin banyaknya CO2 yang dilepaskan karena pembakaran yang lebih banyak. Bagaimanapun juga, hal ini menyebabkan perubahan iklim mengancam elemen dasar menausia di dunia seperti akses terhadap air, makanan, kesehatan, penggunaan lahan dan lingkungan (Stern, 2007). Pembakaran yang melepaskan emisi CO2 menyebabkan pemanasan global yang diakibatkan oleh naiknya temperatur dunia. Kenaikan temperatur dunia ini dapat mencapai 2-3 oC dalam waktu 50 tahun ke depan, dan akan mengakibatkan kekeringan dan banjir (Stern, 2007: 65). Beberapa akibat dari kenaikan temperatur ini antara lain:
• Melelehnya glacier atau bukit es di kutub. Hal ini menyebabkan resiko bangjir selama musim hujan dan mengurangi persediaan air pada musim kemarau bagi 1/6 penduduk dunia, utamanya di India, sebagian Cina dan Andes di Amerika Selatan.
• Berkurangnya lahan tanaman, terutama di Afrika yang bisa jadi akan menyebabkan ratusan juta orang tidak mampu memproduksi atau membeli makanan dengan cukup.
• Kerusakan pada laut, merupakan effect langsung pada peningkatan karbondioksida dan akan menghasilkan efek pada ekosistem dan akibatnya akan mengurangi stok hasil laut, utamanya ikan.
• Naiknya volume air laut, jika pemanasan global mencapai 3-4 oC makan tiap tahun manusia akan mengalami banjir.
• Peningkatan angka kematian akibat mal nutrisi dan hawa panas
• Pada pertengahan abad ini, 200 juta orang lebih akan mengalami ’permanently displaced’
• akibat jangka panjang dari kenaikan volume air laut, yaitu banjir, kekeringan atau tanah longsor.
• Ekosistem akan terpengaruh, utamanya sekitar 15-40% spesies akan punah dengan pemanasan 2oC.
Melihat dari dampak jangka panjang pemanasan global yang cukup ’mengerikan’ ini, setidaknya pemerintah Indonesia harus mengambil sikap atau jalan tengah. Jika di satu sisi pembukaan lahan sawit harus dilakukan demi peningkatan kemakmuran rakyat, dan di sisi lain malah memberikan dampak-dampak tersebut, maka pemerintah, entah benar atau tidaknya ’tuduhan’ greenist atau pecinta lingkungan bahwasanya lahan sawit menyebabkan pemanasan global, harus berusaha untuk menyikapi secara benar dan arif serta membuat keputusan yang tepat yang tidak merugikan masyarakat dan lingkungan.
Etika Dalam Agribisnis
Pada umumnya orang menganggap pertanian adalah sebuah usaha yang secara kasat mata dinilai etis karena produk-produknya yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Produk pertanian berupa bahan makanan sangat diperlukan oleh umat manusia, karena makanan merupakan kebutuhan pokok manusia di belahan dunia manapun. Tetapi etika sendiri tidak bias dilihat dari satu sisi motivasi saja. Kita perlu melihat dampak dari usaha pertanian itu sendiri apakah dampaknya selalu berguna dan aman bagi manusia atau tidak. Mungkin selama ini tidak terpikirkan bagaimana pengusahaan lahan untuk pertanian dan dampaknya bagi ekosistem dan bagaimana dampak pemakaian pupuk pada tanah, air dan udara.
Fungsi bisnis secara mikro maupun makro sebuah bisnis yang baik harus memiliki etika dan tanggung jawab soal (Sukardi dan Sari, 2007). Pada masa mendatang sebuah bisnis yang memiliki etika yang baik akan mendapatkan keuntungan bukan hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi lingkungan sekitarnya seperti konsumen, masyarakat, supplier dan kreditur. Kata ’etika’ sendiri berasal dari ’ethos’ dan diterjemahkan dari bentuk jamak dari ’ethos’ yaitu ta etha yang diartikan oleh Aristoteles (384-322 SM) untuk menunjukkan bahwa etika adalah filsafat moral. Pendeknya, etika adalah ilmu yang secara khusus menyoroti perilaku manusia dari segi moral, bukan dari fisik, etnis dan sebagainya (Sukardi dan Sari, 2007). Nilai-nilai dalam etika ini berlaku secara universal. Etika bisnis sendiri memiliki definisi yang beragam, tetapi memiliki pengertian yang sama, yaitu tata cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal dan secara ekonomi/sosial, penerapan norma dan moralitas ini menunjang maksud dan tujuan kegiatan bisnis. Ada pula yang mendefinisikannya sebagai batasan-batasan sosial, ekonomi, dan hukum yang bersumber dari nilai-nilai moral masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan oleh perusahaan dalam setiap aktivitasnya (Amirullah dan Imam Hardjanto, 2005). Dalam menganalisa etika dalam bisnis atau dalam bidang lain, termasuk agribisnis, setidaknya ada dua macam tipe kategori masalah etika (Nash, 1990), yaitu tipe I dan tipe II. Tipe I menyatakan tidak ada konsensus pada isu-isu etika dari suatu tindakan. Contohnya, modifikasi genetika pada tanaman atau penggunaan binatang pada penelitian bio medis. Sedangkan pada tipe II, mengandung konsensus umum mengenai norma yang sesuai, standar atau tindakan tertentu, tapi masyarakat cenderung melanggar konsensus, seperti pada kasus pencemaran limbah pada aliran sungai. Semua orang mengetahui kalau hal tersebut tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun moral, karena merugikan masyarakat banyak, apalagi air adalah kebutuhan pokok manusia. Tetapi mengapa masih ada yang melanggar dan melakukan pencemaran? pertanyaan seperti ini muncul pada masalah tipe II.
Pada agribisnis kelapa sawit, masalah tipe I terdapat pada kasus yang menjadi topik paper ini, yakni penggunaan hutan konversi untuk pembukaan lahan baru kelapa sawit, sementara kelapa sawit sangat diperlukan oleh manusia. Menurut James (2002), pertanian merupakan contoh masalah etika tipe I, yakni adanya konflik antara teori utilitarian dan deontologi.
Mengenai boleh atau tidaknya suatu tindakan dilakukan karena suatu tindakan akan membawa efek bagi pihak lain. Bahkan ekstrimnya, pertanian itu harus dibatasi sedemikian rupa agar tidak membahayakan lingkungan, mengingat ketika memulai mengusahakan pertanian, maka akan timbul persoalan baru, seperti pembebasan lahan dan penggunaan pestisida yang dapat mencemari tanah, air dan udara meski pertanian berguna untuk menghasilkan makanan bagi manusia.
Tipe I semakin menguat dengan adanya dua teori etika yang dominan, yakni utilitarian dan deontologi (James, 2000). Dari sisi utilitarian, suatu tindakan dikatakn etis apabila total kemakmuran yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari pada total kemakmuran yang dapat dihasilkan oleh perlaku tindakan pada posisi yang sama. Dalam bisnis kelapa sawit, jika pembukaan lahan membawa kemakmuran yang lebih besar dari semua pihak dibandingkan jika tidak dilakukan pembukaan lahan sawit. Kontroversi pembukaan lahan sawit yang terus menerus dan ditengarai menimbulkan pemanasan global merupakan ciri khas tipe I.
Pada tipe II, masalah etika akan muncul ketika suatu pihak/individu memiliki insentif untuk melanggar etika yang ada. oleh sebab itu biasanya masalah tipe II ini muncul setelah masalah tipe I terpecahkan, dimana masalah tipe I adalah menitikberatkan pada konsensus, sementara pada tipe II adalah salah satu konsistensi dan kepatuhan. Tipe II tidak memperhatikan konflik perspektif antar individu tetapi lebih ke arah adanya insentif tertentu terhadap pelanggaran suatu norma etika. Tipe II lebih mudah dipahami ketika kita mengenali bahwa perilaku etis dipengaruhi oleh faktor individu dan institusi. Pada tingkat individu etika dipengaruhi oleh sensitivitas, nilai personal dan perkembangan moral seseorang, sejalan dengan sikap, kepercayaan dan keinginannya. Sedangkan pada tingkat institusional, perilaku etis dipernfaruhi oleh kondisi faktor eksternal terhadap individual seperti struktur organisasi formal, perangkat hukum, budaya informal dan mekanisme peraturan.
Masalah bisnis yang diangkat pada paper ini adalah agribisnis kelapa sawit yang difokuskan pada pembukaan lahan sawit berkaitan dengan isu pemanasan global. Masalah etik tipe I pada kasus ini adalah konflik perspektif mengenai dampak pembukaan lahan sawit. Pada beberapa pihak berpendapat, pembukaan lahan sawit hanya akan mengurangi jumlah hutan konversi di Indonesia. Karena pembukaan lahan sawit biasanya menggunakan system pembebasan lahan konversi. Sejalan dengan hal tersebut, kurangnya hutan konversi mengakibatkan dampak negatif yang langsung dan tidak langsung bagi masyarakat sekitarnya dan juga bagi masyarakat di luar lokasi. Hutan yang telah ditebang, tidak mampu lagi menjadi penyimpan air saat hujan turun, sehingga timbullah banjir dan tanah longsor, akibat tidak adanya pohon-pohon sebagai penahan. Dalam jangka panjang, kurangnya jumlah hutan konversi tersebut akan mengakibatkan naiknya temperatur dunia karena pelepasan karbon dioksida tidak terbendung lagi dan tidak mampu diserap oleh tumbuhan. Sementara itu pihak yang setuju dengan pembukaan lahan baru kelapa sawit berpendapa bahwa lahan baru tersebut akan memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar, sehingga meningkatkan peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan sehingga dalam jangka panjang akan meningkatkan angka kemakmuran rakyat. Belum lagi, tren bisnis kelapa sawit yang konsisten pada tingkat yang tinggi, akan merangsang pemerintah untuk meningkatkan hasil produksi kelapa sawit sehingga volume ekspor kelapa sawit dan produk-produk turunannya meningkat. Selain itu, penggunaan bio fuel kelapa sawit mampu menggantikan energi dari fosil yaitu minyak dan gas bumi yang belakangan harganya di pasaran dunia meningkat tajam. Dari konflik yang terjadi pada tipe I, agaknya akan diikuti oleh tipe II, yakni jika pembukaan lahan hutan konversi untuk lahan kelapa sawit menimbulkan dampak negatif yang cukup ’mengerikan’ dibandingkan dampak positif yang sepertinya menguntungkan tetapi pada kenyataannya hanya segelintir orang yang mampu menikmatinya, mengapa permbukaan lahan sawit sepertinya terus berlangsung di Indonesia? Mengenai hal ini, rupanya, insentif dasar pertimbangan untuk jawaban permasalahan tipe II telah berlangsung pada level institusional, yakni negara atau pemerintah Indonesia. Pemerintah sepertinya lebih memilih memanfaatkan tren pasar dunia terhadap komoditi kelapa sawit daripada memusingkan masalah lingkungan yang dapat rusak karena pembukaan lahan sawit yang terus menerus. Insentif yang diterima pemerintah dari ’perusakan’ lingkungan ini tentu saja berupa rupiah yang terus mengalir dari peningkatan volume ekspor kelapa sawit. Selain itu berkembangnya sub-sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama kemudahan dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIR-Bun dan dalam pembukaan wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta. Hal ini yang menambah keyakinan bahwa ke depan, pembukaan lahan sawit baru akan terus berlangsung.


Pendekatan Utilitarian
Etika menurut Schoerder dan Muschamp (2005) memiliki empat pendekatan, yaitu :
- Utilitarianism (teleology/consequentism)
- Deontology
- virtue ethics
- Rights Ethics
Akan tetapi dari ke empat pendekatan atau teori tersebut yang terbesar adalah utilitarian dan deontologi. Maka dalam paper ini hanya akan dijelaskan kedua teori tersebut dan selanjutnya akan menggunakan teori utilitarian untuk membahas masalah yang diangkat dalam paper. Utilitarian merupakan pendekatan atau teori etika yang memusatkan pada hasil dari perilaku etis daripada motivasi yang mendorong dikalkukannya suatu aktivitas tertentu. Ada tiga hal yang menimbulkan teori utilitarian, yakni:
- Karena kita tidak dapat mengetahu pasti hubungan antara tindakan dan konsekuensinya
- Tradeoff atau konflik memang perlu ada
- Dalam masyarakat Barat, kita menerima bahwa semua individu sesungguhnya
memiliki hak asasi termasuk hak untuk hidup dan hal ini tidak dapat dilanggar bahkan apabila ada tawaran peningkatan kemakmuran. Kelebihan dari teori utilitarian ini adalah bahwa teori ini tidak bias dan tidak bersifat pribadi karena prinsip maksimisasi utilitas menghendaki pelaku tidak mementingkan salah satu pihak di atas pihak yang lainnya, serta untuk dunia manajerial, hal ini berkaitan erat dengan analisis keputusan mengenai akibat keputusan bisnis bagi stakeholder. Sedangkan teori deontologi yang berasal dari Immanuel Kant (1724-1804) memiliki cirri khas fokus pada individual. Sistem deontologi dibangun dari tiga dasar, yaitu rules, duties, dan rights atau hukum, kewajiban dan hak. Kant berpendapat bahwa tiap orang memiliki maxim atau hukum yang sama karena dibatasi oleh prinsip kesemestaan (Would I want every one to behave in the same manner?) dan prinsip timbal balik (Would I want that rule applied to me?). Tetapi kritikus terhadap teori mengungkapkan kelemahan deontologi antara lain:
- tidak mampu menjelaskan hal tertentu yang harus dihormati
- tidak memberikan hubungan yang jelas antara hak dan kewajiban
- tidak menjelaskan hak-hak yang diprioritaskan
- tidak memberikan bimbingan pada lingkungan, hal-hal yang melanggar aturan atau hak
Paper ini menggunakan teori utilitarian karena pendekatannya tidak bias dan tidak bersifat pribadi , sehingga ketika membahas etika bisnis, analisis yang dihasilkan akan lebih umum dan tidak individual. Selain itu maslah yang timbul dalam agribisnis merupakan dampak atau akibat dari suatu aktivitas, sehingga lebih tepat menggunakan teori utilitarian. Pembukaan lahan sawit dan isu pemanasan global, terlepas dari benar-tidaknya isu tersebut, apabila kasus ini ditinjau dari sisi utilitarian, maka sebenarnya tindakan membuka lahan sawit tersebut adalah tidak etis. Hal ini dikarenakan teori utilitarian menghendaki adanya keuntungan atau kemakmuran yang dihasilkan dari suatu aktivitas yang lebih besar daripada aktivitas lainnya. Sementara pembukaan lahan kelapa sawit dengan menggunakan hutan konversi agaknya malah akan memperparah kondisi masyarakat sekitarnya dalam jangka pendek, dan dalam jangka panjang akan membawa bencana ekosistem bagi seluruh umat di dunia melalui pemanasan global. Meski pada sisi yang positif masih bisa kita lihat manfaat lahan kelapa sawit seperti yang telah di sebutkan pada bagian lain paper ini.


KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan dari pembahasan di atas, tampak nya sulit bagi pihak berwenang untuk mengambil keputusan yang etis. Meski secara utilitarian, pembukaan lahan sawit dengan mengorbankan lahan gambut yang biasanya ditumbuhi tanaman hutan, tidak dapat dibenarkan secara etis karena efeknya yang negatif yakni pemanasan global, akan tetapi masalah tipe II dari etika selanjutnya, mengapa hal tersebut dibiarkan oleh pemerintah, bahkan pemerintah cenderung menambah jumlah lahan baru kelapa sawit? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah masih seputar isu-isu kemakmuran yang ingin diraih pemerintah demi rakyat Indonesia. Dengan adanya lahan sawit tersebut akan timbul lapangan kerja baru, dan infrastruktur yang lebih baik, karena biasanya dalam pembukaan lahan sawit, perusahaan yang memiliki bisnis kelapa sawit akan membuka jalur transportasi. Dilema ini yang membuat pemerintah harus berhati-hati. Sebab pengabaian terhadap isu-isu pemanasan global yang dilontarkan pecinta lingkungan dunia dapat berakibat fatal, apabila keberadaan dan propaganda mereka mampu ’memboikot’ produk kelapa sawit Indonesia setelah berhasil mempengaruhi masyarakat untuk mencintai produk ramah lingkungan.
Dari kajian-kajian teoritis mengenai etika, ketika diperhadapkan pada masalah Tipe I, maka harus ada konsensus yang jelas antara pihak-pihak yang berkepentingan. Pemerintah harus mampu menjamin tidak adanya kerusakan hutan yang lebih parah dikemudian hari dan mencari jalan keluar atau teknologi baru untuk memperluas produksi kelapa sawit di Indonesia tanpa membakar hutan untuk membuka lahan. Selanjutnya, lahan kritis dan/atau lahan terlantar yang sudah tersedia dalam skala yang sangat luas, sekitar 30 juta ha, perlu segera dimanfaatkan secara optimal dan harus diprioritaskan untuk "dikonversi", termasuk diprioritaskan untuk areal pembangunan perkebunan kelapa sawit. Dengan demikian, lahan kritis dan/atau lahan terlantar tersebut dapat direhabilitasi menjadi lahan yang produktif, dan dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang tinggi. Selanjutnya, pemerintah perlu memberikan sanksi yang tegas dan jelas terhadap pihak pelaku kegiatan konversi hutan yang tidak bertanggung jawab, termasuk yang hanya ingin mendapatkan keuntungan besar berupa kayu IPK, namun kemudian menelantarkan lahan menjadi semak belukar dan/atau lahan kritis baru. Sanksi yang tegas juga harus diberikan kepada perusahaan pembuka lahan hutan dengan cara membakar.
DAFTAR REFERENSI
Amirullah dan Imam Hardjanto. 2005. Pengantar Bisnis. Penerbit Graha Ilmu: Yogyakarta
Badan Planologi Kehutanan dan Perkebunan. 2000. Bahan ceramah dan diskusi. Komitmen
Indonesia dan isu-isu internasional tentang kehutanan dan perkebunan. D-5. Rakernas
2000. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 26-29 Juni 2000.
Bappenas. 2000. Kerugian ekonomi kebakaran hutan tahun 1997-1998. Jakarta.
Chandran, M.R. 2008. The Implication of RSPO on The Palm Oil Industry. Paper presented on
Oil Conference and Price Outlook 2008. Bali: Indonesia
Down to Earth. 1997. The 1997 Fires: Responsibility rests with Suharto. Down to Earth No. 35,
November. London.
ISTA Mielke GmBH. 2004. Oil World Annual 2004. Hamburg
James, Harvey S.JR. 2002. Finding Solution to Ethical Problems in Agriculture. Working Paper
No. AEWP 2002-04. Department of Agricultural Economics. Universty of Missouri :
Columbia
Manurung, E.G.T. Mengapa Konversi Hutan Alam Harus Dihentikan? Makalah disampaikan
pada acara Seri Lokakarya Kebijakan Kehutanan, Topik 1: "Moratorium Konversi Hutan
Alam dan Penutupan Industri Pengolahan Kayu Sarat Hutang." Diselenggarakan oleh
Dephutbun bekerja sama dengan NRMP.Jakarta, 8-9 Agustus 2000.
Nash, L.L.1990. Good Intentions Aside: A Manager’s Guide to Resolving Ethical Problems.
Harvard Business School. Boston, MA
Reinhardt, Guido, , Nils Rettenmaier and Sven Gartner. 2007. Environmental Effects on Palm
Oil Industry. Rain Forest for Bio diesel? Ecological Effect of Using Palm Oil as a Source
of Energy. WWF Germany, Frankfurt am Main, April.
Schroder, Bill and David Muschamp. 2000. Developing and Agribusiness Ethics Curriculum.
Paper presented to The International Management Agribusiness Association Forum, June.
Stern, Nicholas. 2007. The Economics of Climate Change: The Stern Review. Cambridge:
UK
Sukardi, Paulus dan Evi Thelia Sari. 2007. Bisnis Internasional: Sebuah Perspektif
Kewirausahaan. Penerbit Graha Ilmu : Yogyakarta
Yuwono, Eko Hari, Purwo Susanto, Chairul Saleh, Niviar, Andayani, Didik Prasetyo, Sri Suci
Utami Atmoko. 2007. Petunjuk Teknis Penanganan Konflik Manusia Orangutan di
Dalam dan Sekitar Perkebunan Kelapa Sawit. WWF-Indonesia

SEL DAN KOMPONEN-KOMPONENNYA

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Semua organisme selular terbagi ke dalam dua golongan besar berdasarkan arsitektur basal dari selnya, yaitu organisme prokariota dan organisme eukariota.[1]
Organisme prokariota tidak memiliki inti sel dan mempunyai organisasi internal sel yang relatif lebih sederhana. Prokariota terbagi menjadi dua kelompok yang besar: eubakteria yang meliputi hampir seluruh jenis bakteri, dan archaea, kelompok prokariota yang sangat mirip dengan bakteri dan berkembang-biak di lingkungan yang ekstrem seperti sumber air panas yang bersifat asam atau air yang mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Genom prokariota terdiri dari kromosom tunggal yang melingkar, tanpa organisasi DNA.
Organisme eukariota memiliki organisasi intraselular yang jauh lebih kompleks, antara lain dengan membran internal, organel yang memiliki membran tersendiri seperti inti sel dan sitoskeleton yang sangat terstruktur. Sel eukariota memiliki beberapa kromosom linear di dalam nuklei, di dalamnya terdapat sederet molekul DNA yang sangat panjang yang terbagi dalam paket-paket yang dipisahkan oleh histon dan protein yang lain.
Jika panjang DNA diberi notasi C dan jumlah kromosom dalam genom diberi notasi n, maka notasi 2nC menunjukkan genom sel diploid, 1nC menunjukkan genom sel haploid, 3nC menunjukkan genom sel triploid, 4nC menunjukkan genom sel tetraploid. Pada manusia, C = 3,5 × 10-12 g, dengan n = 23, sehingga genom manusia dirumuskan menjadi 2 x 23 x 3,5 × 10-12, karena sel eukariota manusia memiliki genom diploid.
Sejenis sel diploid yaitu sel nutfah dapat terdiferensiasi menjadi sel gamet haploid. Genom sel gamet pada manusia memiliki 23 kromosom, 22 diantaranya merupakan otosom, sisanya merupakan kromosom genital. Pada oosit, kromosom genital senantiasa memiliki notasi X, sedangkan pada spermatosit, kromosom dapat berupa X maupun Y. Setelah terjadi fertilisasi antara kedua sel gamet yang berbeda kromosom genitalnya, terbentuklah sebuah zigot diploid. Notasi genom yang digunakan untuk zigot adalah 46,XX atau 46,XY.
Pada umumnya sel somatik merupakan sel diploid, namun terdapat beberapa perkecualian, antara lain: sel darah merah dan keratinosit memiliki genom nuliploid. Hepatosit bergenom tetraploid 4nC, sedang megakariosit pada sumsum tulang belakang memiliki genom poliploid hingga 8nC, 16nC atau 32nC dan dapat melakukan proliferasi hingga menghasilkan ribuan sel nuliploid. Banyaknya ploidi pada sel terjadi sebagai akibat dari replikasi DNA yang tidak disertai pembelahan sel, yang lazim disebut sebagai endomitosis.
A KOMPONEN-KOMPONEN SEL
Sel ialah satu unit kehidupan. Semua benda hidup samada jenis haiwan atau tumbuhan dibina oleh sel. Sel-sel ini berkumpul dan bergabung dengan adanya bahan antara sel diantaranya untuk membina tisu seperti otot, tulang rawan dan saraf. Dalam keadaan tertentu beberapa tisu bergabung dan membina organ seperti kelenjar, pembuluh darah, kulit dal lain-lain.
Terdapat dua jenis sel asas iaitu Prokariot dan Eukariot. Sel Prokariot adalah kecil i.e. organisma satu sel (e.g. bakteria). Sel Eukariot terdapat terutamanya sebagai komponen dalam organisma multiselular. eg. sel haiwan dan tumbuhan.
Sel-sel dalam badan berasal dari progenitor atau stem cells dan menjadi khusus untuk satu atau lebih fungsi seperti untuk pengecutan, pengaliran rangsangan, perembesan, penyerapan atau perlindungan. Proses pemghasilan sel-sel khusus ini dipanggil pembezaan sel (cell differentiation).

Struktur sel
Setiap sel yang tipikal terdiri daripada dua bahagian, iaitu nukleus dan sitoplasma. Nukleus merupakan komponen pusat pada sel dan terpisah dari sitoplasma oleh sampul nukleus. Sitoplasma adalah bahagian sel yang mengelilingi nukleus. Ia dibendungi oleh membran plasma.
Sitoplasma dibentuk oleh 3 komponen utama, iaitu organel, rangkuman dan sitosol atau matriks sitoplasma.
1. Organel
dua jenis, iaitu organel bermembran dan organel tak bermembran.
• Organel bermembran ialah struktur-struktur subsel yang mempunyai sistem membrannya tersendiri. Organel ini merupakan komponen tetap pada sel dan mengandungi enzim yang memainkan peranan dalam aktiviti metabolisma. Contoh: alat Golgi, retikulum endoplasma, mitokondria dan lisosom.
• Organel tak bermembran ialah komponen sitoplasma yang mempunyai struktur dan fungsi yang berlainan daripada organel bermembran dan rangkuman. Ia tidak mempunyai sistem membrannya yang tersendiri dan tidak ikut serta secara langsung dalam aktiviti metabolisma sel. Contoh: mikrotubul, filamen sitoplasma, mikrofilamen dan setriol.
2. Rangkuman
Rangkuman ialah struktur-struktur sitoplasma yang boleh didapati sama ada dalam bentuk bermembran atau tidak. Tidak seperti organel, penempatannya dalam sel adalah untuk sementara dan biasanya terdiri daripada himpunan pigmen, protein, karbohidrat atau lipid. Contoh: pigmen dalam melanosit, protein dalam sel plasma, lipid dalam sel lemak dan karbohidrat dalam sel hepar.
3. Matriks sitoplasma atau sitosol
Matriks sitoplasma merupakan bahan amorfus (tiada bentuk) yang membenami organel dan rangkuman sel. Ia dibentuk oleh bahan-bahan seperti enzim, berbagai-bagai jenis protein, nutrien dan garam logam.

Membran plasma.
Membran plasma ialah selaput yang membendungi sel dan memisahkan sel dengan persekitaran luar. Ia dibina oleh bahan-bahan seperti lipid, protein dan karbohidrat. Membran plasma penting keraan ia mengawal bahan-bahan yang masuk dan keluar sel.
Dibawah mikroskopik electron, membran plasma terdiri dari tiga lapisan: protein, fosfolipid, protein. Lapisan yang paling luar dan lapisan yang paling dalam adalah protein, manakala lapisan tengan adalah fosfolipid.

Organel bermembran

1.Retikulum endoplasma
RE kasar atau bergranul
RE kasar kerana terdapat unit-unit ribosom pada permukaan external membrannya. Ribosom adalah zarah yang berasal daripada nukleolus dan dibina oleh asid ribonukleik dan protein. Ia memberikan sifat basofilik kepada sitoplasma.
Fungsi
RE kasar berperanan dalam proses-proses:
a. sintesis protein (sel pankreas, sel plasma)
b. ii. sintesis lipid (sel usus, sel hepar)
RE licin atau tak bergranul
RE licin tidak mempunyai ribosom pada permukaannya. RE licin banyak terdapat dalam sel-sel hepar dan kelenjar adrenal.
Fungsi
RE licin berperanan dalam proses:
a.sintesis steroid (sel kelenjar adrenal)
b.kontraksi dan pengenduran sel otot (fungsi retikulum sarcoplasma)
c.pendetoksinan dadah (sel hepar)
d.sintesis glikogen (sel hepar)

2. Alat Golgi
Alat Golgi adalah struktur yang dibina oleh beberapa sak panjang yang kelihatan tersusun secara berperingkat. Dihujung sak-sak ini terdapat vesikel. Alat Gogi mempunyai dua permukaan, iaitu permukaan cekung dan permukaan cembung.
Fungsinya:
a.sintesis polisakarida
b.sebagai tapak bungkusan kepada pembentukan granul-granul yang menghasilkan glikoprotein atau lipoprotein

3.Ribosom (Ergastoplasma)
Struktur ini berbentuk bulat terdiri dari dua partikel besar dan kecil, ada yang melekat sepanjang R.E. dan ada pula yang soliter. Ribosom merupakan organel sel terkecil yang ersuspensi di dalam sel. Fungsi dari ribosom adalah : tempat sintesis protein. Struktur ini hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.
4.Mitokondrion
Berbentuk sfera atau lurus. Terdapat enzim didalamnya. Ia merupakan organ pernafasan kepada sel.
5.Sentrosom (Sentriol)
Struktur berbentuk bintang yang berfungsi dalam pembelahan sel (Mitosis maupun Meiosis). Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis.
Struktur ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.
6.Plastida
Dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Dikenal tiga jenis plastida yaitu :
1. Lekoplas
(plastida berwarna putih berfungsi sebagai penyimpan makanan), terdiri dari:
• Amiloplas (untak menyimpan amilum) dan,
• Elaioplas (Lipidoplas) (untukmenyimpan lemak/minyak).
• Proteoplas (untuk menyimpan protein).
2. Kloroplas
yaitu plastida berwarna hijau. Plastida ini berfungsi menghasilkan klorofil dan sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis.
3. Kromoplas
yaitu plastida yang mengandung pigmen, misalnya :
• Karotin (kuning)
• Fikodanin (biru)
• Fikosantin (kuning)
• Fikoeritrin (merah)
7. Vakuola (RonggaSel)
Beberapa ahli tidak memasukkan vakuola sebagai organel sel. Benda ini dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Selaput pembatas antara vakuola dengan sitoplasma disebut Tonoplas
Vakuola berisi :
• garam-garam organik
• glikosida
• tanin (zat penyamak)
• minyak eteris (misalnya Jasmine pada melati, Roseine pada mawar Zingiberine pada jahe)
• alkaloid (misalnya Kafein, Kinin, Nikotin, Likopersin dan lain-lain)
• enzim
• butir-butir pati
Pada boberapa spesies dikenal adanya vakuola kontraktil dan vaknola non kontraktil.

8.Mikrotubulus
Berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai "rangka sel".
Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan Selain itu mikrotubulus berguna dalam pembentakan Sentriol, Flagela dan Silia.
9.Mikrofilamen
Seperti Mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari komponen utamanya yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot). Mikrofilamen berperan dalam pergerakan sel.
10.Lisosom
Lisosom adalah struktur-struktur kecil, berbentuk sfera dan bermembran. Ia merupakan organel sitoplasma yang mengandungi berbagai-bagai jenis enzim hidrolisis. Boleh dikelaskan kepeda lisosom primer dan lisosom sekunder.
11.Peroksisom
Organel bermembran, saiz diantara mitokondria dan lisosom. Kaya dengan enzim spt. asid D-amino oksidase. Terlibat dalam proses metabolisma sel.
Organel tidak bermembran
1.Sentriol
Struktur pendek yang mempunyai bentuk seperti selinder. Terletak berdekatan dengan nukleus. Lazimnya terdapat secara berpasangan.

2.Mikrotubul
Struktur panjang dan lurus yang dibentuk oleh protein.

3.Filamen sitoplasma
Struktur halus dan panjang didalam sitoplasma. Mempunyai ciri khas iaitu boleh mengecut. Banyak terdapat dalam sel otot eg. filamen aktin dan miosin.
Nukleus
Nukleus merupakan organel yang penting sekali kepada sel. Semua sel mempunyai nukleus kecuali platelet dan RBC. Terdapat sel yang mempunyai dua nukleus seperti sel otot jantung dan multinukleus seperti sel otot rangka, osteoklas. Dari segi morfologi, nukleus terdiri daripada:

1.Sampul nukleus
Merupakan struktur yang dibina oleh dua lapisan unit membran. Dibeberapa kawasan disepanjang sampul ini, lapisan membran dalamnya didapati berterusan dengan lapisan membran luar. Keadaan ini menyebabkan terbentuknya beberapa liang nukleus. Liang ini direntasi oleh satu diafragma nipis yang dibentuk oleh protein. Pemindahan diantara bahan-bahan nukleus dengan sitoplasma berlaku melalui liang ini.
2.Kromatin
Gelungan bebenang daripada asid deoksiribonukleik (DNA) dan protein asas (histon). Di dalam nukleus, granul-granul kromatin kelihatan lebih padat di bahagian berdekatan dengan membran nukleus dan juga disekitar nukleus.

3.Nukleolus
Struktur yang berbentuk sfera, tidak bermembran dan kaya dengan RNA dan protein asas. Ia merupakan tapak untuk sistesis asid ribonukleik ribososm (r-RNA) dan asid ribonukleik pemindah (t-RNA). Satu nukleus boleh mengandungi lebih dari satu nukleolus.

4.Nukleoplasma
Bahan amorfus nukleus. Merupakan komponen yang mengandungi bahan-bahan seperti protein, metabolit dan ion.

Berdasarkan ada tidaknya selaput inti kita mengenal 2 penggolongan sel yaitu :
• Sel Prokariotik (sel yang tidak memiliki selaput inti), misalnya dijumpai
pada bakteriganggang biru.
• Sel Eukariotik (sel yang memiliki selaput inti).
Fungsi dari inti sel adalah : mengatur semua aktivitas (kegiatan) sel, karena di dalam inti sel terdapat kromosom yang berisi ADN yang mengatur sintesis protein.




2.
•Pembelahan Sel Secara Meiosis
gambar:miosis.jpg

Pembelahan Meiosis disebut juga pembelahan reduksi, di karena terjadinya pengurangan jumlah kromosom dalam prosesnya dari 2n menjadi n.
Menghasilkan sel anakan dengan jumlah kromosom separuh dari jumlah kromosom sel induknya. Contoh, sel induk gamet jantan (spermatogonium) merupakan sel yang diploid (2n) setelah membelah, sel anak yang terbentuk (spermatozoa) merupakan sel yang haploid (n).
Dalam pembelahan Meiosis terjadi dua kali pembelahan sel secara berturut –turut, tanpa diselingi adanya interfase, yaitu tahap meiosis 1 dan meiosis 2 dengan hasil akhir 4 sel anak dengan jumlah kromosom haploid (n).
Meiosis I
1. Profase I
a. Leptoten
Kromatin menebal membentuk kromosom.
b. Zygoten
Kromosom yang homolog mulai berpasangan, kedua sentriol bergerak menuju ke kutub yang berlawanan.
c. Pakiten
Tiap kromosom menebal dan mengganda menjadi dua kromatida dengan satu sentromer.
d. Diploten
Kromatida membesar dan memendek, bergandengan yang homolog dan menjadi rapat.
e. Diakenesis
Ditandai dengan adanya pindah silang (crossing over) dari bagian kromosom yang telah mengalami duplikasi. Hal ini hanya terjadi pada meiosis saja,, yang dapat mengakibatkan terjadinya rekombinasi gen. nucleolus dan dinding inti menghilang. Sentriol berpisah menuju kutub yang berawanan, terbentuk serat gelendong diantara dua kutub.

2. Metafase 1
Pada tahap ini, tetrad menempatkan dirinya pada bidang ekuator. Membrane inti sudah tidak tampak lagi dan sentromer terikat oleh spindel pembelahan.

3. Anafase I
Pada tahap ini, spindel pembelahan memendek dan menarik belahan tetrad (diad) ke kutub sel berlawanan sehingga kromosom homolog dipisahkan. Kromosom hasil crossing over yang bergerak ke kutub sel membawa materi genetic yang berbeda.

4. Telofase I
Pada tahap ini, membrane sel membentuk sekat sehingga terbentuk dua sel anak yang bersifat haploid, tetapi setiap kromosom masih mengandung dua kromatid (siser cromatid) yang terhubung melalui sentromer.
Meiosis II
1. Profase II
a. Benang – benang kromatin berubah kembali menjadi kromosom.
b. Kromosom yang terdiri dari 2 kromatida tidak mengalami duplikasi lagi.
c. Nucleolus dan dinding inti menghilang.
d. Sentriol berpisah menuju kutub yang berlawanan.
e. Serat – serat gelendong terbentuk diantara 2 kutub pembelahan.

2. Metafase II
Kromosom kebidang ekuator menggantung pada serat gelendong melalui sentromernya.

3. Anafase II
Kromatida berpisah dari homolognya, dan bergerak menuju ke kutub yang berlawanan.

4. Telofase II
a. Kromosom berubah menjadi benang – benang kromatin kembali.
b. Nucleolus dan dinding inti terbentuk kembali.
c. Serat – serat gelendong menghilang dan terbentuk sentrosom kembali.


Hasil meiosis :
1.) Satu sel induk yang diploid (2n) menjadi 4 sel anakan yang masing – masing haploid (n)
2.) Jumlah kromosom sel anak setengah dari jumlah kromosom sel induknya.
3.) Pembelahan meiosis hanya terjadi pada sel – sel generative atau sel – sel gamet seperti sperma dan ovum (sel telur).

Gambar di bawah ini merupakan fase – fase pembelahan meiosis. Sel – sel eukariot tertentu menghasilkan sel haploid (misalnya gamet pada hewan dan manusia, serta spora pada tumbuhan) dengan pembelahan sel yang disebut meiosis. Pada meiosis terjadi satu kali penggandaan kromosom dan dua kali pembelahan sel, yang disebut meiosis I dan meiosis II.


• PEMBELAHAN MITOSIS



Pembelahan mitosis menghasilkan sel anakan yang jumlah kromosomnya sama dengan jumlah kromosom sel induknya, pembelahan mitosis terjadi pada sel somatic (sel penyusun tubuh).
Sel – sel tersebut juga memiliki kemampuan yang berbeda – beda dalam melakukan pembelahannya, ada sel – sel yang mampu melakukan pembelahan secara cepat, ada yang lambat dan ada juga yang tidak mengalami pembelahan sama sekalisetelah melewati masa pertumbuhan tertentu, misalnya sel – sel germinatikum kulit mampu melakukan pembelahan yang sangat cepat untuk menggantikan sel – sel kulit yang rusak atau mati. Akan tetapi sel – sel yang ada pada organ hati melakukan pembelahan dalam waktu tahunan, atau sel – sel saraf pada jaringan saraf yang sama sekali tidak tidak mampu melakukan pembelahan setelah usia tertentu. Sementara itu beberapa jenis bakteri mampu melakukan pembelahan hanya dalam hitungan jam, sehingga haya dalam waktu beberapa jam saja dapat dihasilkan ribuan, bahkan jutaan sel bakteri. Sama dnegan bakteri, protozoa bersel tunggal mampu melakukan pembelahan hanya dalam waktu singkat, misalkan amoeba, paramecium, didinium, dan euglena.
Pada sel – sel organisme multiseluler, proses pembelahan sel memiliki tahap – tahap tertentu yang disebut siklus sel. Sel – sel tubuh yang aktif melakukan pembelahan memiliki siklus sel yang lengkap. Siklus sel tersebut dibedakan menjadi dua fase(tahap ) utama, yaitu interfase dan mitosis. Interfase terdiri atas 3 fase yaitu fase G, ( growth atau gap), fase S (synthesis), fase G2(growth atau Gap2).
Pembelahan mitosis dibedakan atas dua fase, yaitu kariokinesis dan sitokinesis, kariokinesis adalah proses pembagian materi inti yang terdiri dari beberapa fase, yaitu Profase, Metafase, dan Telofase. Sedangkan sitokinesis adalah proses pembagian sitoplasma kepada dua sel anak hasil pembelahan.
1. Kariokinesis
Kariokinesis selama mitosis menunjukkan cirri yang berbeda – beda pada tiap fasenya. Beberapa aspek yang dapat dipelajari selama proses pembagian materi inti berlangsung adalah berubah – ubah pada struktur kromosom,membran inti, mikro tubulus dan sentriol. Cirri dari tiap fase pada kariokinesis adalah:
a) Profase
1.Benang – benang kromatin berubah menjadi kromosom. Kemudian setiap kromosom membelah menjadi kromatid dengan satu sentromer.
2.Dinding inti (nucleus) dan anak inti (nucleolus) menghilang.
3.Pasangan sentriol yang terdapat dalam sentrosom berpisah dan bergerak menuju kutub yang berlawanan.
4.Serat – serat gelendong atau benang – benang spindle terbentuk diantara kedua kutub pembelahan.
b) Metafase
Setiap kromosom yang terdiri dari sepasang kromatida menuju ketengah sel dan berkumpul pada bidang pembelahan (bidang ekuator), dan menggantung pada serat gelendong melalui sentromer atau kinetokor.
c) Anaphase
Sentromer dari setiap kromosom membelah menjadi dua dengan masing – masing satu kromatida. Kemudian setiap kromatida berpisah dengan pasangannya dan menuju kekutub yang berlawanan. Pada akhir nanfase, semua kroatida sampai pada kutub masing – masing.
d) Telofase
Pada telofase terjadi peristiwa berikut:
1. Kromatida yang berada jpada kutub berubah menjasadi benang – benangkromatin kembali.
2.Terbentuk kembali dinding inti dan nucleolus membentuk dua inti baru.
3.Serat – serat gelendong menghilang.
4.Terjadi pembelahan sitoplasma (sitokenesis) menjadi dua bagian, dan terbentuk membrane sel pemisah ditengah bidang pembelahan. Akhirnya , terbentuk dua sel anak yang mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan kromosom induknya.
Hasil mitosis:
1. Satu Sel induk yang diploid (2n) menjadi 2 sel anakan yang masing – masing diploid.
2. Jumlah kromosom sel anak sama dengan jumlah kromosom sel induknya.




2 Sitokinesis
Selama sitokinesis berlangsung, sitoplasma sel hewan dibagi menjadi dua melalui terbentuknya cincin kontraktil yang terbentuk oleh aktin dan miosin pada bagian tengah sel. Cincin kontraktil ini menyebabkan terbentuknya alur pembelahan yang akhirnya akan menghasilkan dua sel anak. Masing – masing sel anak yang terbentuk ini mengandung inti sel, beserta organel – organel selnya. Pada tumbuhan, sitokinesis ditandai dengan terbentuknya dinding pemisah ditengah – tengah sel. Tahap sitokinesis ini biasanya dimasukkan dalam tahap telofase.

Keterangan:
(a) Sitokinesis pada hewan
(b) Sitokinesis pada tumbuhan

3.
Pernah membayangkan Adenium Cabang Seribu punya akar "seribu"? Ternyata modifikasi Adenium ini bukan hisapan jempol semata melainkan bisa menjadi kenyataan. Lantas apa jadinya jikalau Adenium Cabang Seribu punya perakaran yang banyak (seribu, red)? Jawabnya tentu, Adenium Cabang Seribu tadi tampil anggun dan luar biasa. Bahkan, cuman dengan tampilan yang tunggal, Adenium Cabang Seribu sudah menunjukkan fisik yang aduhai, apalagi dilengkapi dengan akar-akarnya yang ditata horisontal dengan jumlah banyak, tentu ciamik sekali jadinya. Asal tahu saja, disebut Adenium Cabang Seribu karena jenis Obesum ini percabangannya dapat dimodifikasi hingga memiliki percabangan banyak dalam satu pohon. Jumlah cabang utama, sekunder, tersier dan seterusnya san-gat banyak. Gara-gara akarnya banyak hingga seperti "pohon akar", para ademania kerap menyebutnya "cucu" ranting pada ranting-ranting yang terkecil. Sementara sebutan "akar seribu" biasanya juga diala-matkan pada Adenium Obesum yang sudah melalui program akar. Apa? Akar-akar Adenium bersangkutan dibikin banyak dengan cara memangkas bonggol utama. Setelah keluar akar dalam jumlah banyak, baru akar-akar tadi ditata secara horisontal. Bahkan akar-akar tadi tidak diurug sepenuhnya dengan media tanam sekitar melainkan sebagian permukaannya dib-iarkan terbuka sehingga tam-pak dari luar. Akar-akar in pun terkesan "mencekeram" media tanam. Luar biasa bukan? Untuk membikin Adenium Cabang Seribu berakar "seribu" tadi memang tidak semudah berkedip mata. Caranya, selain melakukan program akar juga disertai program pemangkasan batang dan percabangan hingga dihasilkan cucu ranting. Sementara obyeknya Adenium Obesum tunggal. Dipilih yang sehat dan potensi berakar dan bercabang banyak. Obesum yang dimanfaatkan untuk program akar maupun cabang adalah yang telah berumur 7 bulanan.



Adapun trik program akar itu sbb :
1.Bongkarlah Adenium obesum dari medianya. Bonggol serta perakarannya dibersihkan.
2.Memotong bonggol Adenium tersebut sampai tidak memiliki akar. Bisa jadi pemotongan bonggol sampai ¾ bagian saja.
3.Membuang daun-daunnya.
4.Mengolesi antracol pada bekas luka potong bonggol
5.Membungkus caudex (bonggol) dengan plastik dan menggantungkan Adenium tadi di tempat yang teduh selama 3-4 hari.
6.Biarkan sampai tunas akar keluar dari pangkal batang tadi.

Biopestisida Unggulan, NPS (Nematoda Patogen Serangga)

Biopestisida Unggulan, NPS (Nematoda Patogen Serangga)
Maret 2, 2008 oleh plantus
Dua genus nematoda patogen serangga (NPS), Steinernema dan Heterorhabditis, mempunyai beberapa keunggulan sebagai agensia pengendalian biologi serangga hama dibandingkan dengan musuh alami lain, yaitu daya bunuhnya sangat cepat, kisaran inangnya luas, aktif mencari inang sehingga efektif untuk mengendalikan serangga dalam jaringan, tidak menimbulkan resistensi, dan mudah diper-banyak.

Mekanisme Patogenisitas
Mekanisme patogenisitas NPS terjadi melalui simbiosis dengan bakteri patogen Xenorhabdus untuk Steinernema dan Photorhabdus untuk Heterorhabditis. Infeksi NPS dilakukan oleh stadium larva instar III atau juvenil infektif (JI) terjadi melalui mulut, anus, spirakel, atau penetrasi langsung membran intersegmental integumen yang lunak. Setelah mencapai haemocoel serangga, bakteri simbion yang dibawa akan dilepaskan ke dalam haemolim untuk berkembang biak dan memproduksi toksin yang mematikan serangga. NPS sendiri juga mampu menghasilkan toksin yang mematikan. Dua faktor ini yang menyebabkan NPS mempunyai daya bunuh yang sangat cepat. Serangga yang terinfeksi NPS dapat mati dalam waktu 24-48 jam setelah infeksi.


Cara Isolasi
NPS mudah diisolasi dari sampel tanah ber-pasir yang porositasnya tinggi. Sampel tanah di tempatkan dalam botol, kemudian diinfestasi dengan ulat lilin, ulat Hongkong (Tenebrio molitor), atau ulat bambu. Setelah diinkubasikan selama 5 hari, ulat akan mati terinfeksi oleh nematoda. Ulat yang mati terinfeksi Steinernema, tubuhnya tampak berwarna coklat muda, sedangkan yang terinfeksi Heterorhabditis berwarna coklat tua agak kemerah-merahan. Isolasi NPS dari tubuh ulat dilakukan dengan cara menempatkan ulat pada cawan petri yang beralaskan kertas saring basah. Dalam waktu 2–3 hari, NPS akan keluar dari tubuh serangga dan masuk ke dalam air di cawan yang lebih besar.

Cara Perbanyakan
Perbanyakan secara In Vivo
Perbanyakan NPS secara in vivo dilakukan dengan menggunakan ulat Hongkong (T. molitor). Ulat Hongkong dimasukkan dalam bak plastik atau nampan yang dialasi dengan kertas saring atau kertas koran. Suspensi JI diinokulasikan secara merata pada kertas tersebut. Dalam waktu 7 hari, 80-90% ulat sudah terinfeksi oleh NPS. Ulat yang terinfeksi dipindahkan ke rak perangkap yang dialasi kain, kemudian ditempatkan dalam bak plastik yang berisi air. Setelah diinkubasikan selama 3-5 hari, JI NPS akan keluar dari serangga dan masuk ke dalam air. Satu gram ulat Hongkong bisa menghasilkan 65.000 JI.
Perbanyakan secara In Vitro
Perbanyakan secara in vitro dengan medium buatan sebenarnya lebih sulit dan rumit karena sangat tergantung pada biakan bakteri primer, tetapi lebih efisien untuk produksi skala besar atau komersial. Medium yang digunakan adalah bahan berprotein tinggi, seperti homogenat usus, ekstrak khamir, pepton, tepung kedelai, dan lain-lain. Perbanyakan bisa dilakukan di medium cair atau semi padat. Medium semi padat dengan spon paling umum digunakan karena porositasnya tinggi. Nutrisi untuk perbanyakan diresapkan ke dalam spon dengan perbandingan 12,5 : 1 (medium : spon, satuan dalam berat). Spon dimasukkan dalam botol atau plastik tahan panas, kemudian disterilisasi. Setelah medium dingin, bakteri simbion fase primer diinokulasikan ke dalam medium. Bakteri dibiarkan berkembang biak selama 2-3 hari sebelum diinokulasi dengan JI. NPS dapat dipanen dua minggu kemudian. Setiap 1 g medium spon dapat menghasilkan 90.000 JI. Perbanyakan dengan medium cair dilakukan dalam bubble column fermentor untuk memberikan aerasi yang baik bagi perkembangan NPS.

Formulasi
JI diformulasikan menjadi biopestisida dalam bentuk cair atau butiran. Formulasi cair yang telah dikembangkan oleh BB-Biogen dikemas dalam spon yang praktis untuk digunakan, disimpan, dan ditransportasikan. Satu kemasan mengandung 200.000.000 JI. Formulasi butiran dikembangkan menggunakan bahan dasar alginat, tanah liat, atau tanah gambut. Ke dalam formulasi juga ditambahkan bahan aditif yang berfungsi sebagai surfactant, anti desikan, dan nutrient stimulan.


Aplikasi
Formulasi cair, butiran alginat, dan tanah liat diaplikasikan dengan teknik penyemprotan biasa setelah dilarutkan dalam air. Sedangkan formulasi tanah peat dengan cara ditabur. Biopestisida NPS diaplikasikan dengan dosis 109 JI/ha. Waktu aplikasi yang tepat adalah sore hari karena NPS sangat rentan terhadap kekeringan. Waktu satu malam cukup bagi NPS untuk menemukan dan menginfeksi inangnya.
Keefektifan
Biopestisida NPS telah terbukti efektif mengendalikan penggerek batang padi, hama lanas (Cylas formicarius), Lyriomyza, ulatgrayak (Spodoptera litura), penggerek tongkol jagung (Ostrinia furnacalis), ulat kantong, dan penggerek polong kedelai (Etiela zinkenella).

hama, penyakit, patogen, pada tanaman

1. a.Hama adalah hewan yang merusak tanaman atau hasil tanaman karena aktivitas hidupnya, terutama untuk aktivitas untuk memperoleh makanan.
b. Penyakit tanaman adalah gangguan pada tanaman yang disebabkan oleh mikroorganisme
c. Musuh alami adalah serangga yang terdapat pada tanaman yang dapat menyebabkan kerusakan, akan tetapi serangga tersebut dapat memakan organisme pengganggu pada tanaman tersebut.
d. Predator adalah binatang atau organisme yang memakan binatang/organisme lainnya untuk mempertahankan hidupnya dan dilakukan secara berulang-ulang.
2. Gejala serangan akibat hama disebabkan karena adanya gangguan hewan atau
serangga, contoh hama dan gejala serangannya yaitu :
a. Thrips (Famili Thripidae : Ordo Thysanoptera)
Gejala serangan Karena serangga ini mengisap cairan daun yang masih muda, kerusakan yang ditimbulkan berupa daun-daun jarak menjadi keriting dan berkerut.Lama-kelamaan daun menjadi kuning dan gugur.
b. Tungau (Famili Eriophydae dan famili Tarsonemidae : Ordo Acarina)
Gejala serangan daun menjadi berwarna kekuning-kuningan kemudian Karat, kemudian daun mengeriput dan kemerah-merahan lalu gugur jan pada akhirnya tanaman akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan.
c. Belalang (FamiliAerididae: Ordo Orthoptera)
Gejala serangan yaitu Adanya bekas gerekan belalang pada daun atau bagian tanaman muda.
Sedangkan timbulnya gejala penyakit disebabkan karena adanya interaksi antara tanaman inang dan petogen. Dalam hubungan ini untuk penamaan penyakit dapat didasarkan pada struktur patogen yang terlihat:
1. Mildew : merupakan penyakit tanaman dimana patogen terlihat sebagai pertumbuhan pada permukaan luar dari bagian tanaman yang terserang. Biasanya tampak dalam bentuk yang berwarna keputih-putihan pada daun, cabang atau buahnya.
 Downy Mildew : merupakan pertumbuhan yang ditandai dengan lapisan seperti bulu-bulu kapas.
 Powdery Mildew: merupakan bentuk yang terdapat pada permukaan tanaman yang tampak sebagai lapisan pupur.
2. Karat : Gejala pada permukaan tanaman seperti karat. Hal ini karena adanya kumpulan spora yang keluar dari stomata dengan warna seperti karat (merah kecoklat-coklatan).
3. Smut (Gosong): Gejala ini menyerupai tepung berwarna kehitam-hitaman dan terdapat pada organ perbungaan, batang, daun dan sebagainya.

4. Kudis: Patogen (tubuh buah) yang muncul pada permukaan bagian yang terserang berbentuk agak kasar seperti kudis.
5. Cacar : Bagian tanaman biasanya daun muda yang terserang mengelupuh (seperti cacar) dan pada bagian yang menonjol terbentuk lapisaan tubuh buah.
6. Bercak ter (Tarspot) : Bagian yarig terserang agak menonjol dan berwarna hitatr. Bagian yang hitam tersebut terdiri dari tubuh buah cendawan.

3. a. Ciri-ciri dari patogen penyebab penyakit akibat virus:
• Virus merupakan partikel hidup yang ultra mikroscopik, terdiri dari asam ribonukleat (RNA) dan dapat menginfeksi sel tumbuhan.
• Bentuk partikel virus bisa isometrik (Spherikel) atau anisometrik (dengan bagian yang tidak simetrik)
• Bentuk partikel virus isometrik dapat bulat (bullet), batang (rod) atau benang-benang fleksibel yang anisometrik
• Diameter virus yang spherikel berkisar dari kurang 20mm hingga 60mm, sedangkan panjang partikel virus batang yang fleksibel berkisar dari 300 hingga 1250mm.

b. Ciri-ciri dari patogen penyebab penyakit akibat cendawan:
• Cendawan merupakan kelompok organisme yang termasuk kingdom tumbuh-tumbuhan yang tidak berhijau daun, berinti sejati, berspora dan umumnya berproduksi secara seksual dan aseksual.
• Cendawan berukuran mikroskopik hingga makroskopik, bersel tunggal hingga multi seluler, termasuk mikroorganisme/ makroorganisme yang membentuk spora, membentuk struktur yang berbentuk benang yang bercabang-cabang yang disebut miselium.
• Beberapa cendawan tidak membentuk miselium, tetapi membentuk struktur talus (thallus) yang uniselular, misalnya synchyntrium spp, atau membentuk struktur plasmodium misalnya plasmodiophora brassicae.



c. Ciri-ciri dari patogen penyebab penyakit akibat bakteri:
• Bakteri merupakan organisme kecil yang disebut mikroorganisme uniselular.
• Mikroorganisme ini melakukan reproduksi secara aseksual dengan cara membelah diri (binery fission).
• Bakteri tidak memiliki inti sejati dan membran inti.
• Bentuk bakteri dapat bulat (Spherikel, kokus/ cocci ), silindris atau batang (baksilus, baccilli), spiral (Spirilia) atau koma (vibrion).
• Bakteri dapat terdiri atas sel tunggal, sel ganda, rantai atau berkelompok (cluster) contohnya: penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearium) yang menyerang tanaman pisang.

d. Ciri-ciri dari patogen penyebab penyakit akibat Nematoda:
• Nematoda termasuk dalam kingdom/kelompok binatang.
• Nematoda adalah organisme yang berbentuk seperti benang atau cacing kecil yang tidak bersegmen.
• Tidak semua anggota nematoda parasit pada tumbuhan. Umumnya nematoda yang parasit pada tumbuhan yang berukuran kecil antara 300-1000m, tetapi ada juga yang berukuran panjaqng hingga 4mm dikali 15-35m.
• Umumnya nematoda patogen tumbuhan bersifat parasit obligat dan mempunyai stilet.
• Siklus hidup nematoda berlangsung sekitar 3-4 minggu tergantung pada spesies, inang dan lingkungan yang mempengaruhinya seperti kelembapan, suhu dan ph substrat hidupnya.
Contohnya:
a. Belanolaimus nematoda penyengat pada serelia, bayam, mentimun dan legume
b. Aphelemlencoides nematoda penyerang daun yang menyebabkan salah bentuk pada daun padi, kelapa dan strowberry.




4. jenis-jenis metamorfosis yang terjadi pada serangga yaitu :
a. metamorfosis sempurna
Contoh : Kumbang kelapa (Oycies rhinoceros), Kutu gabah (Rhyzoperta
dominica)
b. metamorfosis tidak sempurna
Contoh : Capung (Aesha sp.), Kutu busuk (Cymex rotundus), Walang sangit
(Leptocorisa acuta).
5. Morfologi hama dan gejala serangan pada komoditi kacang panjang :
A. Belalang
Morfologi
Berukuran sedang, panjangnya 3cm - 5cm dan berwarna hijau dan coklat.
Gejala yang terlihat
Daun rusak berlubang-lubang.
B. Semut
Semut sering bersarang di dalam tanah dengan membuat lubang , sehingga bisa merusak akar dan tunas adenium. Hal ini tentunya bisa mengganggu pertumbuhan adenium. semut merupakan vektor penyakit.
Cara penanggulangan : menyiramtanah atau lahan menggunakan obat anti semut.
C. Ulat Tanah
Morfologi
- Imago aktif terbagn pada senja atau malam hari. Tubuhnya berwarna keabu-abuan dan sayapnya berwarna kelabu dengan tanda hitam coklat
- Ulat berwarna hitam atau hitam keabu-abuan, aktif menyerang tanaman pada malam hari, dan kadang-kadang bersifat kanibal.
Gejala serangan
- Tangkai daun rebah (terkulai) dan layu pada siang hari akibat pangkal tangkai di potong oleh ulat tanah.
- Serangga berat menyebabkan pertumbuhan tanaman abnormal


6. Jenis-jenis penyakit beserta patogennya yang terdapat pada tanaman kacang panjang :
a. Penyakit Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum )
Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.
b. Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV).
Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.
c. Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.)
Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.
d. Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum )
Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
Jenis-jenis penyakit beserta patogennya yang terdapat pada tanaman Jagung :
a. Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)
Gejala: Terdapat garis-garis sejajar tulang daun yang berwarna putih sampai kuning diikuti oleh garis klorotik sampai coklat. Semua daun menguning, kaku dan runcing, tanaman kerdil dan tidak menghasilkan tongkol dan dan kelobot, tidak berkembang sempurna, permukaan bawah daun yang terinfeksi terdapat tepung spora yang berwarna putih.
B. Penyakit Gosong (Ustilago maydis)
Gejala: Pada tongkol biji yang terinfeksi membengkak membentuk kelenjar. Dengan semakin membesarnya kelenjar, maka kelobot terdesak kesamping sehingga sebagian kelenjar itu Nampak dari luar. Akhirnya kelenjar pecah dan spora jamur berwarna hitam terhambur keluar.

C. Penyakit Busuk Tongkol (Fusarium moniliforme)
Gejala: Pembusukan yang berwarna merah jambu berkembang dari ujung ke pangkal tongkol sehingga biji menjadi busuk. Warna biji pada tongkol berwarna merah sampai coklat.
D. Penyakit Damfing off (Fusarium oxysforum,)
Gejala: Gejala terdiri 2 tahap yaitu tahap dimana tanaman mati sebelum muncul dipermukaan tanah. Dan tahap tanaman mati setelah perkecambahan muncul dipermukaan tanah. Tanaman mengalami kerusakan pada saat dorman akibat infeksi penglihatan.

7. klasifikasi dan nama umum dari :
a. Valanga nigricornis (Belalang) dengan Klasifikasi Famili Aerididae: Ordo
Orthoptera).
b. Locusta migratory
c. Aphis gossypii (Kutu daun) dengan klasifikasi : Famili Aphididae.
d. Helicoverpa armigera
e. Leptocorisa acuta (Walang Sangit) dengan klasifikasi : Famili Insekta, Sub Kelas Pterygota, Ordo Hemiptera.
f. Aphis craccivora (Kumbang Daun) dengan Klasifikasi : Famili Curculionadae.

Kamis, 28 April 2011

UNSUR HARA PADA TANAMAN

Unsur Hara Pada Tanaman

Unsur Hara merupakan senyawa organis maupun anorganis yang terdapat didalam tanah atau dengan kata lain, unsur hara merupaka nutrisi yang terkandung di dalam tanah dan dibutuhkan oleh tanaman. Unsur Hara sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang tanaman. Berdasarkan tingkat kebutuhannya maka dapat di golongkan menjadi 2 bagian yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro.

Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah besar, yang termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca, S dan Mg. sedangkan unsur hara mikro adalah unsur hara dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah kecil / sedikit , yang termasuk unsur hara mikro adalah Fe, Cu, Zn, Mn, Mo, B, Na dan Cl. Kebutuhan unsur hara ini mutlak bagi setiap tanaman dan tidak bisa digantikan oleh unsur yang lain tentunya dengan kadar yang berbeda sesuai jenis tanamannya sebab jika kekurangan unsur hara akan menghambat pertumbuhan tanaman itu sendiri.

Seperti manusia, tanaman memerlukan makanan yang sering disebut hara tanaman. Berbeda dengan manusia yang menggunakan bahan organik, tanamana menggunakan bahan anorganik unruk mendapatkan energi dan pertumbuhannya. Dengan fotosintesis, tanaman mengumpulkan karbon yang ada di atmosfir yang kadarnya sangat rendah, ditambah air yang diubah menjadi bahan organik oleh klorofil dengan bantuan sinarmatahari. Unsur yang diserap untuk pertumbuhan dan metabolisme tanaman dinamakan hara tanaman. Mekanisme perubahan unsur hara menjadi senyawa organik atau energi disebut metabolsime. Dengan menggunakan hara, tanaman dapat memenuhi siklus hidupnya. Fungsi hara tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur lain dan apabila tidak terdapat suatu hara tanaman, maka kegiatan metabolisme akan terganggu atau berhenti sama sekali. Disamping itu umumnya tanaman yang kekurangan atau ketiadaan suatu unsur hara akan menampakkan gejala pada suatu orrgan tertentu yang spesifik yang biasa disebut gejala kekahatan. Unsur hara yang diperlukan tanaman adalah Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Seng (Zn), Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibden (Mo), Boron (B), Klor (Cl), Natrium (Na), Kobal (Co), dan Silikon (Si).

Unsur Na, Si, dan Co dianggap bukan unsur hara essensial, tetapi hampir selalu terdapat dalam tanaman. Misalnya, unsur Na pada tanaman di tanah garaman yang kadarnya relatif tinggi dan sering melebihi kadar P (Fosfor). Silikon (Si) pada tanaman padi dianggap penting walaupun tidak di perlukan dalam proses metabolsime tanaman. Jika tanaman padi mengandung Si yang cukup, maka tanaman tersebut lebih segar dan tidak mudah roboh diterpa angin sehingga seakan akan Si meningkatkan produksi tanaman. Berdasarkan jumlah yang di perlukan tanaman, Unsur hara di bagi menjadi dua golongan, yakni unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro dibutuhkan tanaman dan terdapat dalam jumlah yang lebih besar, di bandingkan dengan unsur hara mikro. Davidescu (1988) mengusulkan bahwa batas perbedaan unsur hara makro dan mikro adalah 0,02 % dan bila kurang disebut unsur hara mikro. Ada juga unsur hara yang tidak mempunyai fungsi pada tanaman, tetapi kadarnya cukup tinggi dalam tanaman dan tanaman yang hidup pada suatu tanah tertentu selalu mengandung unsur hara tersebut misalnya unsur hara Al (Almunium), Ni (Nikel) dan Fe (Besi). Berdasarkan sumber penyerapannya, unsur hara di pilahkan menjadi dua, yakni unsur hara yang di serap dari udara dan unsur hara yang diserap dari tanah.

• Diserap dari Udara
Unsur hara yang di serap dari udara adalah C, O, dan S, yaitu berasal dari CO2, O2, dan SO2, Penyerapan N baik dari udara maupun dari tanah diasimilasikan dalam proses reduksi dan aminasi. Nitrogen (N) udara diserap dari N2 bebas lewat bakteri bintil akar dan NH3 di serap lewat stomata tanaman.
• Diserap dari tanah
Penyerapan unsur hara dilakukan oleh akar tanaman dan diambil dari kompleks jerapan tanah ataupun dari larutan tanah berupa kation dan anion. Adapula yang dapat diserap dalam bentuk khelat yaitu ikatan kation logam dengan senyawa organik. Dewasa ini kebanyakan unsur hara mikro diberikan lewat daun.

Konsentrasi Unsur Hara

Penyerapan Unsur Hara

Unsur hara dapat tersedia disekitar akar melalui 3 mekanisme penyediaan unsur hara, yaitu: (1) aliran massa, (2) difusi, dan (3) intersepsi akar. Hara yang telah berada disekitar permukaan akar tersebut dapat diserap tanaman melalui dua proses, yaitu:
(1) Proses Aktif, yaitu: proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif atau proses penyerapan hara yang memerlukan adanya energi metabolik, dan
(2) Proses Selektif, yaitu: proses penyerapan unsur hara yang terjadi secara selektif.

Proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif dapat berlangsung apabila tersedia energi metabolik. Energi metabolik tersebut dihasilkan dari proses pernapasan akar tanaman. Selama proses pernapasan akar tanaman berlangsung akan dihasilkan energi metabolik dan energi ini mendorong berlangsungnya penyerapan unsur hara secara proses aktif. Apabila proses pernapasan akar tanaman berkurang akan menurunkan pula proses penyerapan unsur hara melalui proses aktif. Bagian akar tanaman yang paling aktif adalah bagian dekat ujung akar yang baru terbentuk dan rambut-rambut akar. Bagian akar ini merupakan bagian yang melakukan kegiatan respirasi (pernapasan) terbesar.

Bagian terluar dari sel akar tanaman terdiri dari: (1) dinding sel, (2) membran sel, (3) protoplasma. Dinding sel merupakan bagian sel yang tidak aktif. Bagian ini bersinggungan langsung dengan tanah. Sedangkan bagian dalam terdiri dari protoplasma yang bersifat aktif. Bagian ini dikelilingi oleh membran. Membran ini berkemampuan untuk melakukan seleksi unsur hara yang akan melaluinya. Proses penyerapan unsur hara yang melalui mekanisme seleksi yang terjadi pada membran disebut sebagai proses selektif. Proses selektif terhadap penyerapan unsur hara yang terjadi pada membran diperkirakan berlangsung melalui suatu carrier (pembawa). Carrier (pembawa) ini bersenyawa dengan ion (unsur) terpilih. Selanjutnya, ion (unsur) terpilih tersebut dibawa masuk ke dalam protoplasma dengan menembus membran sel. Mekanisme penyerapan ini berlangsung sebagai berikut:
1. Saat akar tanaman menyerap unsur hara dalam bentuk kation (K+, Ca2+, Mg2+, dan NH4+) maka dari akar akan dikeluarkan kation H+ dalam jumlah yang setara.
2. Saat akar tanaman menyerap unsur hara dalam bentuk anion (NO3-, H2PO4-, SO4-) maka dari akar akan dikeluarkan HCO3- dengan jumlah yang setara.

Mekanisme Penyerapan Unsur Hara

Penyediaan unsur hara untuk tanaman terdiri dari tiga kategori, yaitu: (1) tersedia dari udara, (2) tersedia dari air yang diserap akar tanaman, dan (3) tersedia dari tanah. Beberapa unsur hara yang tersedia dalam jumlah cukup dari udara adalah: (a) Karbon (C), dan (b) Oksigen (O), yaitu dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Unsur hara yang tersedia dari air (H2O) yang diserap adalah: hidrogen (H), karena oksigen dari molekul air mengalami proses oksidasi dan dibebaskan ke udara oleh tanaman dalam bentuk molekul oksigen (O2). Sedangkan untuk unsur hara essensial lain yang diperlukan tanaman tersedia dari dalam tanah. Mekanisme penyediaan unsur hara dalam tanah melalui tiga mekanisme, yaitu:

Aliran Massa

Mekanisme aliran massa adalah suatu mekanisme gerakan unsur hara di dalam tanah menuju ke permukaan akar bersama-sama dengan gerakan massa air. Selama masa hidup tanaman mengalami peristiwa penguapan air yang dikenal dengan peristiwa transpirasi. Selama proses transpirasi tanaman berlangsung, terjadi juga proses penyerapan air oleh akar tanaman. Pergerakan massa air ke akar tanaman akibat langsung dari serapan massa air oleh akar tanaman terikut juga terbawa unsur hara yang terkandung dalam air tersebut. Peristiwa tersedianya unsur hara yang terkandung dalam air ikut bersama gerakan massa air ke permukaan akar tanaman dikenal dengan Mekanisme Aliran Massa. Unsur hara yang ketersediaannya bagi tanaman melalui mekanisme ini meliputi: nitrogen (98,8%), kalsium (71,4%), belerang (95,0%), dan Mo (95,2%).

Difusi


Ketersediaan unsur hara ke permukaan akar tanaman, dapat juga terjadi karena melalui mekanisme perbedaan konsentrasi. Konsentrasi unsur hara pada permukaan akar tanaman lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi hara dalam larutan tanah dan konsentrasi unsur hara pada permukaan koloid liat serta pada permukaan koloid organik. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar unsur hara tersebut telah diserap oleh akar tanaman. Tingginya konsentrasi unsur hara pada ketiga posisi tersebut menyebabkan terjadinya peristiwa difusi dari unsur hara berkonsentrasi tinggi ke posisi permukaan akar tanaman. Peristiwa pergerakan unsur hara yang terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi unsur hara tersebut dikenal dengan mekanisme penyediaan hara secara difusi. Perbedaan konsenterasi tersebut terdiri dari aktif dan pasif. Beberapa unsur hara yang tersedia melalui mekanisme difusi ini, adalah: fosfor (90,9%) dan kalium (77,7%).

Intersepsi Akar

Mekanisme intersepsi akar sangat berbeda dengan kedua mekanisme sebelumnya. Kedua mekanisme sebelumnya menjelaskan pergerakan unsur hara menuju ke akar tanaman, sedangkan mekanisme ketiga ini menjelaskan gerakan akar tanaman yang memperpendek jarak dengan keberadaan unsur hara. Peristiwa ini terjadi karena akar tanaman tumbuh dan memanjang, sehingga memperluas jangkauan akar tersebut. Perpanjangan akar tersebut menjadikan permukaan akar lebih mendekati posisi dimana unsur hara berada, baik unsur hara yang berada dalam larutan tanah, permukaan koloid liat dan permukaan koloid organik. Mekanisme ketersediaan unsur hara tersebut dikenal sebagai mekanisme intersepsi akar. Unsur hara yang ketersediaannya sebagian besar melalui mekanisme ini adalah: kalsium (28,6%).

Selasa, 19 April 2011

TEKNIK ISOLASI MIKROBA

TEKNIK ISOLASI MIKROBA
1. Penanaman Jaringan
a. Teknik Penanaman Dari Suspensi
Teknik penanaman ini merupakan lajutan dari pengenceran bertingkat. Pengambilan suspensi dapat diambil dari pengenceran mana saja tapi biasanya untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni tunggal) diambil beberapa tabung pengenceran terakhir.
a.1 Spread Plate (agar tabur ulas)
Spread plate adalah teknik menanam dengan menyebarkan suspensi bakteri di permukaan agar diperoleh kultur murni. Adapun prosedur kerja yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
 Ambil suspensi cairan senamyak 0,1 ml dengan pipet ukur kemudian teteskan diatas permukaan agar yang telah memadat.
 Batang L atau batang drugal diambil kemudian disemprot alkohol dan dibakar diatas bunsen beberapa saat, kemudian didinginkan dan ditunggu beberapa detik.
 Kemudian disebarkan dengan menggosokannya pada permukaan agar supaya tetesan suspensi merata, penyebaran akan lebih efektif bila cawan ikut diputar.
 Hal yang perlu diingat bahwa batang L yang terlalu panas dapat menyebabkan sel-sel mikroorganisme dapat mati karena panas.


a.2. Pour Plate (agar tuang)
Teknik ini memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen. Adapun prosedur kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut :
 Siapkan cawan steril, tabung pengenceran yang akan ditanam dan media padat yang masih cair (>45oC)
 Teteskan 1 ml secara aseptis.suspensi sel kedalam cawan kosong
 Tuangkan media yang masih cair ke cawan kemudian putar cawan untuk menghomogenkan suspensi bakteri dan media, kemudian diinkubasi.
 Alasan diteteskannya bakteri sebanyak 0,1 ml untuk spread plate dan 1 ml untuk pour plate karena spread plate ditujukan untuk menumbuhkan dipermukaanya saja, sedangkan pour plate membutuhkan ruang yang lebih luas untuk penyebarannya sehingga diberikan lebih banyak dari pada spread plate.

2. Pengenceran
2.1. Teknik Preparasi Suspensi
Sampel yang telah diambil kemudian disuspensikan dalam akuades steril. Tujuan dari teknik ini pada prinsipnya adalah melarutkan atau melepaskan mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga lebih mudah penanganannya. Macam-macam preparsi bergantung kepada bentuk sampel :
a. Swab (ulas), dilakukan menggunakan cotton bud steril pada sampel yang memiliki permukaan luas dan pada umumnya sulit dipindahkan atau sesuatu pada benda tersebut. Contohnya adalah meja, batu, batang kayu dll. Caranya dengan mengusapkan cotton bud memutar sehingga seluruh permukaan kapas dari cotton bud kontak dengan permukaan sampel. Swab akan lebih baik jika cotton bud dicelupkan terlebih dahulu ke dalam larutan atraktan semisal pepton water.
b. Rinse (bilas) ditujukan untuk melarutkan sel-sel mikroba yang menempel pada permukaan substrat yang luas tapi relatif berukuran kecil, misalnya daun bunga dll. Rinse merupakan prosedur kerja dengan mencelupkan sampel ke dalam akuades dengan perbandingan 1 : 9 (w/v). Contohnya sampel daun diambil dan ditimbang 5 g kemudian dibilas dengan akuades 45 ml yang terdapat dalam beaker glass.

c. Maseration (pengancuran), sampel yang berbentuk padat dapat ditumbuk dengan mortar dan pestle sehingga mikroba yang ada dipermukaan atau di dalam dapat terlepas kemudian dilarutkan ke dalam air. Contoh sampelnya antar alain bakso, biji, buah dll. Perbandingan antar berat sampel dengan pengenceran pertama adalah 1 : 9 (w/v). Unutk sampel dari tanh tak perlu dimaserasi
2.2 Teknik Pengenceran Bertingkat


Tujuan dari pengenceran bertingkat yaitu memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Penentuan besarnya atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba dalam sampel. Digunakan perbandingan 1 : 9 untuk sampel dan pengenceran pertama dan selanjutnya, sehingga pengenceran berikutnya mengandung 1/10 sel mikroorganisma dari pengenceran sebelumnya.
Cara Kerja :
 Sampel yang mengandung bakteri dimasukan ke dalam tabung pengenceran pertama (1/10 atau 10-1) secara aseptis (dari preparasi suspensi). Perbandingan berat sampel dengan volume tabung pertama adalah 1 : 9 dan ingat akuades yang digunakan jika memakai teknik rinse dan swab sudah termasuk pengencer 10-1. Setelah sampel masuk lalu dilarutkan dengan mengocoknya (pengocokan yang benar dapat dilihat pada gambar disamping)
 Diambil 1 ml dari tabung 10-1 dengan pipet ukur kemudian dipindahkan ke tabung 10-2 secara aseptis kemudian dikocok dengan membenturkan tabung ke telapak tangan sampai homogen. Pemindahan dilanjutkan hingga tabung pengenceran terakhir dengan cara yang sama, hal yang perlu diingat bahwa pipet ukur yang digunakan harus selalu diganti, artinya setiap tingkat pengenceran digunakan pipet ukur steril yang berbeda/baru. Prinsipnya bahwa pipet tidak perlu diganti jika memindahkan cairan dari sumber yang sama.
3. Penggoresan
Bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan kultur ke dalam medium baru.
3.1 Goresan Sinambung
Cara kerja :
 Sentuhkan inokulum loop pada koloni dan gores secara kontinyu sampai setengah permukaan agar.
 Jangan pijarkan loop, lalu putar cawan 180oC lanjutkan goresan sampai habis.
 Goresan sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cawan atau medium baru.



3.2 Goresan T
Cara kerja :
 Bagi cawan menjadi 3 bagian menggunakan spidol marker
 Inokulasi daerah 1 dengan streak zig-zag
 Panaskan jarum inokulan dan tunggu dingin, kemudian lanjutkan streak zig-zag pada daerah 2 (streak pada gambar). Cawan diputar untuk memperoleh goresan yang sempurna
 Lakukan hal yang sama pada daerah 3


3.3 Goresan Kuadran (Streak quadrant)
Cara kerja :
Hampir sama dengan goresan T, namun berpola goresan yang berbeda yaitu dibagi empat. Daerah 1 merupakan goresan awal sehingga masih mengandung banyak sel mikroorganisma.Goresan selanjutnya dipotongkan atau disilangkan dari goresan pertama sehingga jumlah semakin sedikit dan akhirnya terpisah-pisah menjadi koloni tunggal.

Cara Kerja Isolasi Bakteri dari Sampel Tanah :
 Tanah seberat 1 g dimasukan ke dalam tabung pengenceran 10-1 secara aseptis dan selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat sampai 10-8
 Tiga pengenceran terakhir diambil 0,1 ml untuk ditanam secara spread plate pada medium NA, setelah selesai, diinkubasi pada 37oC selama 1x24 jam
 Koloni akan tumbuh pada ketiga cawan tersebut kemudian dipilih koloni yang relatif terpisah dari koloni lain dan koloni yang mudah dikenali
 Koloni yang terpilih kemudian ditumbuhkan atau dimurnikan ke NA baru dengan teknik streak kuadran
 Inkubasi 1x24 jam.

MOTOR BAKAR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Motor bakar adalah mesin atau pesawat yang menggunakan energi ternal untuk melakukan kerja mekanik, yaitu dengan cara merubah energi kimia dar bahan bakar menjadi energi panas, dan menggunakan energi tersebut melakukan kerja mekanik. Energi ternal diperoleh dari pembakaran bahan bakar pada mesin itu sendiri. Jika ditinjau dari cara memperoleh energi termal ini (proses pembakaran bahan bakar), maka motor bakar dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu: motor pembakaran luar dan motor pembakaran dalam.
Pada motor pembakaran luar ini, proses pembakaran bahan bakar terjadi di luar mesin itu, sehingga untuk melaksanakan pembakaran digunakan mesin tersendiri. Panas dari hasil pembakaran bahan bakar tidak langsung diubah menjadi tenaga gerak, tetapi terlebih dulu melalui media penghantar , baru kemudian diubah menjadi tenaga mekanik. Pada motor pembakaran dalam, proses pembakaran bahan bakar trjadi didalam mesin itu sendiri, sehingga panas dari hasil pembakaran langsung bisa diubah menjadi tenaga mekanik.
Prinsip kerja motor bakar yang menggunakan bensin yaitu bensin dibakar unuk meperoleh energi termal. Energi ini selanjutnya digunakan untuk melakukan gerakan mekanik. Prinsip kerja motor bakar yang menggunakan bensin, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut: campuran udara dan bensin dari karburator diisap masuk ke dalam silinder, dimampatkan oleh gerak naik torak, dibakar untuk memperoleh tenaga panas, yang mana dengna terbakarnya gas-gas akan mempertinggi suhu dan tekanan. Bila torak bergerak turun naik di dalam silinder dan menerima tekanan tinggi akibat pembakaran, maka suaut tenaga kerja pada torak memungkinkan torak terdorong kebawah. Bila batang torak dan poros engkol dilengkapi untuk merubah gerakan turun naik menjadi gerakan putar, torak akan menggerakkan batang torak dan yang mana ini akana memutarkan poros engkol. Dan jug diperlukan untuk membuang gas-gas sisa pembakaran dan penyediaan campuran udara bensin pada saat-saat yang tepat untuk menjaga agar torak dapat bergerak secara periodik dan melakukan kerja tetap.
Kerja periodik dalam silinder dimulai dari pemasukan campuran udara dan bensin ke dalam silinder, sampai pada kompresi, pembakaran dan pengeluaran gas-gas sisa pembakaran dari dalam silinder inilah yang disebut dengan siklus mesin. Pada motor bakar yang menggunakan bensin trdapat dua macam tipe yaitu: motor bakar 4 tak dan motor bakar 2 tak. Pada motor 4 tak, untuk melakukan satu siklus mesin memerlukan 4 gerakan atau dua kali putaran poros engkol, sedangkan pada motor bakar 2 tak untuk melakukan satu siklus mesin hanya memerlukan 2 gerakan torak atau 1 putaran poros engkol.


Berdasarkan uraian di atas maka perlu dibahas mengenai komponen-komponen motor bakar serta penggolongannya untuk mendapatkan informasi mengenai fungsi dari setiap komponen-komponen yang ada pada motor bakar.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan instruksional umum praktikum ini adalah mengetahui komponen-komponen dari motor bakar dan dapat membedakan prisip kerja motor bakar 4 tak serta motor bakar 2 tak.
Kegunaan dari praktikum ini adalah sebagai bahan informasi untuk mahasiswa dalam pengenalan motor bakar beserta komponen-komponen utama yang ada di dalamnya.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mesin diesel adalah sejenis mesin pembakaran dalam; lebih spesifik lagi, sebuah mesin pemicu kompresi, dimana bahan bakar dinyalakan oleh suhu tinggi gas yang dikompresi, dan bukan oleh alat berenergi lain (seperti busi). Mesin ini ditemukan pada tahun 1892 oleh Rudolf Diesel, yang menerima paten pada 23 Februari 1893. Diesel menginginkan sebuah mesin untuk dapat digunakan dengan berbagai macam bahan bakar termasuk debu batu bara. Dia mempertunjukkannya pada Exposition Universelle (Pameran Dunia) tahun 1900 dengan menggunakan minyak kacang (lihat biodiesel). Kemudian diperbaiki dan disempurnakan oleh Charles F. Kettering (Anonima,2009).
Motor diesel dikategorikan dalam motor bakar torak dan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) (simplenya biasanya disebut “mobor bakar” saja). Prosip kerja motor diesel adalah merubah energi kimia menjadi energi mekanis. Energi kimia di dapatkan melalui proses reakasi kimia (pembakaran) dari bahan bakar (solar) dan oksidiser (udara) di dalam silinder (ruang bakar). Pada motor diesel ruang bakarnya bisa terdiri dari satu atau lebih tergantung pada penggunaannya dan dalam satu silinder dapat terdiri dari satu atau dua torak. Pada umumnya dalam satu silinder motor diesel hanya memiliki satu torak (Sentanuhady, 2009).
Ketika udara dikompresi suhunya akan meningkat (seperti dinyatakan oleh Hukum Charles), mesin diesel menggunakan sifat ini untuk proses pembakaran. Udara disedot ke dalam ruang bakar mesin diesel dan dikompresi oleh piston yang merapat, jauh lebih tinggi dari rasio kompresi dari mesin bensin. Beberapa saat sebelum piston pada posisi Titik Mati Atas (TMA) atau BTDC (Before Top Dead Center), bahan bakar diesel disuntikan ke ruang bakar dalam tekanan tinggi melalui nozzle supaya bercampur dengan udara panas yang bertekanan tinggi. Penyemprotan bahan bakar yang langsung ke ruang bakar di atas piston dinamakan injeksi langsung (direct injection) sedangkan penyemprotan bahan bakar kedalam ruang khusus yang berhubungan langsung dengan ruang bakar utama dimana piston berada dinamakan injeksi tidak langsung (indirect injection). Ledakan tertutup ini menyebabkan gas dalam ruang pembakaran mengembang dengan cepat, mendorong piston ke bawah dan menghasilkan tenaga linear. Batang penghubung (connecting rod) menyalurkan gerakan ini ke crankshaft dan oleh crankshaft tenaga linear tadi diubah menjadi tenaga putar. Tenaga putar pada ujung poros crankshaft dimanfaatkan untuk berbagai keperluan (Anonimb, 2009).
Konstruksi karburator sepeda motor terlihat lebih complex, namun dengan sedikit teori, anda dapat mengatur/menyetel motor anda untuk mendapatkan kecepatan maksimum. Semua tipe karburator bekerja dibawah prinsip dasar tekanan atmosfeer. Tekanan atmosfer adalah sebuah gaya yg besar dimana gaya tersebut menggunakan tekanan terhadap sesuatu. Ada perbedaan yg tipis antara tekanan biasa dengan tekanan atmosfer namun secara umum bisa di katakan nilainya 15 pounds per square inch (PSI). Dengan berbedanya tekanan atmosfer di dalam mesin dan karburator, kita dapat merubah tekanan dan membuat bahan bakar serta udara mengalir kedalamnya (Anonimc, 2009).

Suatu motor bakar pengapian pembakarannya memerlukan waktu untuk kelangsungannya, dan oleh karena itu pembakaran dimulai dengan “mempercepat pengapian”. Selanjutnya terdapat kerugian tekanan sewaktu aliran melalui katup pada langkah hisap dan buang; torak harus melakukan kerja terhadap udara untuk mengeluarkannya, dan kerja ini lebih besar dari kerja yang dilakukan gas-gas dalam silinder terhadap torak selama langkah isap (Arismunandar, 1994).
Tekanan atmosfer akan bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yg lebih rendah. Sebagaimana yg terjadi pada piston di motor 2 tak yang bergerak naik (atau piston yg bergerak turun pada mesin 4 tak), sebuah tekanan yang lebih rendah terbentuk dalam crankcase (ruang bakar mesin) atau diatas kepala piston dalam motor 4 tak. Tekanan renda ini juga menyebabkan sebuah tekanan yang rendah di dalam karburator. Selama tekanan diluar mesin dan karburator lebih tinggi. Maka udara akan segera masuk/tertekan kedalam karburator dan mesin hingga tekanan didalamnya seimbang. Pergerakan udara melalui karburator akan mengangkat bahan bakar dan campurannya dengan udara dalam hal ini terjadi pengabutan (Anonimc, 2009).
Mesin atau motor bakar ( heat engine ) merupakan alat yang mengubah tenaga panas menjadi tenaga penggerak atau motor bakar torak merupakan mesin dengan pembakaran dalam atau Internal Combustion Engine (ICE) dimana pada saat sekarang ini masih banyak digunakan untuk berbagai keperluan terutama di bidang transportasi. Peranannya di bidang transportasi sangatlah besar, karena hampir semua kendaraan terutama yang beroperasi di darat menggunakan motor bakar torak sebagai penggeraknya (Anonima, 2009).
Mesin bensin adalah mesin yang bekerja dengan cara memasukan panas dari percikan bunga api listrik dari busi pada campuran udara dan bahan bakar yang dikompresikan. Mesin diesel adalah mesin yang bekerja dengan cara menginjeksikan bahan bakar pada udara yang telah dikompresikan sehingga memiliki tekanan dan temperature tinggi (Anonimb, 2009).
Perbedaan antara motor diesel dan motor bensin yang nyata adalah terletak pada proses pembakaran bahan bakar, pada motor bensin pembakaran bahan bakar terjadi karena adanya loncatan api listrik yang dihasilkan oleh dua elektroda busi (spark plug), sedangkan pada motor diesel pembakaran terjadi karena kenaikan temperatur campuran udara dan bahan bakar akibat kompresi torak hingga mencapai temperatur nyala. Karena prinsip penyalaan bahan bakarnya akibat tekanan maka motor diesel juga disebut compression ignition engine sedangkan motor bensin disebut spark ignition engine (Anonimc, 2009).
Suatu motor bakar pengapian pembakarannya memerlukan waktu untuk kelangsungannya, dan oleh karena itu pembakaran dimulai dengan “mempercepat pengapian”. Selanjutnya terdapat kerugian tekanan sewaktu aliran melalui katup pada langkah hisap dan buang; torak harus melakukan kerja terhadap udara untuk mengeluarkannya, dan kerja ini lebih besar dari kerja yang dilakukan gas-gas dalam silinder terhadap torak selama langkah isap (Arismunandar, 1994).

Antara mesin diesel dan mesin bensin memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Salah satu yang biasanya dirasakan adalah mesin bensin lebih responsif dibandingkan diesel. Sementara mesin diesel memiliki output momen (torsi) yang lebih baik daripada mesin bensin pada putaran yang sama. Dilihat dari konstruksinya, mesin diesel lebih besar dan berat daripada mesin bensin pada spesifikasi tenaga yang sama (Anonimc, 2009).


BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan Pada hari Sabtu, 30 Oktober 2009. Pukul 10.00 WITA sampai selesai di Laboratorium Mesin Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar.
3.2. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan pengenalan alat dan mesin pertanian pra dan pasca panen yaitu Motor Bakar dan Kamera.
Bahan yang digunakan dalam percobaan pengenalan alat dan mesin pertanian pra dan pasca panen yaitu alat tulis dan buku.
3.3. Prosedur Percobaan
- Setiap praktikan memperhatikan penjelasan mengenai motor bakar dan komponen-komponen yang ada di dalamnya dengan cara mengambil gambar mesin
- Kemudian mencatat deskripsi motor bakar tersebut.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil



Spesifikasi : Model EY28 D 7,5 / 4000273

4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka dapat diketahui motor bakar terdiri dari bebrapa komponen utama yaitu:
- Silinder
Silinder pada motor bakar dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu gerakan lurus dan gerakan berputar. Pada silinder yang bergerak lurus terbagi lagi menjadi dua yaitu silinder kerja tunggal dan silinder kerja ganda. Sedangakan pada silinder yang bergerak berputar juga terbagi menjadi dua yaitu motor udara dan akuator yang berputar.
Silinder kerja tunggal mempunyai seal piston tunggal yang dipasang pada sisi suplai udara bertekanan. Pembuangan udara pada sisi batang piston silinder dikeluarkan ke atmosfir melalui saluran pembuangan. Jika lubang pembuangan tidak diproteksi dengan sebuah penyaring akan memungkinkan masuknya partikel halus dari debu ke dalam silinder yang bisa merusak seal. Apabila lubang pembuangan ini tertutup akan membatasi atau menghentikan udara yang akan dibuang pada saat silinder gerakan keluar dan gerakan akan menjadi tersentak-sentak atau terhenti. Seal terbuat dari bahan yang fleksibel yang ditanamkan di dalam piston dari logam atau plastik. Selama bergerak permukaan seal bergeser dengan permukaan silinder.
Menurut konstruksinya silinder kerja tunggal dapat melaksanakan berbagai fungsi gerakan , seperti : menjepit benda kerja, pemotongan, pengeluaran, pengepresan, pemberian dan pengangkatan.
Konstruksi silinder kerja ganda adalah sama dengan silinder kerja tunggal, tetapi tidak mempunyai pegas pengembali. Silinder kerja ganda mempunyai dua saluran (saluran masukan dan saluran pembuangan). Silinder terdiri dari tabung silinder dan penutupnya, piston dengan seal, batang piston, bantalan, ring pengikis dan bagian penyambungan.
- Piston
piston adalah komponen mesin reciprocating, pompa dan kompresor gas. It is located in a cylinder and is made gas-tight by piston rings . Ini terletak di sebuah silinder dan terbuat gas-ketat oleh piston cincin. In an engine, its purpose is to transfer force from expanding gas in the cylinder to the crankshaft via a piston rod and/or connecting rod . Dalam sebuah mesin, tujuannya adalah untuk mentransfer gaya dari perluasan gas dalam silinder ke poros engkol melalui batang piston dan / atau menghubungkan batang. In a pump, the function is reversed and force is transferred from the crankshaft to the piston for the purpose of compressing or ejecting the fluid in the cylinder. Dalam sebuah pompa, fungsi dan kekuatan dibalik ditransfer dari crankshaft ke piston untuk tujuan penekanan atau mendepak yang cairan dalam silinder. In some engines, the piston also acts as a valve by covering and uncovering ports in the cylinder wall. Dalam beberapa mesin, piston juga bertindak sebagai katup dengan menutup dan mengungkap pelabuhan di dinding silinder.

Piston pada mesin juga dikenal dengan istilah torak adalah bagian (parts) dari mesin pembakaran dalam yang berfungsi sebagai penekan udara masuk dan penerima tekanan hasil pembakaran pada ruang bakar. Piston terhubung ke poros engkol (crankshaft,) melalui setang piston (connecting rod). Material piston umumnya terbuat dari bahan yang ringan dan tahan tekanan, misal aluminium yang sudah dicampur bahan tertentu (aluminium alloy).
- Karburator
Karburator adalah sebuah alat yang mencampur udara dan bahan bakar untuk sebuah mesin pembakaran dalam. Karburator dapat dikelompokan menurut arah aliran udara, barel dan tipe venturi. Tiap-tiap karburator mengkombinasikan ketiganya dalam desainnya.
Arah aliran udara
1. Aliran turun (downdraft), udara masuk dari bagian atas karburator lalu keluar melalui bagian bawah karburator.
2. Aliran datar (sidedraft), udara masuk dari sisi samping dan mengalir dengan arah mendatar lalu keluar lewat sisi sebelahnya.
3. Aliran naik (updraft), kebalikan dari aliran turun, udara masuk dari bawah lalu keluar melalui bagian atas.
Barel
Barel adalah saluran udara yang didalamnya terdapat venturi.
1. Single barel, hanya memiliki satu barel. Umumnya digunakan pada sepeda motor atau mobil dengan kapasitas mesin kecil.
2. Multi barel, memimiliki lebih dari satu barel (umumnya dua atau empat barel), untuk memenuhi kebutuhan akan aliran udara yang lebih besar terutama untuk mesin dengan kapasitas mesin yang besar.
Venturi
1. Venturi Tetap, pada tipe ini ukuran venturi selalu tetap. Pedal gas mengatur katup udara yang menentukan besarnya aliran udara yang melewati venturi sehigga menentukan besarnya tekanan untuk menarik bahan bakar.
2. Venturi bergerak, pada tipe ini pedal gas mengatur besarnya venturi dengan menggunakan piston yang dapat naik-turun sehingga membentuk celah venturi yang dapat berubah-ubah. Naik-turunnya piston venturi ini disertai dengan naik-turunnya needle jet yang mengatur besarnya bahan bakar yang dapat tertarik serta dengan aliran udara. Tipe ini disebut juga "tekanan tetap" karena tekanan udara sebelum memasuki venturi selalu sama.
Pada dasarnya karburator bekerja menggunakan Prinsip Bernoulli: semakin cepat udara bergerak maka semakin kecil tekanan statis-nya namun makin tinggi tekanan dinamis-nya. Pedal gas pada mobil sebenarnya tidak secara langsung mengendalikan besarnya aliran bahan bakar yang masuk kedalam ruang bakar. Pedal gas sebenarnya mengendalikan katup dalam karburator untuk menentukan besarnya aliran udara yang dapat masuk kedalam ruang bakar. Udara bergerak dalam karburator inilah yang memiliki tekanan untuk menarik serta bahan bakar masuk kedalam ruang bakar.
- Governor
Governor adalah komponen pada motor bakar yang berfungsi untuk mengontrol kecepatan enjin dengan cara mengendalikan jumlah bahan bakar yang diberikan sehingga kecepatan enjin dapat dipertahankan tetap stabil tanpa tergantung kondisi pembebanan. Sistem pengendalian dengan governor digunakan baik pada mesin stasioner maupun mesin otomotif seperti pada mobil dan traktor. Pada enjin modern seperti saat ini mekanisme governor umumnya menggunakan mekanisme mekanik-hidrolik (Woodward Governor), walaupun terdapat juga versi governor elektrik. Dalam hal ini, governor mengendalikan posisi tuas pengontrol bahan bakar yang dikombinasikan dengan aksi dari piston hidrolik dan gerakan bandul berputar. Posisi dari bandul ditentukan oleh kecepatan putaran dari enjin, jika kecepatan enjin naik atau turun maka bandul berputar mekar atau menguncup. Gerakan dari bandul ini, karena perubahan kecepatan enjin, akan menggerakkan piston kecil (pilot valve) pada sistem hidroliknya. Gerakan ini mengatur aliran cairan hidrolis ke piston hidrolis (piston motor servo). Piston motor servo dihubungkan dengan tuas pengatur bahan bakar (fuel rack) dan gerakannya akan menyebabkan penambahan atau pengurangan jatah bahan bakar yang disuply. Ada empat tipe pengontrolan enjin menggunakan governor. Pertama jika hanya satu kecepatan yang dikontrol maka digunakan tipe governor kecepatan tetap atau constant-speed type governor. Kedua, jika kecepatan enjin dapat di kendalikan beberapa tingkat secara manual pada melalui pengaturan menggunakan alat bantu, maka disebut tipe governor kecepatan variabel atau variable-speed type governor. Tipe ketiga ini adalah pengontrolan agar kecepatan enjin dapat dipertahankan diatas batas minimum atau di bawah batas maksimum, dan disebut governor pembatas kecepatan atau speed limiting type governor. Tipe pengontrolan keempat adalah tipe governor yang digunakan untuk membatasi beban enjin, dan disebut tipe governor pembatas beban atau load-limiting type governor.
- Roda Gila
Roda gila sering disebut juga roda gaya, roda penerus, adalah sebuah komponen berupa sebuah piringan yang dipasangkan pada flensa di ujung roda poros engkol. Bagian tepi roda gila biasanya memiliki cincin bergerigi untuk pertautan dengan roda gigi motor starter pada saat motor dihidupkan. Karena itu tanpa roda gila hampir tidak mungkin menghidupkan mesin. Kalaupun hidup, putaran mesin menjadi tidak teratur. Bobot yang dimiliki roda gila inilah yang menyebabkan putaran poros engkol mantap dan halus. Bobot roda gila pada mesin mobil penumpang berkisar 7.5-50 KG. Sirip pengimbang pada poros engkol sering dimanfaatkan untuk membuat putaran mesin menjado lebih merata. Beberapa merek mobil juga memakai mesin yang dilengkapi alat peredam getaran sehingga putaran mesin menjadi sangat halus. Bentuk peranti ini mirip roda gila, tetapi ukurannya lebih kecil dan dipasang diujung poros engkol bagian depan.

Roda gila dipasang kokoh pada ujung poros engkol sehingga tidak mudah bergeser dari dudukannya. Ini untuk menjamin agar roda gila, mesin , dan kode penyalaan tetap pada posisi yang benar. Selain itu, tepat ditengah roda gila ada lubang kecil. Bantalan peluru ini bertugas menahan ujung bagian depan poros kopling. Fungsi lain dari roda gila adalah sebagai tempat pemasangan kopling. Kopling terpasang pada roda gila berikut tempurung yang seputar sisi sekrupnya pada roda gila. Permukaan salah satu roda gila dibubut sangat halus. Jadi disamping sebagai alat untuk meneruskan atau menyalurkan tenaga dari mesin ke poros gardan melalui kopling.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum kali ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Motor bakar terdiri dari beberapa komponen utama yaitu silinder, piston, karburator, governor, dan roda gila.
2. Mesin empat tak adalah mesin pembakaran dalam yang dalam satu siklus pembakaran terjadi empat langkah piston.
3. Mesin dua tak adalah mesin pembakaran dalam yang dalam satu siklus pembakaran terjadi dua langkah piston, berbeda dengan putaran empat-tak yang mempunyai empat langkah piston dalam satu siklus pembakaran, meskipun keempat proses (intake, kompresi, tenaga, pembuangan) juga terjadi.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam praktikum motor bakar ini disediakan berbagai macam motor bakar dan komponen-komponen yang tersusun didalamnya secara terpisah, sehingga dapat terlihat lebih jelas.




DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2009. Mesin Diesel. http:// www. Wikipedia indonesia. Co.id.
1 November 2009. Makassar.

Anonimb. 2009. Proses Kerja Mesin Diesel. http://www. Indoskripsi.com.
1 November. 2009. Makassar.

Anonimc. 2009. Prinsip Kerja Karburator. http://willycar. wordpress. com/modifikasi- mesin- bikin- kenceng- malah- bbm- lebih- irit- stage –i i/. 2 November 2009. Makassar.

Arismunandar. 1994. Motor Bakar Torak. Pradnya Paramita: Jakarta.

Sentanuhady. 2009. Mechanization of Soil Tillage in the Tropics. 41-54.